Islam, Iman dan Ihsan

0

Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: “Pada suatu ketika kita semua duduk di sisi Rasulullah s.a.w. yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah di muka kitaseorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak timpak padanya bekas bepergian dan tidak seorangpun dari kita semua yang mengenalnya, ehingga duduklah orang tadi di hadapan Nabi s.a.w. lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri dan berkata: “Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda:

“Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahwa tiada piihan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau engkau kuasa jalannya ke situ.”

Orang itu berkata: “Tuan benar.”

Kita semua heran padanya, karena ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata lagi: “Kemudian beritahukanlah padaku tentang Iman.”

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya, rasul-rasulNya, hari penghabisan – kiamat – dan hendaklah engkau beriman pula kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk – semuanya dari Allah jua.”

Orang itu berkata: “Tuan benar.” Kemudian katanya lagi: “Kemudian beritahukanlah padaku tentang Ihsan.”

Rasulullah s.a.w. menjawab: “Yaitu hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu.”

Ia berkata: “Tuan benar.” Katanya lagi: “Kemudian beritahukanlah padaku tentang hari kiamat.”

Rasulullah s.a.w. menjawab: “Orang yang ditanya – yakni beliau s.a.w. sendiri – tentulah tidak lebih tahu dari orang yang menanyakannya – yakni orang yang datang tibatiba tadi.

Orang itu berkata pula: “Selanjutnya beritahukanlah padaku tentang alamat-alamatnya hari kiamat itu.”

Rasulullah s.a.w. menjawab:

“Yaitu apabila seorang hamba sahaya wanita melahirkan tuan puterinya – maksudnya hamba sahaya itu dikawin oleh pemiliknya sendiri yang merdeka, lalu melahirkan seorang anak perempuan. Anaknya ini dianggap merdeka juga dan dengan begitu dapat dikatakan hamba sahaya perempuan melahirkan tuan puterinya – dan apabila engkau melihat orangorang yang tidak beralas kaki, telanjang-telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing sama bermegah-megahan dalam gedung-gedung yang besar – karena sudah menjadi kaya-raya dan bahkan menjabat sebagai pembesar-pembesar negara.”

Selanjutnya orang itu berangkat pergi. Saya – yakni Umar r.a. – berdiam diri beberapa saat lamanya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai Umar, adakah engkau mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi?” Saya menjawab: “Allah dan RasulNyalah yang lebih mengetahuinya.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya orang tadi adalah malaikat Jibril, ia datang untuk memberikan pelajaran tentang agama kepadamu semua.” (Riwayat Muslim)

Makna Talidulamatu rabbatahaa, yakni tuan puterinya. Adapun pengertiannya ialah oleh sebab banyaknya hamba sahaya perempuan sehingga budak-budak tersebut melahirkan puteri untuk tuan yang memilikinya. Puteri tuannya itu sama kedudukannya dengan tuannya sendiri. Tetapi ada sebagian ulama yang mengatakan tidak sedemikian itu maksudnya. Al-‘Aalah, ialah golongan orang-orang fakir. Adapun kata Maliyyan artinya waktu yang lama, yaitu sampai tiga hari tiga malam lamanya.

Keterangan:

Sebabnya Sayidina Umar terheran-heran karena orang yang bertanya itu semestinya belum mengerti apa yang ditanyakan, tetapi anehnya setelah diberi jawaban, tiba-tiba penanya itu berkata: “Tuan benar,” dan kata-kata sedemikian ini tentulah menunjukkan bahwa penanya itu telah mengerti. Barulah keheranan Sayidina Umar itu lenyap setelah diberitahu bahwa yang bertanya tadi sebenarnya adalah Jibril a.s. yang kedatangannya memang sengaja hendak mengajarkan soal-soal keagamaan kepada para sahabat Rasulullah s.a.w.

Dalam Hadis di atas, ada beberapa hal yang penting kita ketahui, yaitu:

(a) Mendirikan shalat artinya tidak semata-mata menjalankan shalat saja, tetapi harus dipenuhi pula syarat-syarat serta rukun-rukunnya dan ditepatkan selalu menurut waktuwaktunya.

(b) Percaya kepada Allah yakni meyakinkan bahwa Allah itu ada (jadi jangan beranggapan bahwa Allah itu tidak ada seperti faham komunis), dan lagi Allah itu bersifat dengan semua sifat kemuliaan, keagungan dan kesempurnaan serta terjauh dari semua sifat kekurangan, kehinaan dan kerendahan.

(c) Malak ialah makhluk Allah yang dibuat daripada nur (cahaya) dan tidak berjejaljejal seperti cahaya lampu yang memenuhi rumah. Dengan cahaya seribu lampu, belum juga sesak rumah itu. Dengan ini teranglah apa yang dimaksud dalam sebuah Hadis:

Artinya:

“Bahwasanya Allah itu mempunyai malaikat, ada yang memenuhi sepertiga alam, ada yang memenuhi dua pertiga alam dan ada yang memenuhi alam seluruhnya.”

Adapun arti iman kepada malaikat ialah harus percaya bahwa mereka itu benar-benar ada dan bahwa mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Malak itu sebenarnya kata mufrad dan jamaknya berbunyi malaikat.

(d) Percaya kepada kitab-kitab Allah ialah meyakinkan betul-betul bahwa kitab-kitab suci itu adalah firman Allah yang sebenar-benarnya yang diturunkan pada Rasul-rasulNya dengan jalan wahyu dan meyakinkan pula bahwa isi yang terkandung di dalamnya itu semua benar.

(e) Percaya kepada para Rasul artinya beri’tikad seteguh-teguhnya bahwa apa yang mereka bawa itu memang sebenarnya dari Allah Ta’ala.

(f) Hari Akhir ialah hari Kiamat. Iman dengan hari kiamat artinya mempercayai betulbetul akan terjadinya hari penghabisan itu dan apa saja yang terjadi sesudahnya, misalnya Hasyar (akan dikumpulkannya semua makhluk di padang mahsyar), Hisab (semua amal akan diperhitungkan), Mizan (amal-amal akan ditimbang dalam neraca), menyeberangi jembatan yang disebut Shirath dan kemudian ada yang masuk Jannah (syurga), ada pula yang terus terjun ke (neraka) dan lain-lain hal lagi.

(g) Qadar ialah ketentuan dari Allah sebelum Allah membuat semua makhluk ini, yang baik maupun yang jahat. Jadi segala macam adalah dengan kehendak Allah yang telah dipastikan sejak zaman azali dulu yaitu zaman sebelum Allah membuat apa-apa. Tetapi kita jangan lupa berikhtiar, karena kita telah diberi akal oleh Allah untuk mengusahakan bagaimana jalannya agar kita tetap bernasib baik dan terjauh dari nasib buruk. Kita tetap harus berdaya upaya selama hayat dikandung badan.

(h) Dengan cara ibadat sebagaimana yang terkandung dalam arti kata Ihsan ini, maka tentu akan khusyuklah kita sewaktu menyembah Allah itu. Kalau dapat seolah-olah tahu pada Allah, ini namanya Mukasyafah (terbuka dari semua tabir yang menutup) dan kalau mengangan-angankan bahwa Allah tetap melihat kita, ini namanya Muraqabah (mengintaiintainya Allah pada kita).

(i) Tanda-tanda yang dimaksud ini ialah tanda-tanda kecil sebab datangnya hari kiamat itu ada tanda-tandanya yang kecil dan ada tanda-tandanya yang besar. Tanda-tanda kecil artinya datangnya itu masih agak jauh, tetapi bila tanda-tanda besar telah nampak, maka itulah yang menunjukkan bahwa hari kiamat telah sangat dekat sekali saat terjadinya.

(j) Hamba sahaya perempuan meiahirkan tuannya – artinya, banyak sahaya perempuan itu yang dikawin oleh raja-raja atau pejabat-pejabat tinggi lalu meiahirkan anakanak perempuan sehingga anak-anaknya itu pun akan berkedudukan sebagaimana ayahnya.

(k) Orang yang tak beralas kaki, telanjang, miskin serta penggembala kambing sama bermegah-megah dalam gedung-gedung besar, maksudnya ialah bahwa yang asalnya hanya penggembala yang miskin hingga seolah-olah tak pernah beralas kaki dan pakaiannya hampir-hampir tidak ada (boleh dikata telanjang) tiba-tiba menjadi pembesar-pembesar negeri dan mendiami gedung-gedung besar lagi indah dan sama berkuasa serta kaya raya.

Dengan demikian, keadaan negeri lalu rusak binasa sebab sesuatu perkara semacam pemerintahan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, sebagaimana dalam sebuah Hadis diterangkan:

Artinya:

“Apabita sesuatu perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kerusakannya.”

Dengan initahulah kita bahwa Islam itu mengandung tiga unsur yang utama yakni: A. 5 Arkanul Islam, B. 6 Arkanul lman dan C. 2 Arkanul Ihsan.

Dikutip dari: Riyadus Shalihin-Taman 0rang-orang Shalih; Imam Nawawi.

Leave A Reply