Jaka Tingkir, Kerajaan Pajang Pada Pertengahan Abad Ke.16

0

Mengenai asal dan riwayat hidup Sultan Pajang, yang telah melanjutkan kekuasaan dinasti Demak atas Jawa Tengah, buku-buku cerita (serat kandha) dan babad memuat banyak cerita. Pada pokoknya, isinya mengatakan bahwa ia putra raja Pengging terakhir yang dibunuh oleh Sunan Kudus. Waktu masih kecil ia bernama Mas Krebet, karena pada saat lahirnya wayang beber sedang dipertunjukkan di rumah ayahnya. Pada masa remaja ia bernama Jaka Tingkir, sesuai dengan nama Tingkir, tempat ia dibesarkan.

Jaka Tingkir telah menjadi pahlawan dongeng di Jawa Tengah bagian selatan. Banyak cerita yang hebat-hebat tersebar luas. la dianggap mempunyai kekuasaan atas masyarakat buaya, demikian pula (yang diduga menjadi) kakeknya Jaka Sangara, yaitu Raja Andayaningrat.

Meskipun tidak pasti bahwa yang kelak menjadi sultan Pajang itu berasal dari keluarga raja Pengging, maksud untuk mengangkat raja lagi bagi daerah Pengging, sesudah meninggalnya Kebo Kenanga, jelas terbukti dari putusan raja Demak untuk mengusahakan supaya Jaka Tingkir menetap di Pajang. Pejuang muda ini telah masuk keluarga raja (Demak) karena perkawinannya dengan putri Sultan Tranggana yang muda. Menurut cerita babad, kediaman raja di Pajang dibangun dengan mencontoh keraton di Demak.

Waktu pada tahun 1546 Sultan Demak meninggal (dalam aksi militer – atau karena akibatnya – ke ujung timur Jawa), raja Pajang yang masih muda itu – menantu raja – selama kekacauan berkecamuk di ibu kota cepat mengambil alih kekuasaan. Menurut cerita tutur Mataram, Jaka Tingkir adalah cucu Sunan Kalijaga dari Kadilangu, yaitu orang yang di Jawa Tengah bagian selatan dianggap yang terpenting di antara Sembilan Wali. Sunan Kalijaga rupa-rupanya telah menjadi penghulu masjid suci di Demak sesudah Sunan Kudus. Seorang anak perempuannya telah diambil oleh Sultan Tranggana sebagai permaisuri muda. Dari perkawinan ini lahir ratu muda di Pajang, permaisuri Jaka Tingkir, dan adiknya yang laki-laki, Raden Mas Timur, yang kelak menjadi Panembahan Mas di Madiun. Apabila cerita tutur itu mengandung kebenaran, maka kiranya raja Pajang yang muda tersebut waktu bertindak di Demak telah dapat mengandalkan wibawa rohani kakeknya Sunan Kalijaga, yang juga menjadi gurunya. Menurut cerita tutur, putra sulung Sultan Tranggana, yang lahir dari perkawinan yang lebih dahulu, diberi kedudukan sebagai ulama saja. la bergelar Susuhunan Prawata.

Pada tahun 1549 Susuhunan Prawata dibunuh atas perintah kemenakannya Aria Panangsang dari Jipang yang merasa berhak atas tahta Kerajaan Demak. Aria Panangsang tidak lama kemudian dikalahkan dan dibunuh dalam perang tanding oleh Jaka Tingkir dari Pajang; Jaka Tingkir membalas dendam karena iparnya, Susuhunan Prawata, telah dibunuh oleh Aria Panangsang. Kekuasaan Kerajaan Jipang patah, dan kekuasaan Pajang sejak itu diakui oleh sebagian besar pedalaman Jawa Tengah. Ratu putri Kalinyamat, ipar perempuan raja Pajang yang lebih tua (seperti halnya ratu muda Pajang, ia pun putri Sultan Tranggana), memerintah di Jepara, dan dari situ ia memerintah juga Pesisir Jawa sebelah barat. Ki Panjawi, raja Pati, teman seperjuangan Jaka Tingkir dalam pertempuran melawan Jipang, mengakui kekuasaan tertinggi Pajang.

Menurut cerita tutur Jawa, Aria Panangsang dari Jipang, penuntut tahta Kerajaan Demak yang memberontak itu, adalah murid Sunan Kudus, pejuang yang gagah berani untuk perluasan “Bait’ul Islam”. Tetapi Jaka Tingkir, Ki Panjawi, dan Sunan Prawata dari Demak (yang telah dibunuh itu) telah mendapat bimbingan agama dari Sunan Kalijaga dari Kadilangu. Dapat diperkirakan bahwa Jaka Tingkir dari Pajang makin bertambah kuat keinginannya untuk bertindak dengan kekerasan senjata terhadap Aria Panangsang, karena dengan demikian ia juga dapat membalas dendam terhadap Sunan Kudus atas pembunuhan yang telah dilakukan terhadap Kebo Kenanga dari Pengging, yang digantikan Jaka Tingkir sebagai raja di Pajang. Mungkin ia masih keturunan Kebo Kenanga.

Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

Leave A Reply