Islam dan Peradaban Barat?

0

 

 
Oleh: Louis Burhani
Para kaisar dan raja-raja pada masa abad pertengahan memanfaatkan para pemuka agama sebagai kendaraan dalam rangka memuluskan kekuasaanya di tengah-tengah masyarakat, guna menghisap darah rakyat dan mengksploitasi mereka. Di lain pihak, para pemuka agama melakukan sesuatu untuk kepentingan diri mereka dengan mengatasnamakan agama.

Akibatnya, muncullah pergolakan sengit yang diprakarsai para pemikir dan kaum filosof saat itu, baik di Rusia maupun Eropa untuk melawan para kaisar, raja-raja serta pemuka agama. Diantara mereka (para pemikir dan filosof) ada yang mengingkari agama secara mutlak. Sebagian lagi mengakui keberadaan agama tetapi harus dipisahkan dari kehidupan. Sehingga muncul suatu pendapat yang disepakati oleh para filosof dan para ilmuwan, yakni sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Pemikiran ini dianggap sebagai jalan tengah antara pemuka agama dan raja di satu pihak dengan para ilmuwan dan filosof di pihak yang lain. Pemikiran sekularisme inilah yang menjadi akidah Kapitalisme. Dari akidah ini terpancar seluruh pemikiran, peradaban, dan sistem Kapitalisme.
Metode yang digunakan ideologi ini untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya adalah penjajahan. Yakni, eksploitasi kekayaan alam dari negara-negara yang ditaklukkan untuk kepentingan modal (kapitalis). Lalu, mereka menyerahkan hasil-hasil jajahannya kepada negara dan bangsa mereka, yang kemudian, mereka gunakan untuk menguasai negara-negara lain dan meluaskan pengaruhnya. Penjajahan itu sendiri memiliki bermacam-macam bentuk, diantaranya adalah penjajahan kebudayaan, penjajahan ekonomi dan militer.
Hubungan Orang Islam dengan Barat
Kaum muslimin berhubungan dengan Barat lewat jalur Andalusia (Spanyol). Pada saat itu umat Islam tengah menyebarkan ajaran Islam ke dunia Barat. Selain itu, umat Islam juga membawa berbagai kemajuan, yang tercermin dalam peranan ilmu pengetahuan dan berdirinya universitas-universitas, seperti Universitas Granada dan Cordova.
Setelah itu, orang-orang Barat datang bersama tentara salibnya pada abad pertengahan. Mereka datang tanpa membawa pemikiran dan peradaban. Mereka tidak memiliki sesuatupun yang bisa membuat kagum penduduk negeri yang mereka kuasai. Sampai-sampai Usamah bin Munqidz mengomentari pasukan berkuda tentara salib dengan mengatakan “Mereka adalah sekumpulan binatang ternak. Tidak ada yang mereka miliki kecuali keahlian berperang”
Ketika mereka kalah, dan penjaga benteng-benteng pertahanan mereka menyerah, maka selang dua abad kemudian mereka tidak meninggalkan sedikitpun pengaruh kepada kehidupan umat Islam.
Peperangan Baru dari Barat
Perang ini dimulai awal abad ke-9, dan terus berlangsung hingga saat ini. Pada saat itu Barat datang memasuki negeri-negeri Islam dengan bersenjatakan ideologi dan kebudayaan kapitalis. Hal itu dilakukan sebagai balasan atas kekalahan mereka pada perang salib sebelumnya.
Mereka mengawali peperangan dengan orientalisme, yaitu perjalanan pemikir Barat ke Timur, termasuk tulisan-tulisan tentang ketimuran. Para orientalis terus memberikan pengaruh yang bisa melemahkan kita. Semua ini ditujukan agar kaum muslimin menjadi pengikut mereka. Upaya mereka diarahkan untuk membentuk kelompok-kelompok yang menyimpang, menciptakan kaum minoritas yang menonjol, dan aliran-aliran aneh, yang diberi hak yang lebih besar (dari pada umat Islam). Hal itu dilakukan untuk membuktikan bahwa umat islam tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengikuti dan mengadopsi warisan-warisan dari Yunani dan bangsa-bangsa lainnya.
Secara militer, Barat telah memerangi negeri-negeri kita pada awal abad ke-19. Akibatnya, Perancis berhasil menduduki Mesir, Aljazair dan Tunisia. Berikutnya, Italia berhasil mengusai Libya hingga terjadi perang dunia pertama yang menyebabkan hancurnya Daulah Ustmaniyah sebagai negara Islam. Di samping itu Barat juga menjajah sebagian besar negeri-negeri Islam dengan menggunakan segala bentuk penjajahan seperti militer, kebudayaan dan perekonomian.
Aktifitas Barat di Negeri Islam
(1). Setelah keruntuhan Daulah Islamiyyah, mereka mengerat-erat negeri Daulah Islamiyyah ke dalam banyak institusi, seperti Turki, Cyprus, Irak, Suriah, Pakistan dan lain-lain.
(2). Mereka terus menyerang bahasa Arab. Mereka menjadikan bahasa mereka untuk meminggirkan bahasa Arab di negeri-negeri Islam. Mereka juga mendorong digunakannya dialek-dialek pasar (bahasa pasaran)
(3). Mereka mencekoki kita dengan sebuah klim bahwa mereka telah bangkit berlandaskan nasionalisme. Mereka mempopulerkan banyak partai nasionalis dan patriotis, yang semua itu dilakukan demi menjauhkan kita dari Islam.
(4). Mereka menganologikan Islam dengan Nasrani, seraya mengatakan bahwa jika kita menginginkan sebuah kebangkitan, maka kita harus memisahkan agama dari kehidupan sebagaimana yang telah mereka lakukan.
(5). Mereka mengubah sistem pemerintahan di negeri-negeri Islam dari sistem pemerintahan Islam menjadi sistem pemerintahan kapitalistik.
(6). Mereka menciptakan jurang pemisah diantara negeri-negeri yang baru terbentuk (pecahan dari Daulah Islamiyyah) untuk memecahbelah antar sesama putra-putri umat Islam, disamping untuk memperdalam jurang pemisah yang terdapat di antara berbagai institusi yang baru muncul itu. Mereka memunculkan isu-isu seperti masalah tapal batas negara, semangat nasionalisme, dan kesukuan, seperti munculnya masalah Kashmir, Cyprus, Palestina, Sahara di Maroko, dan Tepi Barat.
(7). Mengeksploitasi kekayaan kaum muslimin untuk kepentingan Barat, seperti minyak dan barang tambang.
(8) Menjadikan dunia Islam sebagai pasar konsumtif bagi Barat dan mencegah berdirinya industri-industri produksi dan industri-industri berat.
(9). Barat memaksakan kebudayaan mereka kepada Umat Islam, dengan memasukkan kebudayaan-kebudayaan tersebut ke dalam kurikulum pendidikan dan berbagai media informasi seperti radio, surat kabar dan majalah.
Pengaruh Peradaban Barat terhadap Kaum Muslimin
(1). Berbagai persepsi dan eksperimen Barat telah dijadikan sebagai patokan baku bagi para pelajar dan politikus kita. Sehingga, semua yang serba kebarat-baratan dianggap sebagai sesuatu yang modern dan maju. Sebaliknya, semua yang tidak berasal dari Barat dianggap kampungan.
(2). Putra-putri terbaik umat Islam, terutama yang belajar pada universitas-universitas di Barat, terpesona dengan peradaban Barat. Akhirnya, mereka menyerukan untuk meniru peradaban Barat dalam rangka menyongsong sebuah kebangkitan, setelah lama kita lama dalam kelemahan dan keterpurukan. Hal ini nampak pada berbagai anggaran dasar dan rumah tangga partai-partai nasionalis dan patriotis dan juga pada kurikulum pendidikan kita.
 (3). Dalam hal tingkah laku, umat Islam mulai menyimpang jauh dari hukum-hukum Islam. Akhirnya mereka melangsungkan berbagai aktivitas berdasarkan asas manfaat materi seperti riba.
Sikap Kita terhadap Barat
Allah telah mengharamkan umat Islam mengambil sitem atau aturan manapun selain Islam dalam rangka memecahkan setiap problematika hidup mereka. Allah juga telah mengharamkan umat Islam untuk berhukum kepada selain hukum Islam. Firman Allah SWT: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara-perkara yang mereka perselisihkan” (TQS. an-Nisa 65)
Sabda Rasul saw :  “Setiap perkara yang tidak berasal dari perintah kami maka hal itu tertolak” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, kita tidak boleh mengambil sedikitpun, segala sesuatu yang berasal dari peradaban Barat yang kapitalistik itu. Sebab, peradaban barat lahir dari sudut pandang tertentu tentang kehidupan, yang berbeda dengan sudut pandang Islam, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Padahal kita telah diharamkan untuk mengambil bagian-bagian manapun dari peradaban Barat, seperti sistem ekonomi, pemerintahan, politik luar negeri dan lain-lain.
Sikap Kita terhadap Ilmu dan Sains Barat
Ilmu pengetahuan (sains) bersifat universal. Dengan demikian apapun yang lahir dari sains, baik berupa penemuan-penemuan baru, industri, dan segala bentuk materi/ fisik, hal itu tidak lahir dari sebuah sudut pandang tertentu kehidupan. Ia lahir dari kecerdasan akal, melalui suatu proses eksperimen, pengamatan, dan penarikan kesimpulan.
Oleh karena itu, Islam telah membolehkan umatnya untuk mengambil ilmu pengetahuan dari manapun sumbernya, apakah dari Barat ataupun Timur. Sebab, hal itu termasuk apa-apa yang telah ditundukkan Allah untuk manusia. Firman Allah SWT : “Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya” (TQS. al-Jatsiyah 13)
Dengan demikian, kita boleh mengambil ilmu-ilmu eksperimen dari Barat seperti matematika, ilmu tentang atom, industri dan lain-lain.

 

Leave A Reply