Hukum Melafadzkan Niat Dalam Sholat

0

 

Pertanyaan:
Hukum melafadzkan niat dalam sholat
Jawaban
Dalam masalah niat ada yang telah disepakati oleh para ulama ada pula yang masih diperselisihkan oleh mereka, adapun yang disepakati oleh para ulama adalah tempat niat yaitu didalam hati. Tidak ada seorangpun dari kalangan ulama ahlu sunnah yang menyelisihi kesepakatan ini.

Sedangkan yang masih diperselisihkan oleh para ulama adalah tentang keharusan (boleh tidaknya) melafadzkan niat. Tentang masalah ini bisa kita simpulkan bahwa madzhab para ulama terbagi menjadi tiga kelompok:
a)                  Golongan yang menyunnahkan melafadzkan niat dalam setiap ibadah, terutama dalam ibadah sholat. Bahkan sebagian golongan ini menjadikan “melafadzkan niat” sebagai syarat sah sebuah ibadah. Mereka adalah “Syafi’iyah” (pengikut Imam asy-syafi’i). Perlu dicatat pendapat “Syafi’iyah” belum tentu pendapat imam asy-syafi’I, terutama syafi’ah yang hidup setelah masa imam asy-syafi’i. Dengan dalih bahwa itu akan lebih memantapkan hati atau lebih membantu keikhlasan hati.
b)                  Golongan yang melarang melafadzkan niat kecuali bagi orang-orang yang ditimpa rasa was-was saat ingin beribadah (seperti sholat). Mereka berdalih bahwa itu akan membantu orang yang tertimpa was-was tadi untuk mengihklaskan niatnya serta membantu menghilangkan rasa was-was. Kelompok ini diwakili oleh “Malikiyah” (pengikut imam malik) dan “Ahnaf” (madzhab hanafi).
c)                  Golongan yang menghukumi secara mutlak (tanpa pengecualian) bahwav “melafadzkan niat” sebuah kebid’ahan. Pendapat inilah yang paling benar dan menjadi pegangan mayoritas ulama. Alasan golongan terakhir ini adalah:
Ø    Niat adalah ibadah sedangkan ibadah sendiri haruslah berdasarkan contoh/petunjuk dari rasulullah saw. Dan setiap ibadah yang dilakukan oleh seseorang tanpa petunjuk /contoh dari rasulullah maka itu adalah perbuatan bid’ah. Dan rasulullah belum pernah melafadzkan niatnya apalagi mengkeraskannya, begitu pula sahabat beliau atau para ulama lainnya. Ibnu Qoyiim rhm berkata, ““Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengucapkan “Nawaitu Ro’al Hadats”(aku berniat menghilangkan hadats). Beliau sama sekali tidak pernah berbuat seperti itu, tidak pula seorang pun dari para Shahabat. Sekalipun lafadz niat itu hanya satu huruf, tidak pula ditegaskan riwayat yang shohih maupun dho’if.[1]
Ø    Rasulullah saw menyuruh kita untuk mencontohi beliau dalam sholat baik sejak takbir sampai salam bahkan sampai dzikir beliau bersabda,صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّيSholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Dan rasulullah belum pernah menyatakan bahwa permulaan sholat adalah dengan melafadzkan niat, akan tetapi dengan takbir. Beliau bersabda, “« إذا قمت إلى الصلاة فكبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن » “Jika kamu ingin melaksanakan shoolat maka bertakbirlah lau bacalah yang mudah bagimu dari alqur’an”.(HR. Bukhori 1/182).
Ø    Melafadzkan niat termasuk tanda kekurangan akal. Ibnu Taimiyah berkata, “Melafadzkan niat menunjukkan kekurangan dalam berfikir dan beragama. Jika dilihat dari kaca mata agama, maka melafadzkan niat termasuk perkara bid’ah, sedangkan jika dilihat dari kaca mata akal, maka orang yang melafadzkan niat sama seperti orang yang hendak menyantap makanan sambil berkata: “ Aku berniat meletakkan tanganku di piring ini, aku ingin mengambil sesuap darinya, lalu memasukkannya ke mulut, mengunyahnya dan menelannya agar aku kenyang”. Tentu hal ini menunjukkan ketidak beresan dalam akalnya.[2]
Ø    Ulama dari kalangan syafi’iy sendiri mengingkari orang yang melafadzkan niat. Imam An-Nawawi –salah satu ulama syafi’I abad 7 H. berkata : “Beberapa rekan kami berkata : “Orang yang mengatakan itu, telah keliru, karena bukan itu yang dikehendaki oleh Imam Asy-Syafi’I dengan kata An-Nuthq didalam sholat. Akan tetapi yang dimaksud adalah Takbir”.[3]Maksudnya orang yang mengatakan bahwa imam syafi’I membolehkan melafadzkan niat beralasan karena imam asy-syafi’I berkata, ““Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup, sekalipun tidak dilafadzkan, tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AnNuthq (padahal yang dimaksud dengan An-Nuthq oleh Imam Asy-Syafi’I disini adalah Takbir –bukan lafadz niat-)[4].


[1]               Zaadul Ma’ad : I/ 196
[2]               Al-Fatawa Al-Kubro : I/ 214
[3]               At-Ta’lim : 100
[4]               Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab : II/ 243

Leave A Reply