Jahat Dalam Bertetangga

0

Allah ta’ala berfirman:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah kepada orang tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An-Nisa’: 36).

Karena besarnya hak tetangga, maka menyakiti tetangga hukumnya haram. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Syuraih radhiallahu anhu, rasulullah shollaullohu alaihi wassalam bersabda:

“Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman” Beliau ditanya: “Siapa wahai rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”.[1]

Nabi shollaullohu alaihi wassalam menjadikan pujian atau hinaan tetangga sebagai ukuran kebaikan dan keburukan seseorang.

Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu meriwayatkan:

“Seorang laki-laki berkata kepada nabi shollaullohu alaihi wassalam: “Wahai rasulullah, bagaimana cara untuk mengetahui, jika aku ini seorang yang baik atau jahat?” Nabi shollaullohu alaihi wassalam bersabda:

“Jika engkau mendengar tetanggamu mengatakan: engkau baik. Berarti engkau  baik, jika engkau mendengar mereka mengatakan: engkau jahat. Maka berarti engkau jahat.”[2]

Gangguan kepada tetangga bentuknya bermacam-macam. Di antaranya; melarangnya memasang tiang pada dinding milik bersama, meninggikan bangunan tanpa ijin hingga menghalangi sinar matahari atau menutup ventilasi udara rumah tetangga, membuka jendela rumah untuk melongok ke rumah tetangga sehingga melihat aurat mereka, mengganggu dengan suara gaduh seperti ketok-ketok atau teriak-teriak pada waktu tidur dan istirahat, memukul anak tetangga, membuang sampah di depan pintu rumahnya dan sebagainya.

Syariat Islam benar-benar memuliakan kedudukan tetangga. Sehingga orang yang melakukan pelanggaran hak dan kejahatan kepada tetangga di hukum secara berlipat. Rasulullah shollaullohu alaihi wassalam bersabda:

Seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada berzina dengan istri tetangganya, seorang laki-laki mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri dari rumah tetangganya.[3]

Betapapun berat ancamannya, tapi banyak orang mengambil kesempatan perginya tetangga pada malam hari, misalnya pada saat ia mendapat giliran tugas malam. Pengkhianat itu lalu masuk mengendap ke rumah tetangganya untuk melakukan perbuatan terkutuk. Celakalah orang semacam ini, kelak baginya azab yang pedih di neraka.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 10/443.

[2] Hadits riwayat Ahmad; 1/402, dalam Shahihul Jami’; 623.

[3] Hadits riwayat Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad: 103, As-Silsilah Ash-Shahihah: 65.

Leave A Reply