KEDUDUKAN AS SUNNAH DALAM SYARI’AT ISLAM

0

 

Oleh : Abu Ahmad Al-Fauzi

A.   AS SUNNAH SEJAJAR DENGAN AL QUR’AN

Allah I  telah memilih Muhammad r  menjadi nabi-Nya, memuliakannya dengan risalah-Nya, menurunkan kepadanya Al Kitab (Al Qur’an Al Karim) yang di dalamnya mengandung perintah kepada beliau untuk menjelaskannya kepada ummat manusia.

Allah I  berfirman:
“….dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau jelaskan kepada ummat manusia apa yang diturunkan kepada mereka…”  Qs. An Nahl [16]:44
Al bayan (penjelasan) dalam ayat di atas ada dua macam, yaitu:
1.    Penjelasa lafadz dan susunannya yaitu menyampaikan Al Qur’an dan tidak menyembunyikannya serta menyampaikannya kepada ummat sebagaimana yang diturunkan oleh Allah I ke dalam hati beliau.
Allah I berfirman:
     “Hai Rosul,sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…”[Qs. Al Maidah [5]:67]
‘Aisyah berkata:
     “Barang siapa yang memberitahu kepada kalian bahwa Rosul e menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan,maka berarti ia telah melakukan kedustaan yang sangat besar .”Kemudian beliau membaca ayat di atas.
Dalam riwayat Muslim:
Seandainya Rosulullah e menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan,niscaya beliau akan menyembunyikan Firman Allah I .Dan (ingatlah)ketika kamu berkata kepada orang yang Allah I    telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga)telah memberi nikmat kepadanya:Tahanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah,sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya,dan kamu takut kepada manusia,sedangkan Allah I yang lebih berhak untuk kamu takuti….”{Qs. Al Ahzab[33]:37}
2.    Penjelasan makna lafadz,baik secara global maupun hanya satu ayat saja.Hal ini banyak dijumpai dalam kandungan ayat-ayat yang global,umum maupun mutlak,maka akan dijelaskan oleh sunnah dengan merinci yang global,mengkhususkan yang umum dan membatasi yang mutlak.Hal itu telah dijelaskan melalui sabda,perbuatan maupun taqrir beliau e.
B.   PENTINGNYA AS SUNNAH DALAM MEMAHAMI AL QUR’AN DAN CONTOH-CONTOHNYA.
Allah I berfirman:
“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri,potonglah kedua tangannya…” Qs.Al Maidah [5]:38
Ayat tersebut merupakan contoh yang cukup baik dalam masalah ini.Kata pencuri dalam ayat di atas bersifat mutlaq,(tidak terikat satu sifat),demikian juga kata tangan.Maka,as sunnah memberikan penjelasan berupa pengikatan sifat pencuri yaitu orang yang mencuri seharga seperempat (¼)  dinar,berdasarkan sabda Nabi e:
      “Tidak ada pemotongan tangan kecuali mencapai seperempat dinar atau lebih” HR.Bukhori dan Muslim.
Begitu pula,penjelasan yang berupa perbuatan beliau dan para shahabatnya serta taqrir beliau yang memotong (pergelangan)tangan pencuri,sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab hadist.
Di samping itu,as sunnah pun telah menjelaskan kata tangan dalam ayat tayammum dengan telapak tangan.
Allah I berfirman:
“….maka basuhlah mukamu dan tanganmu…” Qs Al Maidah[5]:6
Rosulullah e bersabda:
“Tayammum adalah satu tepukan wajah dan dua telapak tangan”  HR.Ahmad,Bukhori,Muslim dan lain-lain dari hadist Ammar bin Yasir.
Di bawah ini banyak pula contoh ayat-ayat yang tidak mungkin dapat dipahami secara benar sesuai dengan kehendak Alla I kecuali melalui jalan (penjelasan) as sunnah.
1.    Allah I berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka  dengan kedzaliman (syirik),mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Qs.Al An’am {6}:82]
      Para shahabat memahami kata (…./kedholiman)secara umum yang mencakup berbagai macam jenis kedholiman sekalipun kecil,untuk itulah mereka mempersoalkam ayat tersebut:Ya Rosulullah,siapakah di antara kami yang imannya tidak tercampur dengan satu kedzaliman pun? Maka,Rosulullah r bersabda:
  “Bukan itu maksudnya .Kedzaliman dalam ayat itu adalah syirik,Tidaklah kalian mendengar perkataan Luqman: “………”[Qs.Luqman [311:13]:Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar) HR.Bukhori,Muslimin dan lain-lain.
2. Allah I berfirman:                     
      “Dan apabila kamu berpergian di muka bumi,maka tidaklah mengapa kamu mengqoshor  (sholat),jika kamu takut diserang orang-orang kafir….”  {Qs.An Nisaa’ [4]:101}
Dzahir ayat ini menentukan bahwa mengqoshor sholat di waktu safar disyaratkan dalam keadaan takut.Untuk itu para shahabat bertanya kepada Rosulullah r :Bagamana kita tetap mengqoshor padahal kita dalam keadaan aman? Beliau bersabda:
      “Itu adalah sebuah shodaqoh yang diberikan oleh Allah untuk kalian,maka terimalah s hodaqoh-Nya itu. HR.Muslim.
3.    Allah I berfirman:
“…diharamkan bagimu {memakan}bangkai dan darah….” Qs. Al Maidah:3
As sunnah menjelaskan bahwa bangkai belalang dan ikan serta darah limpah dan hati adalah halal.
Rosulullah r bersabda:
  “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah: Bangkai balalang dan ikan serta hati dan limpa  HR.Baihaqi dan lain-lain secaara marfu’ dan mauquf.Isnad mauquf shohih yang menempati hukum marfu’,karena tidak diucapkan dari ro’yunya semata.
4.    Allah I berfirman:
            “Katakanlah:Tiada aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku,sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi.Karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembeli atas nama selain Allah I .” [Qs.Al An’am {6}145]
            As sunnah memberikan nilai haram kepada sesuatu yang tidak disebutkan dalam ayat ini.
        Rosulullah r bersabda:
            “Setiap binatang uas yang bertaring dan setiap burung yang berkuku tajam (bercakar) adalah haram.
         Rosulullah r bersabda:
            “Sesungguhnya Allah I dan Rosul-Nya telah melarang kalian memakan himar yang jinak karena dia itu kotor. HR.Bokhori dan Muslim
5.Allah I berfirman:
            “Katakanlah:Siapa yang mengharamkan perhiasan dari Allah I yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan)rezki yang baik ?” Qs.Al A’raaf[7]:32.
            As sunnah menjelaskan bahwa diantara perhiasan,ada pula yang diharamkan.Pada suatu hari Nabi r keluar menemui para shahabatnya dan diantara mereka ada yang memakai sutera dan di dalam riwayat yang lain adapula yang memakai emas,maka beliau bersabda:
            “Kedua barang ini haram untuk kaum laki-laki umatku dan halal untuk kaum wanitanya. HR.Hakim dan dishohihkannya.
            Hadist-hadist dalam masalah ini banyak sekali,baik yang tercantum di dalam kitab Bukhori dan Muslim atau di dalam kitab-kitab hadist yang lainnya.
            Dari uraian dan contoh-contoh tersebut,tampak jelas bagi kita betapa pentingnya kedudukan as sunnah dalam syari’at Islam.Apabila kita meninjau ulang uraian dan contoh-contoh lain yang belum disebutkan,maka kita semakin yakin bahwasanya tidak ada jalan lain untuk memahami al Qur’an al karim dengan pemahaman yang benar kecuali diiringi dengan sunnah.
            Di dalam contoh yang pertama para shahabat memahami kata (…./kedzaliman) dalam ayat tersebut secara dhohir,padahal mereka adalah-sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Mas’ud t :Seutama-utama umat ini,paling baik hatinya,paling dalam ilmunya dan paling sedikit bebanya,akan tetapi merekapun salah dalam memahaminya.Seandainya Nabi r tidak meluruskan mereka dari kesalahan serta tidak berusaha memberikan petunjuk bahwa makna yang benar dari kata kedzaliman tersebut adalah syirik,maka kita pasti mengikuti mereka dalam kesalahan.Akan tetapi Allah I menjaga kita dari hal tersebut dengan keutamaan petunjuk dan sunnah Nabi r .
            Pada contoh kedua digambarkan seandainya tidak ada hadist tersebut,niscaya sekurang-kurangnya kita terus berada dalam keraguan tentang mengqoshor sholat di saat perjalanan dalam keadaan aman jika kita berpendapat disyaratkannya situasi takut sebagaimana zhahir ayat,sebagaimana yang di fahami oleh para shahabat jika mereka tidak melihat Rosulullah r mengqoshor dan merekapun mengqoshor bersamanya dalam keadaan aman.
            Pada contoh ketiga digambarkan seandainya tidak ada hadist tersebut,niscaya kita akan mengharamkan makanan-makanan  baik yang dihalalkan bagi kita yaitu belalang,ikan,hati dan limpa.
            Pada contoh keempat digambarkan seandainya tidak ada hadist-hadist tersebut,niscaya kita akan menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah I kepada kita melalui lisan Nabi r berupa binatang buas dan burung yang berkuku tajam.
            Begitu pula denga contoh kelima,seandainya tidak ada hadist-hadist tersebut,niscaya kita menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah I melalui lisan Rosul-Nya r berupa emas dan sutra bagi kaum laki-laki.
            Sebagian salaf berkata:
                                               
            “As sunnah adalah qodhi (pemutus dalam menjelaskan) terhadap al kitab.”

C.   KESESATAN PENGINGKAR SUNNAH

Sangat disayangkan dan sungguh memperhatinkan bahwa sebagian ahli tafsir dan para penulis modern ada yang berpendapat dibolehkannya memakan binatang buas serta memakai emas dan sutera karena berpegang teguh pada al qur-an saja.Bahkan,di zaman sekarang terdapat satu kelompok yang menamakan diri al qur’aniyyun (              ) atau inkarussunnah yang menafsirkan al Qur-an dengan hawa nafsu dan akal mereka sendiri tanpa membutuhkan as sunnah yang sholeh.Bahkan as sunnah menurut mereka harus mengikuti hawa nafsu.Apa saja yang sesuai dengan hawa nafsu mereka,maka mereka terima dan apa saja yang tidak sesuai dengannya,mereka buang jauh-jauh.Seakan merekalah yang pernah disinyalir oleh Nabi r dalam sabdanya:
“Salah seorang di antara kalian akan menjumpai seseorang yang sedang duduk di singgasananya,kemudian datang snnahku kepadanya,maka dia berkata:Aku tidak tahu! Semua yang kami dapatkan dalam al qur’an itulah yang kami ikuti. HR.Turmudzi
      Hadist shohih ini dan hadist-hadist shohih lainnya menunjukkan secara qoth’i bahwa syare’at Islam bukan al qur’an saja,akan tetapi al qur-an dan as sunnah.Barang siapa yang berpegang pada salah satu dari keduanya,maka dia belum berpegang teguh dengan hal tersebut.Karena masing-masing dari keduanya selalu memerintahkan untuk berpegang teguh dengan yang lainnya.
Allah I berfirman:
“Barang siapa yang menta’ati Rosul itu,sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Qs.An Nisa’[4]:80.
Allah I berfirman:
“Maka demi Tuhanmu,mereka(pada hakekatnya)tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,dan mereka menerima dengan sepenuhnya. Qs.An Nisaa’[4]:65.
Allah I berfirman:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula)bagi perempuan yang mukminah apabila Allah I  dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah I dan Rosul-Nya maka sungguhlah dia telah tersesatdengan kesesatan yang nyata.” Qs.Al Ahzab[33]:36.
Allah I berfirmsn:
“..apa yang diberikan Rosul kepadamu,maka terimalah dia.Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah.” Qs. Hasyr[59]:7
      Dalam kaitan ini,sangat menakjubkan  kisah Ibnu Mas’ud t ketika seorang wanita mendatanginya dan berkata:”Engkaukah yang mengatakan Allah I melaknat wanita yang mencabut alisnya dan yang meminta dicukurkan alisnya serta wanita yang mentato…?” Beliau menjawab:”Betul”. Lalu wanita itu berkata:”Jika engkau membaca kitabullah dari awal hingga akhir,akan tetapi aku tidak menemukanya,bukankah engkau membaca : (“…apa yang diberikan Rosul kepadamu,maka terimalah dia .Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah.” Qs.Al Hasyr:7.Wanita itu menjawab:”Ya” Lalu Ibnu Mas’ud t berkata:Aku mendengar Rosulullah r  bersabda:   
“Allah I melaknat wanita yang mencabut alisnya…”HR.Bukhori dan Muslim.

D.   KEAHLIAN BAHASA TIDAK CUKUP UNTUK MEMAHAMI AL QUR’AN

Dari pembahasan yang lalu tampak jelas bahwa tidak ada celah sedikitpun bagi orang yang sepandai apapun dalam bahasa arab untuk memahami al Qur’an al Karim tanpa bantuan as sunnah,baik yang bersifat perkataan maupun perbuatan.Karena tidak ada satu orangpun yang lebih mengetahui bahasa Arab dibandingkan para shahbat Nabi r yang dengan bahasa merekalah al Qur’an diturunkan tanpa tercampur dengan bahasa asing,bahasa ‘amiyyah,awam dan penuh kesalahan.
            Sesuatu yang sudah pasti adalah bahwa orang yang pandai tentang as sunnah adalah orang yang lebih pantas untuk memahami al Qur’an dan mengistimbathkan hukum-hukumnya daripada orang yang jahil tentangnya.Maka bagaimana dengan orang yang tidak ahli dengan as sunnah dan tidak peduli sedikitpun dengannyaq? Oleh karana itu,sudah merupakan kaidah yang telah disepakati oleh para Ulama’ bahwa al qur’an ditafsirkan dengan al qur’an,as sunnah,kemudian pendapat para shahabat dan seterusnya.
            Dari sini tampak jelas bagi kita tentang sebab sesatnya para tokoh filsafatt.(baik yang terdahulu maupun yang modern) seta mnyimpangnya mereka dari manhaj salafus sholeh dalam aqidah mereka,terlebih dalam hukum-hukum, mereka yaitu jauhnya mereka dari snnah dan upaya mengenalnya sertamenjadikan akal-akal dan hawa nafsu mereka sebagai hakim dalam memahami ayat-ayat sifat dan lainnya.Alangkah indahnya apa yang di ungkapkan oleh penyusun syarah al ‘Aqidah at Thohawiyyah:
                        “Bagaimana mungkin dapat berbicara tentang Ushuluddin orang yang tidak memahami agamanya dari al qur’an da as sunnah dan hanya menerimanya dari kata si fulan dan si fulan? Dan apabila ia mendasarkannya hanya kepada al qur’an saja tidak butuh kepada tafsirnya yang bersumber dari hadist-hadist Rosul e ataupun pendapat para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya mereka dengan baik yang sampai kepada kita secara shohih maka dia adalah orang yang mendasarkannya hanya kepasa pendapatnya semata.Dan barang siapa yang berbicara masalah agama dengan pendapat yang dianggap sebagai sumberhukum beragama dengan tidak mendasarkannya kepada al Kitab,maka dia adalah orang yang berdosa meskipun pendapatnya benar dan sesuai dengan al Kitab.Dan barangsiapa yang mendasarkannya kepada al Kitab dan as sunnah,maka dia akan mendapat pahala walaupun dia berbuat salah.Dan apabila benar maka dia akan mendapatkan pahala yang berlipat.”
            Kemudian di halamam 217 beliau berkata:
            “Hal yang wajib adalah menyempurnakan taslim (penyerahan secara total)kepada Rosulullah e mengikuti perintahnya dan menerima kabar beritanya dengan yakin tanpa membandingkannya dengan khayalan bathil yang sering di sebut dengan istilah akal atau daya nalar.Atau disodorkan terlebih dahulu kepada suatu syubhat atau keragu-raguan.Atau dicocokkan terdaulu dengan pendapat seseorang .Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memberikan totalitas hukum kepada Allah I yang mengutus beliau,dengan,beribadah,patuh,tunduk,dan tawakkal hanya kepada-Nya semata.”

E.    SECARA RINGKAS

Kewajiban seluruh kaum muslimin adalah agar tidak membeda-bedakan antara al qur’an dan as Sunnah dari sisi wajibnya mengambil keduanya sebagai sandaran hukum syari’at.Hal ini berarti jika mereka telah mengambil keduanya,maka tidak usah lagi mencari sumber lainnya dan tidak mundur ke belakang dala kesesatan denga mencari sumber lain selain keduanya.
      Rosulullah e bersabda:
“Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang apabila kalian pegang keduanya niscaya kalian tiak akan sesat selama-lamanya yaitu:Al Qur’an dan as Sunnah .Dan keduanya tidak akan terpisah hingga ke hadapanku di hari kiamat kelak. HR.Malik dan al Hakim.

 

Leave A Reply