Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahram

0

Pada jaman kontemporer ini, jabat tangan antara laki-laki dengan perempuan hampir menjadi tradisi. Tradisi bejat itu mengalahkan akhlak islami yang semestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggaap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya daripada syariat Allah ta’ala yang mengharamkannya. Sehingga jika salah seorang dari mereka engkau ajak dialog tentang hukum syariat dengan dalil-dalil yang kuat dan jelas, tentu serta merta ia akan menuduhmu sebagai orang yang kolot, ketinggalan jaman, kaku, sulit  beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali silaturrahim, menggoyahkan niat baik dan sebagainya.

Sehingga dalam masyarakat kita, berjabat tangan dengan anak (perempuan) paman atau bibi, dengan istri saudara atau istri paman, baik dari pihak ayah maupun ibu lebih mudah daripada minum seteguk air. Seandainya mereka melihat secara jernih dan penuh pengetahuan, tentang bahaya persoalan tersebut menurut syara’, tentu mereka tidak akan melakukan hal tersebut.

Rasulullah saw bersabda:

Sungguh ditusuknya kepala salah seorang darii kalian dengan jarum besi, lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.[1]

Kemudian tak diragukan lagi, hal ini termasuk zina tangan, sebagaimana disabdakan oleh rasulullah saw:

Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina.[2]

Dan adakah orang yang hatinya lebih bersih dari hati nabi Muhammad saw? Walaupun demikian beliau mengatakan:

Sesungguhnya aku tidak pernah menyentuh tangan wanita.[3]

Beliau  nabi saw juga bersabda:

Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan wanita.[4]

Dari Aisyah ra, dia berkata:

Demi Allah, sungguh tangan rasulullah saw tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali, tetapi beliau membaiat mereka dengan perkataan.

Hendaknya takut kepada Allah ta’ala, orang-orang yang mengancam cerai istrinya yang shalehah, karena ia tidak mau berjabat tangan dengan kolega-koleganya. Perlu  juga diketahui, berjabat tangan dengan lawan jenis, meski memakai alas (kaos tangan) hukumnya tetap haram.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah; www.islamhouse.com

[1] Hadits riwayat Thabrani dalam Shahihul Jami, hadits no. 4921.

[2] Hadits riwayat Ahmad; 1/412, Shahihul Jami, 4126.

[3] Hadits riwayat Ahmad; 6/357, dalam Shahihul Jami, hadits no. 2509.

[4] Hadits riwayat Thabrani dalam Al Kabir; 24/342, Shahihul Jami; 70554, lihat Al Ishabah; 4/354, cet. Darul Kitab Al Arabi.

Leave A Reply