Kemarahan Penguasa Lebih Ringan Dari Kemurkaan Allah Azza Wa Jalla

0

 

 
Di nukil dari kitab “Al-Aqdul Farid” karangan Ibnu Abdirabihi jilid 4/25, berikut salinan teksnya:
Pada suatu hari Jami’ al-Mahaaribi masuk pada Hajaj bin Yusuf – Jami’ al-Mahaaribi adalah seorang syaikh yang sholeh, penceramah ulung, cerdas dan berbudi pekerti, beliau adalah orang yang pernah mengatakan kepada alHajaj tatkala membangun kota Wasith, “Engkau membangunnya bukan di negeri asalmu, dan akan diwarisi oleh selain keturunanmu”.

Beliau menemui al-Hajaj, maka al-Hajaj mengeluh kepadanya tentang jeleknya perangai penduduk Iraq di mana mereka juga enggan untuk mentaatinya serta mengeluhkan buruknya pemikiran yang mereka miliki kepada beliau.
Syaikh Jami’ berkata kepadanya: “Adapun mereka seandainya mereka mencintaimu tentu mereka akan mentaati dirimu, bersamaan dengan itu apa urusan mereka dengan dirimu, engkau tidak ada ikatan nasab dengan mereka, begitu juga ini bukan negerimu, tidak pula membuat engkau merasa tenang. Buang jauh-jauh dari pikiranmu yang membuat mereka malah bertambah jauh darimu lalu berpikirlah agar mereka bisa dekat denganmu, jadilah orang yang suka memaafkan kepada orang yang lebih rendah darimu maka orang yang di atasmu akan membalasnya, dan hendaklah ancaman itu selaras dengan (perkaranya), dan berilah mereka janji yang baik”.
Maka al-Hajaj menimpalinya: “Saya tidak ada pilihan lain supaya Bani al-Lukai’ah kembali mentaatiku melainkan dengan menggunakan pedangku ini”.
Di jawab oleh syaikh Jami’: “Sesungguhnya jika pedang sudah bertemu dengan pedang, maka tidak ada lagi pilihan”.
Berkata al-Hajaj: “Pilihan pada waktu itu diserahkan kepada Allah Ta’ala”.
Beliau menjawab: “Benar perkataanmu, namun kamu tidak tahu pada siapa Allah akan menjatuhkan pilihanya”.
Al-Hajaj menukas perkataan beliau: “Sungguh dirimu termasuk orang yang pandai berperang, bukankah begitu”.
Beliau lantas menjawab dengan untaian bait syair:
Al-Harb itulah nama kami, dan kami orang yang pandai berperang
Jika kami berperang tentu dengan sebab yang benar
Al-Hajaj berkata: “Demi Allah, sungguh saya berkeinginan untuk mencabut lidahmu lalu saya pukul wajahmu”.
Syaikh Jami’ menjawab: “Jika kami berkata jujur kami membuat kamu marah, namun jika kami berpura-pura dan membuat kamu senang maka kami telah membuat Allah murka, dan kemarahan pemimpin itu lebih ringan dari pada kemurkaan Allah Azza wa jalla”.
Al-Hajaj mengatakan: “Benar (apa yang kamu katakan)”, kemudian beliau pun diam.                    
Sumber; Mutiara Salaf, Divisi Ilmiah Darul Wathan

 

Leave A Reply