JAUH DARI MENIPU, BERPURA-PURA DAN INGKAR JANJI

0

Seorang muslim yang jujur dan memiliki martabat yang tinggi selalu menjauhi sikap pura-pura penuh dengan kepalsuan, penipuan dan ingkar janji. Sikap tersebut merupakan realisasi dari kejujuran, berupa nasihat, kemurnian, sikap pertengahan dan kesetiaan; jauh dari kepalsuan, tipu daya, kelicikan dan ketidakadilan. Ia selalu merasa gemetar untuk melakukan tindakan yang hanya akan memancing murka Allah itu.

Rasulullah menegaskan di dalam sabdanya:

“Barang siapa mengangkat seniata melawan kami, bukanlah termaiuk gotctngai kami. Barangsiapa berlaku curang terhadap kami, bukanlah termasuk golongan kami”‘ (HR Muslim)

Di dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan bahwa Rasulullah SAW melewati seonggok makanan dan beliau memasukkan tangan ke daam makanan itu sehingga jari-jari tangannya basah. Maka beliau bertanya kepada pemilik makanan itu: “Apa gerangan ini, wahai pemilik makanan?” Pemilik itu menjawab: “Terkena hujan, ya Rasulullah.” Maka berkata Rasulullah: “Tidakkah kau sengaja mencampurkan sesuatu pada makanan itu sehingga orang-orang yang rnelihatnya akan tertarik? Barangsiapa menipu kami, bukanlah termasuk golongan kami.”

Sesungguhnya masyarakat muslim terbentuk dan tumbuh subur atas dasar cinta; sikap rnengutamakan nasihat dan senantiasa mementingkan kejujuran, kebijakan dan kesetiaan. Tidak ada tempat di dalamnya untuk tumbuh suburnya tipu daya, kepalsuan, ketidakadilan dan janji-janji palsu.

Nabi SAW benar-benar mengecam sifat palsu, tipu-menipu dan mempermainkan janji. Beliau tidak pernah berhenti untuk menyingkirkan sikap zalim itu berikut pelakunya, melemparkannya jauh-jauh dari masyarakat kaum muslimin sebagai hukuman di dunia, bahkan beliau mengancam bahwa di hari kiamat mereka dijanjikan siksa yang menghinakan. Mereka, yang menyepelekan janjinya di dunia, pada hari itu akan membawa bendera besar bertuliskan hutang janjinya. Beliau SAW bersabda:

“Setiap orang yang hutang ianji akan menyandang sebuah bendera besar di hari kiamat, sambil berkata: inilah hutang janji si fulan …” (HR Muttafaq alaih)

Di hari pembalasan itu akan diketahui sepenuhnya siapa saja yang mempunyai hutang janji dan kepada siapa mereka berhutang janji. Mereka sendiri menjadi saksi, merasakan kehinaan dan malu karena segala kejahatannya dibeberkan di hadapan semua mahluk. rasa malu dan hina itu bertambah besar ketika mereka menghadap Nabi SAW, manusia tempat berharap untuk memperoleh syafaat pada hari yang mencekam itu, Ketika beliau menolak memberikan syafaat karena mereka memikul kesalahan besar dan berat berupa hutang janji yang merupakan hijab atau penghalang dari rahmat Allah. Syafaat Rasulullah pun terhalang dan haram bagi mereka. Karena janji-janji yang telah mereka sepelekan di dunia tersebut. Sabda Nabi SAW:

‘Ada tiga perkara yang menyebabkan aku menolak mereka di hari kiamat: seseorang yang memberikan janji denganku kemudian mengkhinianati; seseorang meniual orang merdeka kemudian memakan hasil penjualannya; dan seseorang yang berkewaiiban memberikan upah kepada pelayan yang telah menunaikan perintahnya tetapi tidak memberikan upah pada waktunya. ” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya seorang muslim yang benar-benar memperhatikan syiar-siar lslam dan membuka pintu bashirah [mata hati] dalam jiwanya, pasti tidak akan berani melakukan penipuan, kepalsuan, khianat dan dosa. sekalipun padanya terdapat manfaat dan keuntungan yang banyak. perbuatan dan sikap kotor seperti itu  akan memerosokkannya ke dalam sifat-sifat kaum munafik; dan sesungguhnya orang-orang munafik akan dilemparkan ke dalam kerak api nereka, tiada penolong bagi mereka di hari kiamat.

“Sesungguhnya orang-orang munafik, itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka dan kamu sekali – kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (An Nisa 145)’

Bersabda Rasulullah SAW:

“Ada empat sifat, siapa saja yang melakukannya tergolong munafik dan yang mengambil sebagian darinya berarti telah mengambil sebagian sifat munafik sampai ia meninggalkannya sama sekali; jika diberi amanat ia khianat, jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkarinya dan jika berdebat ia selalu curang. ” (HR Bukhari-Muslim)

  1. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply