Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Dalam Menentukan Hukum

0

Sebagaimana dimaklumi dari kaidah syar’i dan pemutusan perselisihan dalam hal ini hendaklah dengan merujuk kepada kitab yang Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah rasul-Nya sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala:

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59).

Allah berfirman:

Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (QS. Asy-Syura: 10).

Jika kita kembalikan masalah penyelenggaran maulid atau semacamnya ini kepada kitab Allah, maka kita dapati Al-Qur’an menyuruh kita mengikuti rasul shollaulohu alaihi wassalam dalam segala apa yang beliau bawa. Al-Qur’an pun memberi peringatan keras terhadap apa yang beliau larang, Al-Qur’an juga memberi informasi kepada kita bahwa Allah telah menyempurnakan agama untuk umat ini, yang wajib mereka anut. Sementara, acara maulid atau semacamnya bukanlah termasuk ajaran yang dibawa oleh rasulullah shollaulohu alaihi wassalam. Dengan demikian, berarti amalan ini di luar ajaran agama islam yang sudah Allah sempurnakan untuk kita dan Dia perintahkan kepada kita untuk mengikuti rasul shollaulohu alaihi wassalam dalam melaksanakannya.

Lalu, jika kita kembalikan hal ini kepada Sunnah rasulullah shollaulohu alaihi wassalam, maka kita pun tidak mendapati rasulullah shollaulohu alaihi wassalam melakukan atau memerintahkannya. Begitu pula para sahabat beliau –radhiallahu ‘anhum- tidak pernah melakukannya, dengan demikian kita ketahui dengan yakin bahwa penyelenggaraan maulid atau semacamnya bukanlah dari ajaran islam. Bahkan justru tergolong bid’ah yang diada-adakan, tergolong meniru secara buta kepada ahli kitab dari kalangan orang-orang Yahudi maupun Nasrani dalam upacara-upacara hari besar mereka.

Dari keterangan di atas jelaslah bagi orang yang memiliki pengetahuan walaupun sedikit, memiliki minat pada kebenaran serta memiliki sikap adil dan obyektif dalam mencari kebenaran. Bahwa penyelenggaraan hari lahir, dengan segala macamnya adalah di luar ajaran islam bahkan tergolong bid’ah yang kita diperintahkan Allah dan rasul-Nya untuk meninggalkan dan berhati-hati agar tidak terperosok di dalamnya.

Seyogyanya orang yang berakal sehat tidak terperdaya oleh banyaknya orang yang melakukannya di berbagai belahan bumi ini. Karena kebenaran tidaklah diketahui lantaran banyaknya orang yang melakukannya, akan tetapi ia dikenali hanya melalui dalil-dalil syar’i.

Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani:

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. Al-Baqarah: 111).

Allah berfirman:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS. Al-An’am: 116).

Sumber:

Kewajiban Berpegang Teguh Kepada As-Sunnah dan Waspada Terhadap Bid’ah; Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; Islamic Propagation Office In Rabwah.

 

Leave A Reply