Hukum Bermadzhab

0

Tema ini sangat urgen bagi seorang ahli fiqh atau bagi seorang guru untuk memberikan pemahaman yang benar tentang hukum berpegang dengan salah satu madzab. Apakah seseorang dianjurkan untuk menganut madzhab tertentu? Bagaimana hukum bertaklid? Apa batasan-batasan pembolehan?

Peninggalan fiqh yang kita miliki yang memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi manusia ini tidak terbatas pada madzhab empat saja (Hanafi, Maliki, Hanbali dan Syafii).

Madzhab dalam Islam banyak dan beragam, baik yang ada hingga sekarang, atau punah, atau tinggal dalam buku-buku saja. Dalam pendapatpendapat dari sekian yang ada banyak memberikan faidah dan guna dalam memberikan alternatif hukum pemecahan suatu masalah. Sebab agama Allah ini muda dan tidak kesulitan bahkan untuk mewujudkan kepentingan dan kebutuhan manusia. Berbeda dengan seorang hakim, menurut Dr. Wahbah Az Zuhaili, ia harus berpegang dengan madzhab empat karena ini yang diamalkan oleh ulama-ulama ahli sunnah hingga saat ini sehingga hal ini menjadi semacam urf.

Hal yang menjadi kewajiban seseorang dalam belajar fiqh adalah berusaha – dengan ilmu yang ia miliki – mencari kebenaran dan maslahah dari pendapat-pendapat fiqh dan meninggalkan pendapat yang “aneh” dan bertentangan dengan sumber dan dasar-dasar syariat. Allah memerintahkan kita untuk mengikuti sahabat dan tabiin.

Allah berfirman,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)

Imam Syafii mengatakan,”Pendapat mereka lebih baik dari pada pendapat kami,” Al Izz bin Abdus Salam mengatakan,”Jika seorang muqallid meyakini kebenaran sebuah pendapat dalam suatu madzhab maka ia sah untuk mengikutinya meski bukan dari madzhab empat. Ia sah untuk mengikuti salah satu madzhab yang ada,”

Al Iraqi berkata,”Ijma’ ulama menyatakan bahwa barangsiapa yang masuk Islam, maka ia boleh bertalqlid dengan siapa saja tanpa dosa. Para sahabat sepakat bahwa orang yang meminta fatwah kepada Abu Bakar dan Umar kemudian bertaqlid dengannya, maka ia sah untuk meminta fatwah kepada Abu Hurairah, Muadz bin Jabal dan lainnya dan beramal dengan pendapat mereka. Barangsiapa yang mengaku ijma’ ini tidak berlaku maka ia harus menunjukkan dalil.”

Dari sini bisa disimpulkan bahwa tidak ada dalil satupun untuk mewajibkan seseorang untuk mengikuti satu dari  empat madzhab yang ada. Keempat madzhab ini dinilai sama. Juga sah saja mengikuti madzhab selain empat madzhab yang ada.

Namun demikian tetap ada perbedaan ulama tentang apakah komitmen dengan satu madzhab tertentu dituntut (diharuskan)? Pendapat sebagian ulama: Komitmen dengan satu madzhab tertentu dan imam tertentu hukumnya harus karena ia yakin bahwa pendapat itu benar sehingga ia harus komitmen dengan keyakinannya.

Pendapat sebagian besar ulama: tidak harus komitmen dengan satu imam tertentu dalam semua masalah dan hukum. Namun ia boleh bertaqlid dengan imam mujtahid tertentu yang ia kehendaki. Jika berkomitmen dengan satu madzhab tertentu seperti madzhab Abu Hanifah, Syafii atau yang lain, maka ia tidak wajib terus-menerus (berkelanjutan) mengikuti mereka dalam setiap masalah. Ia boleh berpindah dan memilih dari madzhab satu ke madzhab yang lain.

Sebab ia hanya wajib mengikuti apa yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Sementara Allah dan Rasul-Nya tidak mewajibkan seseorang untuk mengikuti salah satu dari ulama, Allah hanya memerintahkan untuk mengikuti mereka secara umum, tanpa mengkhususkan satu dari yang lain. Allah berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (An Nahl: 43)

Disamping itu pendapat yang menyatakan harus komitmen dengan satu madzhab akan menyebabkan kesulitan dan kerepotan, padahal madzhab-madzhab yang ada adalah nikmat dan rakmat bagi umat. Apakah wajib bertanya kepada orang ahli ilmu yang lebih utama (lebih banyak ilmunya) atau sah baginya bertanya dengan ahli ilmu yang paling mudah baginya?

Pendapat sebagian pengikut Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal bahwa seseorang harus berusaha bertanya kepada orang lebih baik kwalitas ilmu, wara’, dan agama jika memungkinkan dan ia juga harus menimbang mana di antara di antara jawaban yang lebih kuat untuk diikuti.

Imam Al Ghazali mengatakan,”Barangsiapa yang yakin bahwa Imam Syafi’I lebih utama, dan ia yakin Syafii lebih banyak benarnya maka ia tidak boleh mengambil madzhab lain hanya karena keininginan dan selera semata tanpa pertimbangan dalil yang ada. Sebab pendapat ulama bagi manusia umum seperti pertanda sehingga seorang penanya hanya melalukan tarjih (memilih yang lebih kuat). Caranya adalah memilih di antara mereka yang paling banyak ilmu, kredibilitas agama, wara’ dan sifat-sifat mulia lainnya.

Menurut Abu Bakr Al Arabi dan kebanyakan ulama dan ahli usul: Seseorang boleh memilih di antara ulama untuk diikuti pendapatnya. Ia boleh memilih bertanya baik mereka kwalitasnya sama atau berbeda dan boleh memilih yang lebih rendah (mafdlul) meski yang utama (afdlal) ada. Sebab Allah berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (An Nahl: 43)

Sebab sahabat sepakat; di antara para sahabat ada yang utama (fadlil) dan ada dibawah itu (mafdlul) dari kalangan ahli ijtihad, di antara mereka juga ada yang awam, namun tidak ada seorang pun di antara mereka yang mewajibkan orang awam untuk mengikuti seorang mujtahid dari sahabat. Kalau seandainya memilih di antara pendapat yang ada tidak boleh maka tidak mungkin sahabat membiarkannya.

Dikutip dari: Fiqih dan Syariah; Ahmad Sarwat Lc.; DU CENTER

Leave A Reply