Kegagalan Kerajaan-Kerajaan Pesisir Jawa Dalam Perangnya Melawan Bangsa Asing, Untuk Memperebutkan Perdagangan Yang Menguntungkan Dengan Daerah Seberang

0

Lalu lintas perdagangan antarbangsa lewat laut yang menyinggahi pantai utara Jawa sejak dahulu kala merupakan sumber pendapatan yang penting bagi kota-kota pelabuhan di daerah Pesisir. Hal yang demikian itu khususnya berlangsung di tempat-tempat dan ketika penduduk Jawa (yang tidak jarang berdarah campuran) dapat ikut serta dalam perdagangan itu dengan mempergunakan perahu mereka sendiri. Pada abad ke-15 (dan mungkin juga sebelumnya) mereka sudah mampu berbuat demikian. Perdagangan laut yang banyak membawa untung itu ternyata berkaitan dengan penyebaran agama Islam di kalangan pelaut dan pedagang pada masa itu.

Kemakmuran (setidak-tidaknya pada tingkat para penguasa) di kota-kota pelabuhan Jawa pada abad ke-16 bertumpu pada lalu lintas perdagangan. Daerah pedalaman, asal tidak terlalu sukar dicapai, berkaitan dengan perdagangan itu sebagai penghasil bahan (terutama padi) yang sangat laku di kota-kota pelabuhan. Para penguasa di pedalaman mendapat kesempatan menarik keuntungan dari lalu lintas barang perdagangan ke pantai ini.

Pelayaran dagang Portugis, yang menyusup masuk ke wilayah Asia Tenggara sejak permulaan abad ke-16, telah merugikan kemakmuran kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa, sekalipun sedikit demi sedikit. Hilangnya kapal-kapal laut besar dan mahal yang tidak sedikit jumlahnya – akibat usaha yang gagal untuk membebaskan Malaka dan orang Portugis – sukar ditebus, karena galangan kapal yang besar-besar tidak ada di Jawa, melainkan di Pegu, Asia Tenggara.

Pada paruh kedua abad ke-16 kerajaan-kerajaan sepanjang pantai utara, yang kemakmurannya tergantung pada perdagangan laut, telah menanggung kerugian berat karena kericuhan politik di dalam negeri, dan serangan berkali-kali dari orang-orang Jawa pedalaman yang haus akan barang rampasan perang, juga karena pukulan di bidang perdagangan tadi. Para penguasa di kota-kota pelabuhan, sekalipun sudah berusaha keras, akhirnya tidak dapat juga bertahan menghadapi pasukan-pasukan Mataram; pasukan itu dikirim dari markas yang strategis dan kuat di pedalaman ke kota-kota pelabuhan untuk menghadapi musuh satu demi satu. Selama perang berlangsung, perdagangan semakin mundur. Sesudah direbut dan dirampas kekayaannya, kota-kota pelabuhan tersebut biasanya diperintah oleh seorang bupati yang ditunjuk oleh raja Mataram. Pasti sukar bagi orang-orang itu – mungkin dari kalangan militer – untuk menghidupkan kembali perdagangan dan dunia usaha di daerah yang hancur tersebut.

Pada abad ke-17 (yang tidak dibicarakan dalam buku ini) kerajaan-kerajaan Pesisir Jawa telah kehilangan kemerdekaannya, mula-mula karena dikuasai raja-raja Mataram, kemudian karena diperintah oleh Kompeni di Betawi. Tetapi kenang-kenangan akan masa jaya peradaban Pesisir pada abad ke-16 masih tetap ada.

Dikutip dari; Kerajaan Islam Jawa; DR. HJ. DE GRAAF; Grafiti Pers.

Leave A Reply