Jadilah Engkau Mutiara, Wahai Para Wanita…

0

Anda seorang wanita? Sungguh anda punya segudang peluang untuk menjadi mulia. Anda bisa menjadi seorang wanita shalihah. Wanita shalihah adalah perhiasan dunia yang paling mahal. Iya, paling mahal. Tak ada perhiasan yang bisa menandingimu. Anda bisa menjadi seorang istri mujahid. Anda  akan mendapatkan pahala dari jihad suamimu. Atau ana bisa menjadi seorang ibu para ulama mujahid atau ibu para ulama. Namun banyak para wanita yang tidak mengetahui jalan kemuliaan. Mereka lebih memilih jalan kehidupan yang akan menghinakan diri mereka sendiri.  Menghantarkan kepada pelecehan kohormatan seorang wanita. Salah satu di zaman globalisasi ini adalah kampanye emansipasi wanita.

Gerakan emansipasi wanita awal mula dilontarkan oleh para penggerak peradaban Barat. Wanita harus dibebaskan dari belenggu dan disamakan hak-hak mereka dengan kaum laki-laki. Di dalam misi ini terbentuklah budaya freesex dan pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Di negeri-negeri kaum muslimin diawali dengan ihtilathnya di lembaga-lembaga pendidikan, perkatoran bahkan saat beribadah di masjid sekalipun. Rasul saw memang sudah menashkan bahwa umat ini akan mengikuti jalan hidup umat-umat zaman terdahulu. Mereka adalah ahlu kitab, Yahudi dan Nashrani.

Kini dalam pergaulan mayarakat Barat, kedudukan wanita begitu hina dan rendah. Wanita hanya sebagai pemuas nafsu seks kaum laki-laki yang bisa dicoba oleh siapa saja. Pamer aurat ada di mana-mana. Bahkan semua bidang kehidupan menjadikan ‘kecantikan’ wanita sebagai banner dalam setiap promosi. Iklan handphone, dengan kecantikan wanita, iklan oli motor pun dengan kecantikan wanita. Dengan ditemukannya kamera kini ‘kecantikan’ wanita menjadi lambang semua bidang kehidupan. Cermatilah semua iklan di media, tak satupun yang tidak mengambil sisi kecntikan wanita dan auratnya sebagai hiasan yang menarik perhatian.

Hanya serendah itukah tugas wanita? Dalam Islam, wanita dimuliakan, dilindungi kehormatannya dan ditutup jalan-jalan menuju kepada perbuatan keji. Allah swt melindungi mereka,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)

“Dan menetaplah kamu di rumahmu. Dan janganlah tabbaruj (berhias) seperti tabarujnya orang-orang jahiliyah zaman dulu. Dirikanlah shalat, bayarlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya wahai keluarga nabi.” (Al-Ahzab: 33).

Mujahid mengatakan, “Seorang wanita yang berjalan di depan laki-aki yang tidak halal baginya merupakan bentuk tabarruj. Itulah yang disebut dengan tabarruj jahiliyah.”[1]

Seorang wanita dilarang berbuat demikian karena wanita itu begitu menarik dan cepat sekali mengundang fitnah.Selain itu jiwa wanita lebih mudah dirayu dan mudah takjub serta terpesona. Kondsi demikian adalah jalan menuju perbuatan serong. Dia harus menyimpan kecantikanya dan hanya memberikannya kepada suaminya. Itulah kebersihan dan kesucian. Wanita adalah mutiara yang harus dilindungi agar tetap menjadi mutiara. Rasulullah saw bersabda,

إن المرأة عورة، إذا خرجت استشرفها الشيطان وأقرب ما تكون بروحة ربها وهي في قعر بيتها.

“Seoarang wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar rumah dia ditungangi syaithan. Kondisi yang paling dekat antara dia dan tuhannya adalah ketika berada di bilik rumahnya.” (Riwayat Abu Bakar al-Bazar).

Syaithan akan menggoda laki-laki dengan menggunakan wanita. Wanita akan diarahkan untuk melenggak-lenggokan tubuhnya ketika berjalan. Diindah-indahkan ketika berbicara dan suka bernyayi untuk menarik kekaguman laki-laki pada dirinya. Dia sangat suka bila diperhatikan, dipuji dan disanjung. Itu adalah kecondongan jiwa para wanita. Bila sudah demikian maka mutiara yang mahal tersebut menjadi barang biasa dan tidak berharga.

Betapa jauhnya perintah Allah ini dengan kondisi wanita zaman sekarang. Bilasaja: seorang wanita yang menutup aurat, menyembunyikan suaranya (suara wanita itu menarik dan indah) lalu berjalan di dapan laki-laki sehingga laki-laki bisa melihatnya, itu termasuk tabarruj jahiliyah, lalau, bagaimana

Dengan wanita yang berjalan dibuat-buat dan melenggak-lengok.

Dengan wanita yang memamerkan auratnya dengan pakaian tapi telanjang.

Dengan wanita yang berpakaian tapi telanjang dan melantunkan nyanyian yang penuh dengan syahwat. Bagaimana dengan mereka itu?!

Wanita haruslah menutup auratnya. Semua badan wanita dan suaranya adalah aurat. Rasul mengatakan ‘almaratu ‘auratun’. Samuanya aurat. Sebagaimana perkataan Rasul saw, ‘al-hajju ‘arafatun.’ Haji itu adalah wuquf di Arafah. Tanpa wuquf  di Arafah haji seseorang tidak akan sah. Suara dan badan wanita merupakan daya tarik kaum laki-laki. Maka semuanya harus disembunyikan.

Kriteria pakaian syar’i bagi seorang wanita, harus menutup seluruh badannya dari ujung rambut sampai ujung kuku, longgar tidak sempit, tebal tidak tipis, dan tidak ada pernak-pernik yang mengundang daya tarik orang lain, dari warnanya ataupun bentuknya.

Seberapa rapat wanita membalut badannya dengan pakaian mencerminkan seberapa tingggi kualitas agamanya. Sedangkan kualitas agamanya merupakan penentu harga seberapa mahal dirinya. Dia akan menentukan kualitas dari sebuah mutiara.

Sekarang terserah anda mau menjadi mutiara atau mau menjadi kotoran. Aturan Islam datang untuk memutiarakanmu bukan untuk mengotorimu.

Selain berhias dengan pakian yang syar’i tentunya dia harus berhias dengan akhlak yang baik. Tidak berkelakuan genit, apalagi di hadapan laki-laki ajnabi.

Tidak membantah dengan suaminya apabila dia seorang istri. Atau menuruti nasihat orang tuanya apabila ia seorang anak. Atau mendidik anak-anaknya dengan benar apabila dia seorang ibu. Ibu adalah mutiara sepanjang zaman. Sebuah bangsa yang ingin maju dia membutuhkan seorang ibu yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Maka tidak berlebihan apabila dikatakan, majunya suatu bangsa adalah shalihahnya kaum hawa. (HerRusy).

[1] Tafsir Ibni Katsir XI/ 151.

Leave A Reply