Hukum Shalat Lail (Nafilah) Berjama’ah

0

Muqadimah

Shalat lail merupakan salah satu shalat sunnah yang mempunyai banyak keutamaan. Ia juga merupakan titian para sahabat dalam meraih munajat kepada Allah di luar ibadah yang di wajibkan. Rosulullah  sebagai seorang nabi yang sudah mendapat jaminan dari Allah berupa ampunan dosa dan jaminan masuk jannah tak pernah ketinggalan melaksanakan ibadah yang satu ini baik dalam keadaan mukim atau safar.

Banyak lembaga pendidikan atau suatu kumpulan pembinaan menjadikan ibadah ini menjadi suatu program unggulan bagi para anggotanya, mereka biasa melaksanakannya secara berjamaah dan terjadual dengan rutin. Kemudian muncul pertanyaan, bolehkah shalat tahajud di luar bulan ramadhan di laksanakan secara berjamaah ?

Sebelum memasuki pembahasan perlu kita ketahui pembagian shalat sunnah ditinjau dari hal ini. An Nawawi[1] dan Ar-rafi’I [2] , membagi shalat sunnah menjadi dua:

Shalat nawafil yang di sunahkan secara berjamaah, seperti shalat ‘iddain, khusufain, istisqo’ dan oleh penyusun kitab shalatul jama’ah [3], dimasukan juga shalat tarawih.
Shalat nawafil yang tidak disunahkan secara berjamaah, seperti shalat-shalat yang berkaitan dengan waktu yaitu shalat dluha, tahyatul masjid, dua rakaat ikhram, dua rakaat thowaf, dua rakaat fajr, shalat yang mengiringi shalat lima waktu, shalat mutlaq.

Hadits-hadits tentang shalat nafilah dengan berjamaah:

Artinya :”Dari Abi Wail  dari Abdillah d, berkata,”Aku  shalat bersama Nabi j pada suatu malam , dan aku  masih ikut berdiri sampai aku berkeinginan yang jelek, kami bertanya apa keinginanmu ? ia  berkata  : “ Aku hendak duduk dan meninggalkan Nabi j .“( HR Al Bukhori )[4]

Artinya :”Dari Kuraib maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas d berkata,”Aku bermalam di rumah Maimunah, maka Nabi  bangun pada suatu malam kemudian memenuhi hajatnya lalu mencuci wajahnya dan tangannya kemudian tidur lalau bangun kemudian mendatangi tempat wudlu lalu beliau wudlu sekali diantara dua wudlu serta tidak memperbanyaknya karena hal itu sudah cukup. Kemudian beliau berdiri untuk shalat, maka aku segera bangkit khawatir beliau melihatku lalu kuambil air wudlu kemudian aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau mengambil tanganku dan hendak menarikku ke samping kanannya. Beliu menyempurnakan shalatnya pada malam itu sebanyak  tiga belas rakaat, kemudian berbaring dan tidur hingga lelap sampai datang Bilal untuk adzan. Kemudian beliau bangun dan shalat tanpa mengambil air wudlu. Adapun do’a yang beliu ucapkan adalah “ Ya Allah jadikanlah cahaya di dalam hatiku, pandanganku, pendengaranku, dari arah depanku, samping kanan dan kiriku, dari atasku, dan agungkanlah bagiku cahaya tersebut.” (HR Muslim)[5]

Artinya :”Dari Ibnu Abbas, bahwasannya ia tidur di rumah Maimunah salah satu istri dari Rasululloh  dan ia ( Maimunah ) adalah bibinya, maka aku  berbaring pada hamparan sebuah bantal, sedangkan Nabi  beserta keluarganya berbaring di atas bantal[6] tersebut, maka Nabi  tidur hingga pada pertengahan malam atau kurang sedikit dari itu  atau setelahnya kemudian beliau bangun kemudian belau mengusap wajahnya dengan tangannya kemudian membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran kemudian Beliau menuju tempat wudlu ( teko ) yang tergantung maka beliau wudlu darinya dengan wudlu yang baik kemudian belaiu berdiri untuk shalat. Abdullah bin Abbas  berkata : kemudian aku  berdiri dan melakukan seperti apa yang di lakukan oleh Rasulullah  kemudian aku  menghampirinya dan berdiri di sampingnya, kemudian Nabi  meletakan tangan kanannya di atas kepalakau dan kemudian beliau memegang telinga kanan aku  dan memindahhkan aku  ke samping kanannya, lalu beliau shalat dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat kemudian beliau witir. Kemudian beliau berbaring sampai datang muadzin (adzan subuh), maka beliau shalat dua rakaat yang ringan, lalu keluar untuk shalat shubuh.”(HR.Al Bukhori, Malik, Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Dawud)[7]

Artinya :”Dari ‘Utban bin Malik Al Anshori  ,ia berkata ; aku  biasa shalat di tempat Bani  Salim dan di antara ia dan Bani Salim di pisahkan oleh sebuah lembah yang apabila datang hujan maka dia merasa berat  sebelum masjid mereka, maka aku mendatangi  Rasulullah dan aku katakan padanya bahwasannya mengingkari pandanganku, dan sesungguhnya lembah yang membatasi diantaraku dan kaumku mengalir jika datang waktu hujan, maka terasa berata bagiku untuk mendatanginya, maka aku berharap Anda mau datang ke rumahku dan sholat di tempat yang aku jadikan mushola, Rasulullah  bersabda ;” akan kulakukan “ maka padi esok harinya Rasululllah dan Abu Bakar d datang kepadaku setelah panasnya matahari berlalu di siang hari, kemuian beliau meminta ijin kepadaku maka aku mengijinkanya dan tidaklah beliau duduk hingga beliau bersabda : “di bagian manakah yang kau suaka dari rumahmu untuk aku pakai shalat di dalamnya ?” kemudian saya memberi isyarat kepada tempat yang aku skai untuk kugunakan shalat di dalamnya, maka Rosulullah berdiri dan bertakbir dan kami membuat shaf di belakangnya , belaiau shalat dua rakaat kemudian salam dan kamipun salam setelah beliau salam”.  ( HR AL Bukhari)[8]

Artinya:”Dari Anas bin Malik d dari neneknya (Mulaikah), dia mengundang Rasulullah untuk makan bersama (yang telah dibuatnya),maka beliau memakannya darinya kemudian bersabda: berdirilah kalian aku akan sholat untuk kalian. Anas bin malik berkata : maka kami berdiri menuju sebuah tikar yang sudah lusuh karena sudah lamanya dipakai dan kami percikkan air di atasnya kemudian Rasulullah  berdiri, dan aku bersama anak yatim membuat shaf di belakangnya dan di belakangku bediri seorang kakek tua , kemudian rosulullah  shalat bersama kami dua rakaat kemudian setelah selesai bubar.”(HR. Muslim)[9]

Pendapat Para Ulama’

Di bawah ini adalah pendapat para ulama tentang Shalat nafilah secara berjama’ah termasuk di dalamnya adalah shalat tahajjud karena dalil yang mereka gunakan adalah dalil tentang shalat mutlaq dan shalat tahajjud .

Pendapat Malikiyah,”Adapun shalat nawafil maka pelaksanaannya secara berjamaah kadang – kadang makruh dan kadang-kadang dibolehkan: makruh jika dilaksanakan di masjid atau dilaksanakan dengan jamaah yang banyak atau dilaksanakan di tempat yang banyak dihadiri manusia dan dibolehkan apabila di laksanakan dengan jama’ah yang sedikit dan dilaksanakan di rumah atau di mana saja di tempat yang tidak banyak dikunjungi manusia. [10]
Pendapat Hanafiyah : Jama’ah menjadi makruh dalam shalat mutlaq dan witir di luar ramadhan, dan hannyasannya dimakruhkan secara berjama’ah jika yang ikut dalam jama’ah tersebut lebih dari tiga orang.[11]
Pendapat Hanafiyah : Disunahkan shalat tarawih berjama’ah adapun pelaksanaannya di luar bulan ramadhan yaitu tidak disunnahkan secara berjama’ah.[12]
Pendapat Hanabilah : Shalat nawafil ada yang di sunahkan seperti shalat istisqo, shalat tarawih, shalat ‘iddain dan ada yang dibolehkan secara jama’ah seperti : shalat tahajjud dan shalat-shalat yang mengiringi shalat mafrudhah. [13]

Dibolehkannya shalat nawafil baik dilaksanakan sendiri-sendiri atau berjamaah karena Nabi pernah melaksanakan kedua duanya ,namun kebanyakan sahalat nafilah Nabi adalah sendiri-sendiri    (munfaridan ) dan Nabi juga pernah shalat dengan hudaifah, Ibnu abbas, Anas dan ibunya serta anak yatim dann pernah mengimamim para sahabat di rumah Itban sekali dan mengimami para sahabat di dalam bulan ramadhan tiga kali .[14]

Pendapat Ibnu Hazm adh-Dhahiry : Shalat mutlaq nawafil dengan berjama’ah adalah sunnah.[15]
Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, menyebutkan bahwa shalat tathawu’ ada dua :

a.shalat yang di sunahakan brjamaah secara teratur seperti shalat khusuf, istisqo dan qiyamu ramadhan ( shalat tarawih ), shalat shalat sunah ini selalu di laksanakan secara berjamaah senagaimana telah di contohkan di dalam hadits.

b.shalat shalat sunnah tatowu yang tidak secara teratur seperti qiyamullail dan sunnah rawatib ,shalat dhuha ,tahyatul masjid dan yang semisalnya .dan shalat shalat tersebut jika di laksanakan berjamaah secara jarang maka boleh.Sedangkan pelaksanaannya secara berjamaah secara teratur maka tidak ada syari’atnya (tuntunannya), akan tetapi bid’ah makruhah (bid’ah yang dibenci), dan sesungguhnya Nabi  sahabat Radliyallahuanhum dan tabi’in rahimahumullah  tidak membiasakan melaksanakan secara berjamaah, melainkan hanya kadang- kadang saja, biasanya Nabi melaksanakannya secara munfarid (sendirian) namun ketika ibnu Abbas di suatu malam tidur di rumahnya ia shalat bersama Nabi, begitu juga Hudzaifah di malam yang lain, Ibnu Mas’ud di malam yang lain dan juga Nabi pernah shalat di rumah Uthban bin Malik al anshori di tempat yang di jadikannya sebagai musholla, serta shlat bersama Anas ibunya dan anak yatim .[16]

Pendapat Nashiruddin Al Albani, beliau mengomentari perkataan sayyid sabiq dalam fiqih sunnah “…adapun shalat jamaah dalam shalat nawafil mubahah (dibolehkan) baik jama’ahnya banyak atau sedikit …”Beliau berkata ; Akan tetapi secara umum Rosulullah j melaksanakan shalat sunnah sendirian, oleh karena itu aku berpendapat harus ada taqyid  (pengikatan) pembolehan tersebut dengan kadang -kadang, jika tidak maka penetapan shalat sunnah nawafil secara berjammah bid’ah yang menyelisihi petunjuk Rasulullah salalllohu alaihi wasallam. [17]
Pendapat Dr. Shalih bin Ghanim as-Sadlan: yang benar (sebagaimana yang telah kami kemukakan) bahwa shalat nawafil boleh dilaksanakan dengan berjama’ah, baik itu sunnah rawatib, sunnah mustahabbah, ataupun tathawu’ mutlaq akan tetapi dengan syarat:tidak dijadikan kebiasaan, karena permintaan, merupakan kesepakatan dalam menunaikan suatu sunnah dari sunnah-sunnah seperti seorang tamu (ketika bertamu) bahkan meskipun mereka shalat witir secara berjama’ah dan juga dengan syarat tidak adanya hal-hal yang berbau bid’ah (sesuatu yang tidak disyariatkan) maka jika hal-hal ini terjadi shalat jama’ah baginya tidak disyariatkan.[18]

Kesimpulan

Setelah kita melihat keterangan di atas maka kita dapatkan bahwa Qiyamul Lail di luar bulan Ramadhan (shalat Tahajjud) adalah diperbolehkan dilaksanakan dengan berjama’ah dan hal ini sesuai dengan kesepakatan pendapat Imam empat Madzhab, diantara mereka ada yang memberi persyaratan dan ada yang tidak akan bolehnya berjama’ah, maka dapat penulis simpulkan bahwa shalat tersebut boleh dilaksanakan dengan berjama’ah dengan syarat-syarat sebagai berikut:

Tidak dijadikan sebagai suatu kebiasaan, kerena Rasulullah  sendiri hanya pernah melakukannya beberapa kali saja, maka kalau dilakukannya berjama’ah dan dijadikan sebagai kebiasaan adalah menyelisihi sunnah (bid’ah).
Jama’ahnya sedikit, hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah  beliau pernah mengimami Ibnu ‘Abbas, Huzaifah, dan Ibnu Mas’ud Radliyallahuanhum, maka jika dilakukan dengan jama’ah yang banyak berarti menyelisihi sunnah (bid’ah). Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat madzhab Malikiyah dan Hanabilah. Adapun Hanafiyah merka justru memberikan batasan 3 orang saja (maksimal).
Dikarenakan permintaan tuan rumah (ketika seseorang bertamu) atau merupakan kesepakatan dalam menunaikan sunnah dari sunnah-sunnah Rasulullah .
Tidak adanya hal-halyang berbau bid’ah (sesuatu yang tidak disyari’atkan).

Sehingga jika dari keempat syarat di atas tidak terpenuhi maka shalat Tahajjud dengan berjama’ah adalah tidak disyariatkan. Wallahu A’lam bish Shawab.
DAFTAR PUSTAKA

– Shahihul Bukhary, Imam al-Bukhary

– Shahih Muslim, Imam Muslim

– Sunnan Abu Daud, Imam Abu Daud

– Sunnan Ibnu Majah, Imam Ibnu Majah

– Sunan An Nasa’I, Imam An Nasa’i

– Al Muwaththa’, Imam Malik

– Musnad Ahamad, Imam Ahmad

– Fathul Baary syarh Sahihul Bukhary, Imam Ibnu Hajar al-Asqalany

– Shahih Muslim bisyarh an-Nawawy, Imam an-Nawawy                                                                                      – Aunul Ma’bud syarh Sunnan Abu Daud, Imam Syamsul Haq al-Adziim Abady

– Shahih Ibnu Majah, Syaikh al-Albany

– Irwa’ul Ghalil fi Tahriji Hadits Manaris Sabil, Syaikh al-Albany

– Jami’ul Ushul fi Ahaditsir Rasul, Imam Ibnul Atsir al-Jazary

– Majmu’ syarh Muhadzdzab, Imam an-Nawawy

– Al-Mughny, Imam Ibnu Qudamah

– Shalatul Jama’ah, Dr. Shalih bin Ghanim as-Sadlan

– Lisanul Arab, Ibnu Mandzur

[1] Majmu’ Syarh Al Muhadzab : 4/6,8

[2] Al Aziz Syarhul wajiz : 2/131

[3] Shalatu jama’ah  Dr Sholih Ghonim As Sadlan : 68.

[4] HR.Al Bukhori No 1135 lihat  dalam Fathul Bari :3/326 Bab : Thulu Qiyam fi shalatil lail dan Muslim No : 773, dalam riwayat ini diakhir hadits berbunyi:أجلس و أدع  sebagai ganti kata:أقعد و أذر  .Lihat Syarh An Nawawi 16/56, dan lihat Jami’ul Ushul no. 3587.

[5] Shahih Muslim No : 763 dan lihat syarh An Nawawi : 6/40-46.

[6] Imam Ibnu Mandzur menyebutkan perkataan Al Jauhari bahwa kata ”طول” adalah lawan dari kata ”عرض”, lihat dalam Lisanul Arab :11/411

[7] Lihat Shohih Albukhari No :992, Abu Daud No:1367, An nasa’I No:267, Ibnu Majah No: 1363, malik No:267 Ahmad No:2164, serta dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah no: 182, Shohih Abu Dawud no: 1237 dan Irwa’ul Gholil no: 2940

[8] HR.Al Bukhori dalam Fathul Bari : 3/379-380  Kitab Tahajud Bab :Sholat Nawafil jama’atan No : 186

[9]  HR. Muslim Sarhu Nawawi :1/457 no : 568S

[10] Madzahibul arba’ah jilid 1 hal 370

[11] . Al Fiqhu ‘ala Madzahib Al Arba’ah : 1/370

[12]  Al majmu syarhu muhadzab li nawawi 4;21 dan Al aziz syarhul wajiz alma’ruf bi syarhil kabir 2;132

[13]  Al Fiqh ‘ala Madzahib Al Arba’ah : 1;371

[14]  Al mughni ibnu qudamah 2;567

[15]  Al-Muhalla:43/61, 65 dan Tahrut Tatsrib fi syarhi Taqrib:3/99, lihat shalat jama’ah hal.70.

[16]  Fatawa kubra ibnu taimiyah 2; 239 , Majmu fatawa Ibnu taimiyah  23; 112

[17] Tamamul minnah fi taliqi ala fiqih sunnah nasiruddin al bani ;279

[18]  Shalatul Jama’ah hal.70.

Leave A Reply