Hendaknya Ia Segera Melaksanakan Perkara Itu Setelah Istikharah

0

Hendaknya dia melihat kemudahan yang Allah ta’ala berikan kepadanya. Jika mudah, berarti urusan itu baik. Adapun jika tidak baik, maka jangan dilakukan. Sebagian orang berkata, “Hendaknya ia melakukan apa yang terbuka hatinya untuk melakukannya.”

Akan tetapi, kadang kala seseorang telah terbuka hatinya untuk satu pilihan sebelum istikharah. Sebagian orang jahil berpendapat bahwasannya ia harus melihat urusan itu dalam mimpi. Padahal, yang sebenarnya bukanlah seperti itu.

Ibnu Hajar berkata, “Diperselisihkan tentang apa yang harus dilakukan seseorang setelah istikharah.” Ibnu Abdussalam berkata, “Hendaknya ia melakukan apa yang dimudahkan baginya.” Dia berdalil dengan sabda rasulullah shollaullohu alaihi wassalam dalam sebagian jalur riwayat Ibnu Mas’ud yang bagian akhirnya berbunyi, “Kemudian, hendaknya ia membulatkan tekad.” Dan pada awal hadits disebutkan, “Jika salah seorang dari kalian menginginkan suatu perkara, hendaknya ia mengucapkan…” Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkaar, “Hendaknya setelah istikharah, ia melakukan apa yang terbuka hatinya untuk melakukannya.” Dia berdalil dengan hadits Anas yang diriwayatkan oleh Ibnus Sunni, “Jika seseorang berhasrat melakukan sesuatu, hendaknya ia beristikharah kepada Rabb nya sebanyak tujuh kali. Kemudian, lihatlah apa yang lebih dahulu terlintas dalam hatinya, karena sesungguhnya terdapat kebaikan di dalamnya.” Seandainya hadits ini shahih, tentulah bisa dijadikan sandaran. Namun, sanad hadits ini sangat lemah. Maka dari itu yang dijadikan sandaran adalah janganlah ia melakukan apa yang terbuka hatinya untuk melakukannya dari perkara yang ia memiliki ambisi kuat terhadapnya sebelum istikharah.”[1]

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] Fathul Bari (XI/191).

Leave A Reply