Gubernur Yang Dilarang Menggusur

0


Suatu saat, Amr bin Ash, gubernur Mesir di jaman khalifah Umar bin Khaththab, berniat mendirikan masjid. Segala perlengkapan untuk pembangunan sudah disiapkan. Hanya saja, pada tanah di mana masjid akan dibangun itu ada sepetak milik seorang Yahudi miskin.

Amr bin Ash pun memerintahkan pegawainya membujuk orang Yahudi itu agar mau merelakan tanahnya. Sayangnya, orang itu tetap keras kepala meski sudah dijanjikan ganti rugi yang cukup besar. “Demi Tuhan, saya tidak akan menyerahkan tanah milik saya, meski sejengkal.” Kata orang Yahudi itu.
Merasa rayuannya tidak membawa hasil, pejabat Amr pun menempuh cara kekerasan. Dia membawa prajurit-prajurit sangar lalu mengancam dan meneror sang Yahudi miskin itu. Dengan sangat terpaksa, si Yahudi melepaskan tanahnya meski hatinya amat dongkol.
Pembangunan pun langsung dimulai. Gubernur gembira sekali menyambutnya. Sebaliknya, orang Yahudi yang miskin itu sedih dan kemudian bertolak ke Madinah menemui khalifah Umar dalam rangka meminta keadilan.
Sesampainya di Madinah, ia mendapati khalifah Umar sedang tidur lelap di atas tikar yang kusam. Dengan sabar ia menunggu Umar bangun. Ketika terjaga Umar agak terkejut melihat rona kesedihan di muka orang Yahudi ini. Umar segera bertanya maksud kedatangannya, lalu orang itu pun menceritakan masalahnya. Umar mendengarkan dengan seksama.
Setelah cerita selesai, Umar menyuruh Yahudi itu mencari sepotong tulang unta. Meski bingung, si Yahudi mencari dan akhirnya menemukan sepotong tulang unta kering dan keropos. Umar menerimanya, lalu dengan pedangnya Umar menggurati tulang tersebut dengan gambar dua garis saling melintang mirip symbol plus (+). “Serahkan tulang ini kepada gubernur Mesir itu.” Kata Umar.
Ketika tulang itu diserahkan, gubernur Amr bin Ash terperangah. Ia menangis sembari beristighfar berkali-kali. “Kawan, kalau memang tidak rela tanahmu kurampas, maka akan kubongkar masjid itu segera. Milikilah tanahmu kembali.”
“Apa maksud anda, tuan?”
“Guratan ini mengandung pesan, bahwa aku harus bersikap tegak dan lurus dalam mengelola kekuasaan. Ketika tanda ini dibuat dengan pedang, artinya, jika aku tidak bisa mewujudkan sikap semacam itu, maka pedang Umar yang akan meluruskannya.”
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

Leave A Reply