Harta Yang Wajib Dikeluarkan Zakatnya

0

Zakat telah diwajibkan atas empat jenis harta:

1) Biji-bijian dan buah-buahan yang tumbuh diatas bumi.

2) Hewan ternak yang makan dengan bebas di atas bumi.

3) Emas dan perak.

4( Barang dagangan yang dengannya seseorang melakukan jual beli.

Untuk setiap jenis harta ini, ada jumlah tertentu yang wajib dikeluarkan Zakatnya (yang disebut nishab).

Buah-Buahan dan Biji-Bijian

Nishab untuk buah-buahan dan biji-bijian adalah 5 wasaq, dan 1 wasaq setara dengan 60 sha’ ukuran di masa Nabi . Jumlah ini diukur berdasarkan sha’ (ukuran) di masa Nabi , seperti kurma, kismis, gandum, beras, barley, dan semisalnya, setara dengan 300 sha’ menurut sha’ di masa Nabi _. (Satu sha’) setara dengan 4 genggam penuh ukuran rata-rata tangan seorang pria dewasa).[1]

Jumlah yang wajib dikeluarkan zakatnya atas buah-buahan dan biji-bijian (jika telah sampai nishabnya) adalah 10% jika kurma atau tanaman sumber airnya bergantung kepada alam, seperti hujan dan sungai, danau dan yang semisalnya.

Jika (sumber) airnya bergantung kepada sesuatu yang tidak alami, seperti menggunakan binatang untuk mengairi atau mesin untuk mengangkat air dan semisalnya, jumlah yang harus dikeluarkan zakatnya adalah 5%, sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah.[2]

Binatang Ternak yang Digembalakan

Nishab bagi unta, lembu dan domba yang digembalakan di alam telah dijelaskan dalam beberapa hadits yang shahih dari Rasulullah , dan seseorang yang ingin memperoleh ilmu mengenainya dapat bertanya kepada para ulama.  Jika tidak, kami tidak akan menjelaskan lebih jauh kami akan menyebutkannya untuk memperoleh faedah darinya.

Emas dan Perak

Nishab perak adalah 140 miskal. Dalam mata uang Arab Saudi setara dengan 56 riyal. Nishab emas adalah 26 miskal, yang setara dengan 11 3/7 pound, setara dengan 92 gram.

Jumlah yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2.5% dari total jumlah jika telah mencapai nishabnya dan berada dalam kepemilikan seseorang secara terus-menerus salama periode satu tahun (hijriah).

Keuntungan harus diperhitungkan berdasarkan simpanan awal, dan tidak disyaratkan berada dalam kepemilikan seseorang selama satu tahun, sama halnya dengan kelahiran binatang ternak dijumlahkan secara total dengan ternak lainnya. Jika jumlah awal (emas dan perak) telah mencapai nishab, tidak disyaratkan keuntungannya telah berada dalam kepemilikan seseorang selama jangka waktu satu tahun (yakni zakat harus dikeluarkan dari total jumlahnya).

Mata Uang

Uang kertas dan uang logam yang digunakan manusia sekarang ini jatuh ke dalam hukum emas dan perak, apakah ia disebut Dirham, Dinar, Dolar atau yang lainnya. Jika nilainya telah mencapai nishab perak atau emas dan berada dalam kepemilikan seseorang selama satu tahun, maka wajib atasnya zakat.

Perhiasan

Perhiasan emas dan perak juga jatuh ke dalam hukum (umum) emas dan perak. Jika beratnya telah mencapai nishab dan berada dalam kepemilikan seseorang dalam jangka waktu satu tahun, maka zakat menjadi wajib atasnya. Hal ini berlaku meskipun bila perhiasan tersebut dikenakan oleh pemiliknya atau dipinjamkan kepada orang lain (dan tidak hanya disimpan yang kelak akan digunakan atau untuk mendatangkan keuntungan) menurut pendapat yang benar dari dua pendapat yang dipegang para ulama. Hal ini disebabkan oleh keumuman sabda Nabi ketika beliau bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang memiliki emas dan perak dan tidak mengeluarkan (zakat) darinya kecuali pada hari kiamat akan dibuat menjadi piringan dari api dan dicelupkan kedalam api neraka dan tubuh, dahi dan punggungnya akan dibakar dengannya….”

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Telah ditegaskan pula dari Nabi bahwa beliau melihat gelang melingkar pada seorang wanita dan beliau berkata:

“Apakah telah kamu tunaikan zakatnya?”

Wanita tersebut menjawab, “Belum.”

Beliau berkata, “Sukakah kamu jika Allah memakaikan dua gelang dari api naar pada Hari Kiamat?”

Maka wanita itu pun melepaskan keduanya dan berkata, “Ini untuk Allah dan Rasul-Nya (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’I dengan sanad hasan).

Telah diriwayatkan secara shahih dari Ummu Salamah xbahwa ia mengenakan perhiasan dari emas, dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk harta simpanan?”

Beliau menjawab:

“Apa saja yang telah mencapai nila untuk dizakati lalu dibayarkan zakatnya, ia tidak dipandang sebagai harta simpanan”[3]

Juga terdapat hadits lain yang menyebutkan hal ini.

Stok (Inventori)

Inventory adalah total jumlah komoditi yang berada dalam kepemilikan seseorang untuk dijual. Seseorang harus menghitung total inventorinya di akhir tahun, dan 2.5% dari nilainya harus dibayarkan, apakah nilainya sama, lebih besar atau lebih kecil dari harganya. Samurah meriwayatkan:

”Rasulullah _ memerintahkan kami untuk mengeluarkan Zakat bagi barang-barang yang kami miliki untuk dijual.” (HR Abu Dawud)

Beberapa contoh barang yang termasuk dalam kaidah ini adalah:

  1. Tanah yang dibeli dan dijual seseorang,
  2. Bangunan,
  3. Mobil,
  4. Mesin yang mengangkat air,
  5. Segala sesuatu yang dimiliki seseorang untuk dijual.

Adapun bangunan yang dimiliki seseorang dan disewakan tetapi tidak dijual, Zakat wajib atas sewanya, jika telah berada dalam kepemilikannya selama satu tahun (setelah mencpai nishab). Adapun nilainya, tidak ada zakat atasnya, karena  ia tidak dimiliki untuk dijual.

Juga tidak ada zakat atas mobil pribadi seseorang, atau taksi (atau mobil sewa), jika tidak dimiliki untuk dijual, karena pemilik hanya membelinya untuk dipakai.

Jika pemilik taksi (atau mobil sewa) menabung sejumlah uang yang telah mencapai nishab, ia harus mengeluarkan zakat atasnya jika telah melewati satu tahun dalam kepemilikannya, tanpa memandang mengapa ia menyimpannya, seperti sebagai pengeluaran harian, pernikahan, membeli tanah, mengembalikan pinjaman, atau selainnya. Hal ini berdasarkan keumuman dalil syar’i yang menunjukkan kewajiban Zakat yang serupa dengan permasalahan ini.

Zakat juga harus dibayarkan atas harta anak-anak yatim dan orang gila, menurut jumhur ulama, jika jumlahnya telah mencapai nishab dan telah berada dalam kepemilikan mereka selama satu tahun. Wali mereka harus membayarkan atas nama mereka setelah genap satu tahun berdasarkan kemumuman dalil, seperti sabda Nabi dalam hadits Mu’adz ketika ia diutus kepada penduduk Yaman:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan Zakat atas harta mereka, yang harus diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada orangorang miskin diantara mereka.” (HR Abu Dawud).

Dikutip dari: Abdul Aziz bin Baz; Zakat; Maktabah Roudotul Muhibbin; www.islamhouse.com

[1] Satu sha’ setara dengan sekitar 3 kg beras

[2] Driwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Zakat,:dari Abdullah bin Umar mengakatakan bahwa Nabi bersabda: “Pada apa yang disiram oleh langit (hujan) dan mata air atau irigasi (zakatnya) sepersepuluh (10 %). Sesuatu yang disiram dengan alat penyiram (zakatnya) adalah seperduapuluhnya (5%).”

[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, kitab az-Zakah (1564) dan adDaru Quthni seperti itu (2/105), dishahihkan oleh al-Hakim (1/390).

 

Leave A Reply