Kelemahan Hadits Muadz Tentang Ra’yu

0

Isi hadits tersebut adalah :

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada Mu’adz ketika mengutusnya ke Yaman :

“Dengan apa kamu akan berhukum?” Muadz berkata : “Dengan Kitabullah.” “Jika engkau tidak dapati?” Dijawab  : “Dengan sunnah.” “Jika tidak engkau dapati dalam sunnah (hadits) Rasulullah?” Muadz menjawab : “Aku akan berijtihad dengan ra’yu dan aku akan berusaha keras.” Maka Rasulullah berkata : “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah kepada perkara yang dicintainya.”

Tentang kelemahan sanadnya, tidak layak untuk dibahas sekarang. Aku telah membahasnya dengan penjelasan yang memadai dan aku kira belum ada yang mendahuluiku dalam hal tersebut. Anda bisa melihatnya dalam Silsilah Hadits Dlaif : 885. Cukup bagiku dalam kesempatan ini dengan menyebutkan perkataan Amirul Mukminin dalam masalah hadits yaitu Imam Bukhari rahimahullah, beliau berkata tentang hadits ini : “Hadits mungkar.”

Setelah itu layak bagiku untuk menjelaskan pertentangan yang telah aku isyaratkan di atas.

Aku katakan : “Hadits Muadz memberikan manhaj bagi seorang hakim dalam mengambil hukum dengan tiga marhalah (Al Qur’an, As Sunnah, dan ra’yu), tidak boleh mencari hukum dengan ra’yu kecuali hukum tersebut tidak ditemukan di dalam As Sunnah. Dan tidak boleh berhukum dengan As Sunnah kecuali tidak ditemukan dalam Al Qur’an.

Manhaj seperti ini jika dilihat dari masalah ra’yu adalah benar menurut seluruh para ulama. Mereka berkata : “Jika telah ada atsar batallah nadhar (penyelidikan).” Tetapi manhaj ini jika dilihat dari sisi sunnah tidaklah benar karena sunnah adalah hakim atas Al Qur’an. Maka wajib membahas dan mencari hukum dalam As Sunnah walaupun disangka hukum tersebut terdapat dalam Al Qur’an. Kedudukan As Sunnah dengan Al Qur’an berbeda dengan kedudukan ra’yu dan As Sunnah, tidak sekali lagi tidak! Tetapi wajib menganggap Al Qur’an dan As Sunnah sebagai satu sumber yang tidak bisa dipisahkan selamanya, sebagaimana telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Ketahuilah aku diberi Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya (yakni As Sunnah).” Dan sabdanya : “Keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya menemuiku di telaga.”

Dikutip dari; Kedudukan As-Sunnah Dalam Islam dan Penjelasan Sesatnya Ingkarus Sunnah, Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan, Maktabah As-Sunnah

Leave A Reply