HUKUM MENETAPNYA PERAWAT WANITA BERSAMA PERAWAT PRIA DI RUMAH SAKIT TANPA TERJADI KHULWAH

0

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Saya seorang perawat (laki-laki) yang bertugas merawat kaum laki-laki, bersama saya ada seorang suster (perawat wanita) yang bertugas di bagian yang sama setelah selesai jam kerja yang resmi, waktu kerjanya terus berlangsung hingga pagi. Kadang terjadi Khulwah antara kami berdua, kami pun takut terjadi fitnah terhadap diri kami, tapi kami tidak bisa mengubah kondisi ini. Apakah kami harus meninggalkan tugas karena takut kepada Allah ? Sementara kami tidak mempunyai pekerjaan lain untuk mencari nafkah. Kami mohon arahan Syaikh.

Jawaban.
Para pemimpin rumah sakit-rumah sakit tidak boleh menugaskan seorang perawat laki-laki dan seorang perawat wanita untuk piket dan jaga malam bersama, ini suatu kesalahan dan kemungkaran besar, dan ini artinya mengajak kepada perbuatan keji. Jika seorang laki-laki hanya berduaan dengan seorang wanita di suatu tempat, tidak bisa dijamin aman dari godaan setan untuk melakukan perbuatan keji dan sarana-sarananya. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali yang ketiganya setan” [1]

Maka perbuatan itu tidak boleh dilakukan, dan hendaknya anda meninggalkannya karena itu perbuatan haram dan bisa mengarah kepada yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika anda meninggalkannya, Allah akan memberikan ganti yang lebih baik, sebagaimana firmanNya.

“Artinya : Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” [Ath-Thalaq : 2-3]

Dan firmanNya.

“Artinya : Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” [Ath-Thalaq : 4]

Begitu pula perawat wanita, hendaknya menjauhi itu dan minta jadwal tugas lain, karena masing-masing anda akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa-apa yang diwajibkan dan diharamkan Allah atasnya.

[Fatawa Ajilah Limansubi Ash-Shihhah, hal.24-26, Syaikh Ibnu Baz]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=1422&bagian=0

Leave A Reply