Hakim Syuraih

0

 

 
Pada suatu saat khalifah Umar bin Khathab berjalan kaki pulang dari Makkah ke Madinah. Di tengah perjalanan, sahabat yang sangat popular dengan gelar Al-Faruq itu mendapati seorang Yahudi sedang berjualan kuda. Barang dagangannya tersisa satu. Umar kemudian membeli hewan itu.

Dalam perjalanan ke Madinah, tiba-tiba kuda yang baru dibeli itu tidak bisa lari kencang, bahkan tertatih-tatih. Ternyata, ketika diselidiki, salah satu kaki kuda tersebut sakit, sehingga jalannya pincang. Umar jengkel dan merasa dibohongi.
Umar kembali menemui si Yahudi sambil menuntun kudanya. Kepada si Yahudi itu Umar complain dan ingin mengembalikan kudanya. Tetapi, si Yahudi tidak mau kompromi. Baginya barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Karena sama-sama bertahan dengan pendapatnya, keduanya sepakat membawa kasus ini ke meja hijau.
Hakim setempat adalah Syuraih bin Al-Haris Al-Kindi. Banyak orang ingin menyaksikan pengadilan ini karena salah satu pihak yang berperkara adalah pemimpin tertinggi mereka, amirul mukminin. Tentu saja, antara Syuraih dan Umar sudah saling kenal dan inilah yang membuat si Yahudi kecil hati.
Umar maupun penjual kuda menceritakan masalah yang mereka perkarakan itu, sementara Syuraih mendengarkan dengan seksama. Apa yang diputuskan hakim itu sungguh di luar dugaan. Syuraih ternyata justru memenangkan si Yahudi.
Umar tidak bisa berbuat apa-apa ketika Syuraih berkata, “Wahai amirul mukminin, jikalau mau berkeras kepala mengembalikan kuda itu, anda harus mengembalikannya dalam keadaan tidak cacat. Sebab, seperti itulah keadaanya ketika anda membeli. Itu pun dengan catatan jika penjual kuda itu mau menerima pengembalian tersebut. Sebab, anda tidak bisa komplain dengan alasan apa pun ketika anda sudah berpisah dengan Yahudi penjual kuda ini. Bukankah rasul saw mengajarkan bahwa memilih hanya bisa dilakukan jika antara penjual dan pembeli belum berpisah?”
Akhirnya, Umar pulang ke Madinah dengan menuntun kuda pincang. Ia tidak marah, karena apa yang diputuskan Syuraih memang benar dan mencerminkan asas keadilan.
***
Ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, Syuraih menjadi hakim di Kufah. Suatu kali, Ali melihat baju perangnya yang terbuat dari besi berada di tangan seorang Yahudi. Ali mengatakan kepada si Yahudi bahwa baju itu miliknya, tetapi klaim tersebut ditolak mentah-mentah. “Ini milikku, karena sudah berada di tanganku.” Bantah si Yahudi.
Tetapi Ali tetap pada pendiriannya. Mereka sepakat membawa sengketa baju besi tersebut ke hakim Syuraih Al-Kindi. Di pengadilan, hakim Syuraih bertanya kepada khalifah Ali, “Wahai amirul mukminin, apakah anda mempunyai dua orang saksi yang bisa mendukung klaim anda bahwa baju besi ini benar-benar milik anda?”
“Tentu saja aku punya.” Jawab Ali. Beliau pun mendatangkan putranya Hasan dan pembantunya Qanbar.
Qanbar bersaksi, “Benar wahai tuan hakim. Baju besi itu memang milik khalifah Ali. Beliau sering memakainya dalam beberapa peperangan, khususnya di jaman rasulullah saw masih hidup dulu.”
Kesaksian Qanbar diterima oleh Syuraih. Akan tetapi, giliran Hasan bin Ali hendak bersaksi Syuraih menolaknya mentah-mentah. “Aku tidak menerima kesaksian Hasan.” Kata Syuraih.
“Mengapa engkau menolak kesaksian Hasan, putraku, wahai tuan hakim? Apakah engkau berpikir bahwa Hasan berbohong? Tidakkah kamu pernah mendengar sebuah riwayat dari Umar bin Khaththab bahwa Hasan adalah pemimpin pemuda di surga? Bagaimana mungkin kesaksian pemimpin pemuda surga ditolak di pengadilan?” Tanya khalifah Ali.
Mendengar pertanyaan khalifah Ali, Syuraih bukannya surut pendiriannya. Dia balik berkata, “Saya bukannya menolak kesaksian Hasan, wahai amirul mukminin. Saya tahu Hasan adalah orang yang jujur. Akan tetapi, dalam kasus ini, Hasan adalah putra anda. Tidakkah anda pernah mendengar rasul saw bersabda bahwa dalam pengadilan, kesaksian dari orang yang masih ada pertalian keluarga ditolak?”
Syuraih melanjutkan, “Karena itu, demi menjunjung asas keadilan, maka saya putuskan bahwa baju besi itu bukan milik anda, wahai khalifah. Anda punya dua saksi untuk mendukung klaim anda atas kepemilikan baju besi tersebut, tetapi yang satu tidak sah. Jadi tidak memenuhi syarat.”
Mendengar keputusan tersebut, Ali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menerima keputusan itu apa adanya, tanpa merasa kecewa. Bagaimana lagi? Secara hukum, kesaksian Hasan tertolak. Maka dia tidak punya dasar yang kuat untuk mengklaim bahwa baju besi yang berada di tangan si Yahudi itu miliknya.
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply