Ibu dan Ayah, Benarkah Ini Bukan Salah Kita ?

0

 


Dalam beberapa bulan belakangan ini, setiap harinya pasti kita menjumpai kasus-kasus baru terkait dengan permasalahan remaja, permasalahan anak-anak yang mungkin seumuran dengan anak-anak kita.

Permasalahannya beragam, menurut catatan Komisi Penanggulangan Anak Indonesia dalam kurun waktu 2011 – 2015 ada 782 kasus anak  terkait dengan social dan situasi darurat, 3.723 kasus anak terkait dengan keluarga dan pengasuhan alternative, 787 kasus anak terkait dengan agama dan budaya, 344 kasus anak terkait dengan Hak sipil dan partisipasi, 1.654 kasus anak terkait dengan kesehatan dan napza, 2.168 kasus anak terkait dengan pendidikan, 1.395 kasus anak terkait dengan pornografi dan cyber crime, 6.965 kasus anak berhadapan dengan hukum, 1.125 kasus anak terkait dengan trafficking dan ekspoitasi dan 433 kasus anak lainnya.
Pada kesempatan ini kita hanya akan membahas satu kasus dari sejumlah kategori kasus yang ada yaitu merebaknya fenomena zina atau seks bebas di kalangan remaja dan hubungannya dengan kita, para orang tua.
Adakah hubungannya ?
Sebagian besar orang tua, seringkali terkaget-kaget setelah melihat kenyataan bahwa ternyata buah hatinya telah menjadi pecandu napza, pencandu video porno, melakukan seks bebas bahkan sampai hamil. Ya benar, sebagian besar orang tua banyak yang masih terkaget-kaget dengan fenomena ini.
Dan fenomena kaget ini tidak berhenti sampai disini, setelah kaget, para orang tua bahkan kerapkali menyalahkan pihak lain yang telah menyebabkan anak-anak mereka ‘rusak’ seperti itu. Orang tua kerapkali menyalahkan guru-guru di sekolah yang tidak becus mendidik anak-anak, lalu orang tua juga menyalahkan teman-teman pergaulan anak-anak yang menjerumuskan anak-anak remaja ke lembah kehancuran.
Yaa, kita sebagai orang tua seringkali menyalahkan pihak lain karena alasan yang sangat klasik bahwa anak-anak mereka adalah anak-anak yang baik dan manis di hadapan mereka.
Dengan berbagai alasan, Kita sebagai orang tua seringkali lupa, bahwa anak tidak tiba-tiba menjadi nakal. Anak juga berproses menjadi nakal sebagaimana anak-anak itu juga dapat berproses menjadi sholeh dan sholehah.
Nah dimana proses itu dimulai ?
Proses belajar anak dimulai dari rumah. Ya, dari rumah !!!
Dari rumah lah seorang anak dapat tumbuh menjadi anak sholeh dan sholehah dan di rumah jugalah seorang anak dapat tumbuh menjadi anak yang nakal. Dan aktor pertama dan utama dalam pemberian pendidikan di rumah ke anak adalah orang tua.
Disinilah mulai otokritik buat kita sebagai orang tua dimulai. Seringkali kebanyakan dari kita tidak mengambil peran pendidikan ini dari sejak awal kehidupan anak-anak kita, dari segi manapun. Pendidikan kognitif di serahkan kepada sekolah, pendidikan fisik kerap diabaikan sementara pendidikan agama disepelekan dan diserahkan kepada guru ngaji / ustadz ….
Sudah menjadi pemandangan yang umum terjadi, bahwa kedua orang tua bekerja sementara fungsi pengasuhan dan pendidikan anak-anak diserahkan semata-mata kepada baby sitter dan Pembantu Rumah Tangga. Pertemuan dengan anak-anak hanya dapat dilakukan di malam hari dan hsnys beberapa jam saja. Keterbatasan waktu ini kemudian tidak diimbangi dengan kualitas pertemuan dan komunikasi yang memadai. Seringkali yang terjadi, karena sudah lelah bekerja, maka para orang tua ini lebih memilih beristirahat dan memanjakan diri sendiri daripada memanfaatkan waktu dengan bercengkerama dengan anak-anak. Lebih sering sibuk sendiri dengan notebook, tab atau gadget mereka daripada sibuk bercengkrama dengan anak-anak. Lebih sering memberikan senyuman kepada benda-benda mati itu ketimbang memberikan senyuman kepada anggota keluarga di rumah.
Anak-anak menjadi kering perhatian orang tua, tidak punya bonding yang kuat dengan orang tua. Hubungan antara orang tua dan anak menjadi hubungan formal yang hanya berisi tentang laporan “prestasi” di sekolah dengan indicator sederet angka-angka semata. Tidak ada cerita tentang ngobrol hangat antara orang tua ada anak, tidak ada cerita tentang curhat nya anak kepada orang tua.
Pada kondisi ini, sebagian besar anak-anak kemudian berpikir bahwa orang tua mereka bukan orang yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya, menceritakan tentang hari-harinya dan apa-apa yang dia rasakan. Anak-anak kehilangan keteladanan dari orang tua mereka, mereka tidak lagi tahu mana teladan yang baik.
Anak-anak dipaksa untuk berpikir bahwa mereka harus mencari orang yang dapat mereka teladani, mereka juga harus mencari orang yang mau mendengarkan keluh kesah mereka, mendengarkan isi hati mereka. Anak-anak hanya akan melihat orang tua mereka seperti mesin ATM saja, yang akan mereka datangi kalau mereka membutuhkan uang untuk sekolah dan kebutuhan dan keinginan mereka saja.
Yaa, … anak-anak dipaksa berpikir seperti itu, karena dari lubuk hati yang paling dalam sesungguhnya anak-anak tidak ingin berada pada kondisi seperti ini, sehingga pada gilirannya anak-anak mencari sosok lain yang dapat mereka jadikan tempat bersandar dan berkeluh kesah.
Anak-anak mencari kebahagiaan diluar rumah karena mereka tidak lagi menemukan kebahagiaan di dalam rumah. 
Pada titik ini, seringkali anak-anak salah dalam memilih dan memilah orang-orang yang dapat mereka jadikan rujukan.
Dan proses menuju kehancuran pun berjalan semakin maju.
Dan pada titik ini juga, episode keterjerumusan anak-anak terjadi. Banyak kemudian kita temukan anak-anak terjerumus menjadi Perek Culun (Pe’cun) yang mau menyerahkan keperawanannya hanya untuk memenuhi keinginannya memiiki barang-barang bermerk dan dapat makan di tempat-tempat mahal. Atau ditemukan juga anak berusia 18 tahun telah dapat menjalankan bisnis prostitusi sebagai mucikari teman sebayanya dan yang lebih tua usia nya dengan daerah operasi di wilayah Jakarta Selatan. Atau karena keterbatasan nilai-nilai agama dan pengetahuannya seorang anak berusia 16 tahun telah melakukan sejumlah percobaan aborsi hingga yang paling ekstrem puncaknya anak tersebut memasukkan kawat ke dalam lubang vaginanya yang menyebabkan infeksi dan berakhir dengan diangkatnya rahim anak tersebut karena infeksi yang sudah menjalar ke dalam. Atau anak-anak yang sexually active pada usia remaja, yang telah melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan, lebih ketakutan hamil, terkena Infeksi Menular Seksual dan HIV dan AIDS daripada takut akan dosa zina. Belum lagi peristiwa-peristiwa yang semakin mengerikan terkait dengan kekerasan seksual pada anak. Ternyata anak-anak juga kering dari nilai-nilai agama …
Ayah, Ibu … mari kita introspeksi bersama …
Dimana kah posisi kita pada kondisi ini ?
Dimanakah kita ketika anak-anak membutuhkan nasihat kita ?
Dimanakah kita mereka membutuhkan bimbingan kita ?
Dimanakah kita ketika anak-anak membutuhkan ketauladanan kita ?
Sebagian besar dari kita sebagai orang tua bahkan tidak memberikan hal-hal tersebut pada anak-anak kita.
Lalu Ayah, Ibu …
Apakah yang akan kita jawab ketika Allah menanyakan tentang apa-apa yang telah kita lakukan untuk membimbing anak-anak kita ? karena sungguh, anak-anak itu tanggung jawab kita.
Sungguh apabila kita tidak mendidik mereka dengan nilai Al Qur’an dan apa-apa yang telah dicontohkan Rasulullah dalam Sunnah, malapetaka akan terjadi. Tidak hanya di dunia, tapi malapetaka terbesar terjadi di akhirat.
Sungguh, ….
Mereka bisa membawa kita ke indahnya surga tapi mereka bisa juga menyeret kita ke pedihnya siksa neraka.
Oleh karenanya, kita sebagai orang tua saat ini harus sadar bahwa kita dituntut tidak hanya memberikan pendidikan dunia tanpa rambu-rambu Al Qur’an dan As Sunnah, ….
tapi lebih dari itu
Kita sebagai orang tua dituntut harus punya visi akhirat, akhirat oriented dalam mendidik anak-anak kita. Apakah kita akan membawa mereka ke surga atau malah akan menjerumuskan mereka ke neraka.
Sehingga arah pendidikan menjadi jelas, Tidak melulu bicara tentang fasilitas duniawai apa yang dapat diberikan kepada anak-anak kita, akan tetapi lebih berpikir bagaimana kita dapat membuat anak-anak dapat meninggikan kalimat Allah dimanapun mereka berada dan di bidang manapun yang mereka minati.
Banyak contoh dari kisah Rasulullah dan kisah shalafus shalih tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak. Bagaimana Rasulullah mendidik para sahabat, sehingga mereka berhasil menjadi hebat di usia yang masih terbilang muda.
Ayah, Ibu …
Bukan tidak mungkin kejayaan Islam itu dimulai dari kesholehan anak-anak kita.
Jadi mari kita berpegangan tangan bersama untuk mendidik anak-anak menjadi anak-anak yang sholeh/ sholehah
Insya Allah … mulai dari hal yang kecil dan sederhana
Dan kejayaan Islam itu insya Allah dimulai dari kesholehan anak-anak kita.
Parung Bingung – Depok, 29 – 30 Mei 2016
Lucy Herny- Islamic Parenting Consultant
facebook; lucy herny
sms/wa; 0858-8271-8087

 

Leave A Reply