Hukum Shalat Idain

0

 

oleh : Rifki Kurniawan
Definisi Idain.
Idain mufrodnya Ied adalah hari raya fitri dan hari raya adha dinamakan hal itu sebagaimana perkataan Qodhi Iyadh karena waktunya memang terulang kembali.
Ada yang berpendapat karena kaum muslimin pada waktu itu kembali dalam keadaan bahagia.(Bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid jilid 2 hal 478)

Masru’iyyah sholat ied dan hukumnya.
Menurut Syaikh Abu Bakar Al – Jazairi bahwa sholat idain atau disebut juga sholat iedul fitri dan iedul adha merupakan sunnah mua’akadah yaitu sunnah yang  sangat   :ditekankan hampir mndekati wajib. Allah  memerintahkan dalam firman-Nya
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَر
Artinya, “ Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak..  Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.  Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS Al-Kautsar 1-3)
Dan denganya sebagai jalan meraih kemenangan bagi seorang mu’min sebagaimana firman Allah  :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى
Artinya, “ Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.”(Al-A’la :14-15).
Dan ini pula yang dikerjakan dan diperintahkan oleh Rasulullah  kepada para wanita dan anak-anak untuk keluar melaksanakan sholat ied, karena hal tersebut merupakan syiar dari syiar – syiar islam begitu pula denganya dapat meningkatkan kwalitas keimanan dan ketaqwaan.(Minhajul Muslim hal 221).
Sayyid Sabiq mengatakan : Bahwasanya sholat idain disyare’atkan pada awal hijriyah. Merupakan sunnah muakkadah. Dan denganya Rasulullah  memerintahkan kepada para laki-laki dan para wanita untuk keluar menunaikan sholat ied.(Fiqhus Sunnah jilid 1 hal 317)
Bahwasanya disyare’atkan ied pada tahun pertama dari hijrah Nabi Saw, seabagaiamana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Anas bin Malik Radliyallahu anhu ia berkata,” “Nabi  datang ke madinah dan penduduk madinah pada masa jahiliyah memiliki dua hari dimana mereka bermain –main dihari itu, lalu beliau bersabda, “ aku telah datang kepada kalian, pada masa jahiliyah kalian memiliki dua hari dimana kalian bermain –main dihari itu. Dan aku telah menggantikan kedua hari itu untuk kalian dengan sesuatu yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya iedul fitri dan hari raya iedul adha”.( HR Abu Dawud, An-Nasai dan Ahmad).
Ada yang berpendapat bahwa yang pertama kali disayre’atkan adalah iedul fitri, pada tahun kedua hijriah dan ini adalah pendapat yang terkenal.
Allah Swt berfirman ;
……يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya, ” ….Allah menghenadaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Al-Baqoroh 185).
Ibnu Abbas berkata, ” Aku menyaksikan pada hari ied bersama Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar dan Ustman mereka melaksanakan sholat sebelum khutbah, dan kaum muslimin telah bersepakat akan disyare’atkan sholat ied “
Kaum muslimin telah bersepakat bahwa sholat ied hukumnya bukan fardhu ain dalam hal para imam berselisih pendapat :
Menurut pengikut hanafi bahwasanya sholat ied hukumnya adalah wajib sebagiamana orang yeng terbebani kewajiban sholat jum’at, wajib atas laki – laki, merdeka, mukallaf, orang yang muqim, sehat dan tidak ada udzur baginya. Tidak ada kewajiban atas perempuan, budak, anak – anak, musafir dan orang yang mempunyai udzur kalaupun mereka mengerjakan tetap sah dan bagi mereka pahala.
Menurut pengikut Hanabilah dan sebagian pengikut Asy-Syafi’iyyah berpendapat bahwa sholat ied hukumnya fardhu kifayah sebagaimana orang yang melaksanakan sholat jum’at, jika sebagian telah melaksanakan maka sebagian yang lain menjadi gugur. Sebab fardhu kifayah karena ied merupakan syiar dari syiar – syiar islam didalamnya terdapat takbir dan menyerupai sholat jenazah, apabila penduduk suatu negeri sepakat meninggalkan sholat ied maka kewajiban Imam untuk memeranginya.
Menurut pendapat Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyyah sholat ied hukumnya adalah sunnah muakkadah, dibebankan kepada orang yang wajib untuk memenuhi kewajiban sholat jum’at, setiap orang yang wajib menjalankan sholat baik itu musafir, budak dan perempuan (Bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid jilid 2 hal 479)
Hikmah disyare’atkan sholat ied.
Setiap kaum memiliki satu hari di mana mereka menghias diri dan keluar rumah dengan perhiasan mereka. Dari Anas , ia berkata, “Nabi  datang ke madinah dan penduduk madinah pada masa jahiliyah memiliki dua hari dimana mereka bermain –main dihari itu, lalu beliau bersabda, “ aku telah datang kepada kalian, pada masa jahiliyah kalian memiliki dua hari dimana kalian bermain –main dihari itu. Dan aku telah menggantikan kedua hari itu untuk kalian dengan sesuatu yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya iedul fitri dan hari raya iedul adha”.( HR Abu Dawud, An-Nasai dan Ahmad).
Artinya, karena iedul fitri dan iedul adha itu syare’at Allah, dan Allah  pilihkan untuk hamba-Nya. Dan kedua hari raya tersebut jatuh setelah pelaksanaan dua rukun islam yaitu haji dan shiyam. Pada kedua hari itulah Allah  mengampuni orang – orang yang haji  dan orang –orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan kasih saying-Nya kepada hamba – hamba-Nya yang taat. Adapun hari raya Nairuz dan mahrajan itu adalah pilihan para penguasa pada saat itu, karena pada dua hari itu cuaca dan suasana sangat baik, disamping keistimewaan – keistimewaan lain yang segera hilang dan berlalu. Sangat jauh sekali perbedaan antara kedua keistimewaan tersebut bagi mereka yang mau merenunginya.(Shohih Fiqh Sunnah jilid 1 hal…).
.
Waktu sholat ied.
Yaitu naiknya matahari setinggi tombak, dan yang lebih utama hendaknya melaksanakan sholat iedul adha adalah diawal waktu agar memungkinkan berudhiyah dengan segera dan mengakhirkan sholat iedul fitri agar manusia memungkinkan untuk mengeluarkan zakat fitri yang bagi belum mengeluarkannya. Karena Rasulullah  pernah mengerjakan hal yang demikian, Jundub  pernah berkata, “Bahwa Nabi  pernah melaksanakan shalat iedul fitri bersama kami sedang matahari setinggi dua tombak sedang shalat iedul adha matahari setinggi satu tombak. (minhajul muslim hal 221).
Waktu pelaksanaan sholat ied adalah naiknya matahari sekitar 3 meter dari tempat tergelincirnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hasan bersandar pada hadist jandab  ia berkata, “Bahwa Nabi  pernah melaksanakan shalat iedul fitri bersama kami sedang matahari setinggi dua tombak sedang shalat iedul adha matahari setinggi satu tombak”.
Imam Asy- Syaukani mengatakan bahwasanya hadist ini sangat baik untuk pembahasan penentuan waktu sholat ied. Begitu pula dalam hadist ini istihbab untuk menyegarakan sholat iedul adha dan mengakhirkan sholat iedul fitri.
Ibnu Qudamah mengatakan disunnahkan menyegerakan sholat iedul adha untuk memberi keluasan waktu udhiyah dan juga mengakhirkan sholat iedul fitri untuk memberi keluasan waktu pengeluaran zakat fitrah (bagi yang belum mengeluarkanya) dan kami tidak mengetahui adanya khilaf.(Fiqhus Sunnah jilid 1hal 319).
Hukum sholat ied jika ia telah lewat.
Ibnu Masud   berpendapat barangsiapa yang tertinggal untuk melaksanakan sholat ied hendaknya ia sholat empat raka’at. Adapun bila ia mendapati sesuatupun bersama imam meskipun hanya tasyahud, maka hendaknya ia berdiri setelah salamnya imam lalu melaksanakan sholat dua raka’at. (Minhajul muslim hal 223)
Ulama berselisih pendapat tentang seseorang yang terlambat sholat ied bersama imam:
– Imam Ahmad dan At-Tsauri berpendapat ia sholat empat raka’at sebagaimana yang diriwayatkan oelh Ibnu Mas’ud.
– Imam As-Syafi’I dan Abu Tsaur berpendapat hendaknya ia mengqodho’nya sebagaimana imam melaksanakanya sholat dua raka’at, bertakbir sebagaimana imam takbir, dan menjahrkan sebagaimana imam menjahrkanya.
– Suatu kaum berpendapat ia sholat dua  raka’at tidak perlu menjahrkanya, dan tidak bertakbir sebagaimana takbirnya sholat ied.
– Ada yang berpendapat jika ia sholat bersama imam hendaknya sholat dua raka’at dan jika ia sholat tidak bersama imam di lapangan maka hendaknya ia sholat empat raka’at.
– Imam Malik dan sahabatnya berpendapat ia tidak perlu mengqodho’ sholatnya sama sekali..
Imam Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa imam yang berpendapat empat raka’at menyerupakan dengan sholat jum’at dan ini menyerupaan yang saya anggap lemah. Kemudian para imam yang berpendapat dua raka’at sebagaimana sholatnya imam karena mereka menjadikan bahwa asli qodho’ adalah wajib mengikuti sifat a’da'(pelaksanaan). Dan para imam yang melarang untuk mengodho’nya berpendapat bahwa sholat ied termasuk syaratnya adalah dengan berjamaah, kedudukan imam seperti halnya jamaah maka tidak wajib mengqodho’nya baik dua raka’at maupun empat raka’at karena sholat ied memang tidak adanya pengganti. Dua pendapat ini saling kontradiksi yang membutuhkan pengkajian yaitu pendapat imam Asy-Syafi’I dan Imam Malik. Adapun pendapat – pendapat yang lain adalah lemah yang tidak memiliki ma’na.(   Bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid jilid 2 hal 490
Tempat pelaksanaan sholat ied.
Sayyid Sabiq mangatakan boleh sholat ied dilakukan dimasjid, bila memang tidak ada udzur seperti hujan atau semisalnya akan tetapi pelaksanaan sholat ied berada ditanah lapang lebih utama. Karena Rasulullah Saw melaksanakan sholat idain di tanah lapang dan tidak pernah sholat dimasjid kecuali hanya sekali karena udzur seperti hujan. Dari Abi Hurairah Radliyallahu anhu bahwa para sahabat mendapati hujan pada hari ied maka mereka sholat bersama Nabi Saw didalam masjid. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim dan sanadnya majhul).(Fiqhus Sunnah 1 hal 318).
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi berpendapat hendaknya melaksanakan ditanah lapang kecuali karena terpaksa seprti hujan atau semisalnya.(minhajul muslim hal 222).
Al-Malikiyah mereka berpendapat disunnahkan melaksanakan sholat di tanah lapang dan dimakruhkan sholat dimasjid tanpa adanya udzur kecuali berada Makkah, dan yang lebih afdhol dilaksanakan di Masjidil Haram.
Al-Hanabilah mereka berpendapat disunnahkan sholat ditanah lapang dengan syarat berdekatan dengan rumah – rumah penduduk sebagi bentuk urf (kebiasaan), bila jauh dari rumah – rumah penduduk maka tidak sah menurut satu pendapat, dan dimakruhkan sholat didalam masjid tanpa adanya udzur kecuali berada di Makkah mereka sholat berada di masjidil haram.
Asy- Syafi’iyyah mereka berpendapat mengerjakanya dimasjid lebih utama kerena kemuliaan masjid kecuali karena udzur sempitnya masjid dan di makruhkan didalamnya berdesak- desakan sehingga disunnahkan untuk keluar sholat ditanah lapang.
Al-Hanafiyah mereka berpendapat tidak mengecualikan masjid dimakkah dengan masjid – masjid lainya yang dimakruhkan untuk sholat didalamnya.pendapat ini sepakat dengan Al- Hanabillah dan Al- Malikiyah.(Kitabul fiqh ala madzharibul arba’ah, Abdurahman Al-Jaziri jilid 1 hal 318).
Berangkat ke musolla beserta adab – adabnya.
1. Disunnahkan mandi sebelum berangkat.
Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar mandi pada hari raya iedul fitri sebelum berangkat ke musolla.
Ali bin Abi Tholib pernah ditanya tentang mandi (sunnah), beliau menjawab, “pada hari jum’at, hari arafah, hari raya iedul adha dan hari raya iedul fitri”
2 Berhias dan memakai baju yang paling bagus.
Sebagai dalil, hadist Ibnu Umar, ia berkata, Umar pernah mengambil jubah sejenis kain yang tebal yang dijual dipasar dan memberikanya kepada Rasulullah Saw seraya berkata, ” Wahai Rasulullah, belilah ini yang engkau pakai ketika hari raya dan menemui utusan luar….
Dari Ibnu Abbas, pada hari raya Nabi Saw memakai pakaian yang berwarna merah.
3 Makan sebelum berangkat kemusholla khusus pada hari raya iedul fitri.
Dari Anas, ia berkata, ” Rasulullah Saw makan beberapa butir kurma sebelum berangkat sholat idul fitri.(HR Bukhari 953)
Dari Buraidah, ia berkata, ” Nabi Saw pada hari raya iedyl fitri maka terlebih dahulu sebelum berangkat (shalat) dan pada hari raya iedul adha beliau tidak makan terlebih dahulu, kecuali setelah pulang dari sholat, dan beliau makan dari daging udhiyah.(HR At-Tirmidzi 542).
Hikmah dari makan sebelum berangkat sholat pada hari raya iedul fitri adalah agar tidak ada orang yang beranggapan tetapnya shiyam hingga sholat selesai, seakan –akan hal ini sebagai saddudz – dzaria’ah (langkah antisipasi). Sedang diakhirnya makan pada hari raya iedul agar dapat menikmati makan pagi deangan daging udhiyah.
4 Takbir ketika berangkat.
Allah Swt berfirman, ” Dan hendaklah kamu mencukupkan bilanganya dan hendaklah kamu mengagungan Allah atas petujuknya”.(Al-Baqorah 185).
Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw berangkat pada dua hari raya bersama Al- Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja’far, Hasan, Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah dan Aiman bin Ummu Aiman sambil mengeraskan suaranya dengan takbir dan tahlil (HR Al-Baihaqi 3/279).
Disyare’atkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suaranya dalam takbir ketika berangkat sholat ied ini sesuai kesepakatan para Imam empat madzhab. Akan tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa berkumpul untuk mengumandangkan takbir secara jama’I (bersama- sama dengan satu suara) seperti apa yang dilakukan banyak orang pada saat ini hal itu tidak ada syari’atnya.
Abu MalikKamal bin Sayyid Salim mengatakan sebagian orang mendasarkan bertakbir dengan cara berkumpul adalah dengan hadist Muallaq yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafadz jazm (yang pasti) dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah bertakbir di kubah yang terletak di Mina dan orang – orang yang di masjid mendengar takbirnya, dan mereka mengikuti takbir tersebut. Kemudian orang –orang yang pasarpun ikut bertakbir hingga Mina seakan –akan bergetar karena gemuruh takbir…. Demikian pula para wanita, mereka bertakbir di belakang Aban bin Utsman, dan Umar bin Abdul Aziz selama hari –hari tasyriq bersama para laki- laki di masjid…
Intinya adalah bahwa masalah ini adalah masalah ijtihad, maka tidak boleh dijadikan sebagai sesuatu yang menyebabkan perdebatan dan perpecahan.
 (shohih fiqh sunnah jilid 1 hal )
5 melakukan takbir dimulai malam hari raya, dan dilanjutkan pada hari ketiga dari hari – hari tasyriq jika pada hari raya iedul adha namun bila hari raya iedul fitri sampai imam keluar melaksanakan sholat iedul fitri.
6 Keluar menuju ke tanah lapang melalui arah yang berbeda dari pergi dan pulang menuju jalan yang lain.
Sebagiamana sabda Nabi Saw dalam masalah itu. Jabir berkata, ” Bahwa Nabi Saw bila beliau berangkat pada hari ied melalui jalan yang berbeda”(HR Bukhari)
7 Mengucapkan kalimat tahni’ah seorang muslim mengatakan kepada sesame saudaranya “Taqoballahu Minna wa minka”, sebagaimana diriwayatkan bahwasanya sahabat Rasulullah Saw apabila sebagian mereka bertemu dengan sebagian yang mereka mengucapakan  “Taqoballahu Minna wa minkum”(HR Ahmad dengan sanad Jayid).
8 Tidak diperbolehkan untuk berlebih – lebihan dalam makan, minum dan perbuatan yang sia – sia. Sebagaimana sabda Rsaulullah Saw pada hari iedul adha” Hari – hari tasyriq adalah hari makan, minum dan dzikir kepada Allah Azza wa jalla”(Minhajul Muslim hal 222)
Tentang batasan waktu dan Lafadz takbir.
Ulama berbenda pendapat dalam masalah batasan waktu takbir pada hari raya Adha:
• Imam Ahmad, Sufyan dan Abu Tsaur berpendapat bertakbir dimulai sejak dari sholat subuh pada hari arafah sampai akhir hari tasyriq.
• Menurut Imam Asy-Syafi’I dan Imam Malik bertakbir : dimulai dari sholat dhuhur pada hari nahr sampai sholat subuh dihari terakhir dari hari – hari tasyriq.
• Imam Az-Zuhri berpendapat sebagaiamana tahun yang telalu para imam dikota – kota bertakbir setelah melaksanakan sholat dhuhur pada hari nahr sampai waktu ashar di akhir hari tasyriq.
• Sayyid Sabiq berpendapat pada waktu iedul adha betakbir sejak hari arafah hingga waktu ashar dihari – hari tasyriq 11, 12 dan 13 dari bulan Dzul hijjah. . (fiqh Sunnah jilid 1 hal 325)
Sedangkan batasan waktu takbir pada hari raya iedul fitri para ulama juga berbeda pendapat :
• Jumhur ulama diantaranya Ibnu Umar, jamaah dari para sahabat, dari para tabi’in, imam Malik, imam Ahmad, ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bertakbir dipagi ketika hendak berangkat melaksanakan sholat iedul fitri.
• Sekelompok kuam berpendapat bertakabir kepada Allah dimulai sejak malam iedul fitri ketika hilal nampak sampai dipagi hari ketika berangkat ketanah lapang.(bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid jilid 2 hal 494).
• Sayyid Sabiq mengatakan bahwa hokum bertakbir pada dua hari raya adalah sunnah. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya takbir pada hari raya iedul fitri dimulai ketika keluar menuju ketempat sholat sampai dimulainya khutbah. (fiqh Sunnah jilid 1 hal 325)
Adapun berkenaan dengan lafadz takbir :
Tidak ada satupun hadist yang marfu’  yang shohih dari Nabi SAW berkenaan dengan lafadz takbir, tapi ada beberapa riwayat dari Ibnu Mas’ud bahwa ia mengucapakan :
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد.
” Allah Maha Besar, Allah Maha besar, tiada ilah yang haq kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Segala puji milik Allah ” (HR Ibnu Abi Syaibah 2/ 168).
Ibnu juga mengucapkan :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد وأجل الله أكبر علي ما هدانا
” Allah Maha Besar, Allah Maha besar, tiada ilah yang haq kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Segala puji milik Allah, Allah Maha Besar dan Mulia, Allah Maha Besar atas apa yang Dia tunjukan pada kami “(HR Al-Baihaqi 3/315).
Salaman RA juga pernah mengatakan, “bertakbirlah kalian dengan ucapan:
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
(HR.Al-Baihaqi 3/316)
(Shohih Fiqh Sunnah jilid 1 hal )
Hukum sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah pada sholat idain.
Dalam masalah sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah pada sholat ied ulama berebda pendapat :
 Jumhur Ulama diantaranya Ali bin Abi Tholib, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Jabir dan Imam Ahmad berpendapat tidak ada sholat nafilah baik qobliyah maupun ba’diyah dalam sholat ied.
Mereka berdalil bahwa Rasulullah Saw ketika keluar pada hari iedul fitri atau dihari adha beliau sholat dua raka’at dan tidak melakukan sholat qobliyah maupun ba’diyah.(HR Bukhari 2/476).
 Anas, Urwah dan Imam Asy – Syafi’I berpendapat boleh sholat qobliyah dan ba’diyah
Mereka berasalan bahwa dalam masalah ini adalah perkara yang rukhsoh mereka memandang bahwa nama masjid dapat dikaitkan dengan musholla dan sunnah untuk melaksanakan sholat nafilah didalamnya.Rasulullah Saw bersabda, ” Jika salah seorang diantara kalian mendatangi masjid maka sholatlah dua raka’at terlebih dahulu “
 Imam Ats-Tsauri, Al-Auza’I, dan Imam Abu Hanifah berpendapat dibolehkan sholat ba’diyah dan dilarang sholat qobliyah.
Pendapat ini melihat dari segi mubah dan boleh – boleh saja melasanakan qobliyah dan ba’diyah, karena tidak bisa nama masjid dikaiykan dengan musholla.(bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid jilid 2 hal 492)
Kami lebih memilih kepada pendapat jumhur ulama bedasarkan dalil yang pasti bahwa Rasulullah Saw ketika mendatangi musholla beliau hanya melaksanakan sholat ied saja tanpa qobliyah dan ba’diyah itulah yang banyak disaksikan oleh para sahabat sedang pengqiyasan antara masjid dan musholla tidak terdapat nash yang menerangkan. Wallahu a’lam bi showab.
Tidak ada adzan dan iqomah dalam sholat ied.
DariIbnu Abbas dan Jabir RA, keduanya berkata, “ Tidak ada pada sholat hari raya iedul fitri dan iedul adha.”(HR Bukhari 960 dan Muslim 886).
Dari Jabir bin Samurah , ia berkata, “ Aku telah berulang kali sholat ied bersama Rasulullah  tanpa adzan dan iqomah.”(HR Muslim 887, Abu Dawud 1148 dan At-Tirmidzi 532).
Ibnul Qoyyim berkata, “ Nabi  begitu sampai ke musholla, lansung melaksanakan sholat tanpa adzan, iqomah ataupun ucapan, “Assholatu jami’ah” , sunnahnya adalah tidak ada hal semacam itu
Oleh kerena itu panggilan adzan dan iqomah atau yang lainya dalam sholat ied dalah bid’ah, Wallahu A’lam (shohih fiqh sunnah jilid 1 hal..)
Cara melaksanakan sholat ied.
Tata cara sholat ied adalah hendaknya para kaum muslimin keluar menuju ke lapangan dalam keadaan bertakbir, sampai matahari naik beberapa meter, lalu imam berdiri untuk menunaikan sholat tanpa adanya adzan dan iqomah. Sholat dua raka’at pada raka’at pertama bertakbir 7 kali termasuk dengan takbiratul ihram dan para ma’mum mengikutinya, hendaknya imam membaca surat Al-fatihah dan surat Al-A’la secara jahr. Dan pada raka’at yang kedua takbir 6 kali termasuk takbir dari sujud sampai berdiri, imam membaca surat Al-fatihah dan surat Al-Ghosyiyah atau Asy-Syams atau Ad-Dhuha. Kemudian sampai salam. Setelah itu berkhutbah dihadapan para kaum muslimin, duduk ditengah –tengah khutbah dengan duduk ringan. Menasehati dan mengingatkan kepada kaum muslimin, disisipi dengan takbir sebagaimana ia membukanya dengan memuji Allah . Apabila ia berkhutbah pada shalat iedul fitri hendaknya mengajurkan untuk mengeluarkan zakat fitrah dan apabila ia berkhutbah pada sholat iedul adha hendaknya ia menganjurkan untuk berudhiyah begitu pula menjelaskan sunnah – sunnah yang terkait denganya. Bila telah selesai hendaknya langsung bubar karena pada sholat ied tidak ada sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah. (Minhajul Muslim hal 223).
Khutbah setelah sholat ied.
Khutbah idain merupakan sunnah ini sesuai dengan kesepakatan, jika terpenuhi rukun –rukunya yaitu sebagaimana rukun – rukun pada khutbah sholat jum’at kecuali pada pembuka, karena khutbah jum’at sebagai pembuka adalah dengan tahmid. Kami akan sebutkan rukun – rukun khutbah iedain menurut beberapa madzhab :
 Menurut Al-Hanafiyah bahwa khutbah ied sama halnya dengan khutbah jum’at, memiliki satu rukun agar terpenuhinya khutbah, cukup hanya menyebutkan tahmid, tasbih dan tahlil dan tidak disyaratkan mengucapkan pada khutbah yang kedua akan tetapi hal itu merupakan sunnah.
 Menurut Al-Malikiyah bahwa khutbah ied sebagimana halnya khutbah jum’at memiliki satu rukun yaitu mengingatkan ancaman dan kabar gembira (kepada para jamaah).
 Menurut Al- Hanabilah bahwa rukun – rukun khutbah idain ada tiga pertama bersholawat kepada Nabi , yang kedua membaca ayat –ayat dari kitabullah berkenaan tentang umum atau tentang hokum – hokum dan yang ketiga berwasiat untuk selalu bertaqwa kepada Allah, dengan mengatakan bertaqwalah kepada Allah!! Atau memberi peringatan bila menyelisishi perintah Allah atau yang semisalnya. Adapun pembuka khutbah ied dengan takbir merupakan sunnah berbeda dengan khutbah jum’at karena sebagai pembuka dengan tahmid dan ini termasuk dari rukun – rukun khutbah.
 Menurut Asy – Syafi’iyyah bahwa rukun khutbah ied ada empat yang pertama bersholawat kepada Nabi  baik di khutbah pertama maupun kedua, hendaknya bersholawat dengan sempurna, yang kedua anjuran untuk bertaqwa kepada Allah pada setiap khutbah seperti mengatakan taatlah kepada Allah !! atau memperingatkan tentang dunia dan tipu dayanya, yang ketiga membacakan ayat Al-Qur’an pada salah satu khutbah, yang lebih utama pada khutbah yang pertama, dan juga disyaratkan untuk membaca ayat secara sempurna bila ayat tersebut pendek jika ayat tersebut panjang maka bacalah sebagian saja. Hendaknya ayat yang dibaca berkenaan tentang ancaman, janji, hokum, kisah, tentang permisalan ataupun khabar – khabar, dan yang keempat hendaknya khotib berdo’a untuk kaum mu’minin dan mu’minat pada khutbah yang kedua memintakan ampun di akherat atau urusan dunia.
Adapun syarat – syarat khutbah idain :
 Menurut pendapat Al-Malikiyah disyaratkan pada khutbah iadain dengan menggunakan bahasa arab meskipun terdapat orang a’jam yang tidak mengetahui bahasa arab, yang kedua hendaknya khutbah dilaksanakan setelah sholat.
 Menurut pendapat Al- Hanafiyah disyaratkan mendatangkan satu orang agar khutbah menjadi sah untuk mendengarkan khutbah, yang kedua hendaknya yang menghadiri berniat sebagiamana hari jum’at namun tidak disyaratkan untuk mendengarkan khutbah, meskipun jauh dari khotib atau ia tuli maka khutbah tetap sah, dan tidak di syaratkan menggunakan bahasa arab dan tidak disyaratkan khutbah setelah sholat akan tetapi sunnah diakhirkan setelah sholat, barangsiapa yang mendahulukan sebelum sholat maka sungguh ia telah menyelisihi sunnah.
 Menurut pendapat Asy-Syafi’iyyah syarat sahnya khutbah ied dan jum’at hendaknya khotib mengeraskan bacaan yang menjadi rukun – rukun khutbah dan batasannya hendaknya suaranya dapat didengar oleh 40 orang, hendaknya khutbah dilaksanakan setelah sholat ied, jika mendahului sholat maka tidak dianggap dan disunnahkan untuk mengulanginya setelah melaksanakan sholat.
Menurut pengikut Al- Hanabilah syarat sahnya khutbah ied dan jum’at hendaknya khotib mengeraskan khutbahnya hingga jumlah yang mendengar sebagaimana sholat jum’at yaitu 40 orang sebagaimana pendapat Asy- syafi’iyah, apabila para jama’ah tidak mendengar bacaan yang menjadi rukun – rukun khutbah tanpa adanya pengahalang seprti tidur, lalai ataupun tuli maka khutbah tersebut batal. Adapun jika 40 orang yang tidak mendengar khutbah kerena kecilnya suara khotib maka khutbah tersebut tidak sah, dan hendaknya khutbah dilaksanakan setelah sholat.( Kitabul fiqh ala madzharibul arba’ah, Abdurahman Al-Jaziri jilid 1 hal 321).
Khutbah ied dengan menggunakan mimbar.
Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan menurut sunnah, imam berkhutbah setelah sholat satu kali khutbah bukan dua berdiri di atas tanah dan bukan diatas mimbar. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Saw, para Khulafa’ur Rasyidin dan orang – orang setelah mereka.
Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata, Nabi Saw pada hari raya iedul fitri dan iedul adha berangkat ke musholla, yang pertama beliau lakukan adalah sholat lalu setelah selesai, beliau berdiri menghadap para jamaah – dan mereka duduk di shof –shof masing – masing –lalu beliau memberi nasehat, wasiat
Bolehkah mengucapkan selamat hari raya?
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ fatawa 24/ 253 beliau berkata, “Adpun ucapan, تقبل الله منا ومنكم atau  أحل عليكdan yang lainya adalah berdasarkan riwayat dari sebagian sahabat, bahwa mereka melakukanya. Demikian juga para imam, dalam hal ini mereka memberikan keringanan, seperti : Imam Ahmad dan lainya. Akan tetapi Ahmad berkata, ” Aku tidak mendahului mengucapakan kalimat itu pada seseorang, jika ada yang memulai, maka aku akan menjawabnya. Hal ini kerena menjawab ucapan salam adalah wajib. Sedangkan memulai dengan ucapan  selamat tidak diperintahkan dan juga tidak dilarang. Dengan demikian, barangsiapa yang melakukanya, hal memang ada contohnya dan barangsiapa yang meninggalkan juga ada contohnya. Wallahu a’lam.
Al – Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam fathul bari 2/ 517 , “Kami telah meriwayatkan dalam kitab Al Mahamiliyah dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair ia berkata, ” Para sahabat Rasulullah Saw ketika mereka bertemu satu sama lain, mereka mengucapakan “Taqoballahu minna wa minka”.
Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam kitab Al-Mughni 2/259 seperti apa yang disebutkan oleh Al-Hafidz dari Abu Umamah dan sahabat Nabi Saw lainya dan beliau menyebutkan bahwa Ahmad memuji baik hadist Abu Umamah ini .Lihat Tamamul Minnah 354 – 356.
Jadi tidak diragukan lagi bahwa ucapan selamat merupakan akhlaq yang terpuji dan salah satu bentuk rasa sosial di antara umat islam, san ucapan memiliki pengaruh yang baik dalam rangka mempererat hubungan hubungan dan silahturahmi dan menumbuhkan perasaan cinta di antara umat islam. Dan, minimal kita menjawab ucapan selamat kepada orang yang memberi selamat kepada kita dan diam kepada orang yang tidak mengucapkan selamat pada kita. (shohih fiqh sunnah jilid 1 hal …

Leave A Reply