Golongan Menengah Islam

0

 

 
Dari permulaan agama Islam sudah berpengaruh pada golongan menengah, kaum pedagang, dan buruh di bandar-bandar (hal ini terjadi hampir di mana-mana pun agama Islam berkembang, lebih-lebih di Asia Tenggara dan Nusantara). Seperti lazimnya, pelaut-pelaut menyebarkan agama Islam di antara teman-teman sederajatnya. Rasa persaudaraan dalam agama antarbangsa itu, yang pada asasnya tidak mengakui adanya perbedaan keturunan, golongan, dan suku antara para pemeluknya, ternyata mempunyai daya tarik pada para pedagang dan pelaut, yang berbeda-beda tempat asalnya dan mempunyai berbagai-bagai adat istiadat dan cara hidup. Dalam pergaulan hidup masyarakat golongan menengah yang berdagang ini, agama Islam yang memajukan sifat sama rata itu menciptakan tata tertib dan keamanan seraya menonjolkan kerukunan kaum Islam. Hukum pernikahan Islam, yang pada dasarnya tidak mengenal halangan berdasarkan perbedaan keturunan, golongan, dan suku, merupakan pembaruan besar dalam pergaulan hidup yang terpecah-pecah.

Gambaran Jawa mengenai para penyebar agama Islam pertama di Jawa Timur memberikan beberapa petunjuk bahwa mereka termasuk golongan menengah kaum pedagang itu. Sunan Giri pada masa mudanya adalah anak angkat Nyai Gede Pinatih, wanita pedagang kaya di Gresik. Sunan Giri sendiri berlayar untuk urusan dagang ke Kalimantan Selatan (Babad Gresik, hat. 23). Ki Gede Pandan Arang, yang kemudian disebut Sunan Bayat, bekerja pada wanita penjual beras. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa menyamar sebagai penjual alang-alang itu tidak merendahkan derajatnya (Rinkes, “Heiligen”, jil. IV, hat. 440-441).
Di mana pun di kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam, masjid niscaya segera dibangun; itu merupakan suatu keharusan. Masjid menduduki tempat penting dalam kehidupan masyarakat; ia merupakan pusat pertemuan orang-orang beriman dan menjadi lambang kesatuan jemaat.
Ada alasan untuk menduga bahwa dalam Kerajaan Majapahit di sana-sini terdapat pasar dan pusat jaringan perdagangan di pedalaman, lebih-lebih di sekitar tempat penyeberangan sungai yang banyak jumlahnya itu. Di sana tinggal kelompok-kelompok orang yang hidupnya terutama dari perdagangan dan lalu lintas. Dalam buku Pigeaud, Java, hal itu mendapat perhatian (jil. V, hal. 44, di bawah: “trade” “tradespeople”, “traveling”; dan jil. IV, hal. 416-432: catatan atas terjemahan prasasti Biluluk tahun 1366 hingga 1395). Dapat diduga bahwa sudah sejak abad ke-14 banyak terlibat orang-orang bukan Jawa dalam perdagangan dan lalu lintas pedalaman. Mereka itu orang-orang Indocina, yang mempunyai adat kebiasaan sendiri, juga di bidang keagamaan (Pigeaud, Java, jil. IV; hal. 409 dst. : catatan pada terjemahan Ferry Charter). Menurut tradisi Jawa, seorang adipati, bawahan raja di Terung (= tempat tambang penting di Sungai Brantas) dan yang memiliki darah Cina, telah melantik imam pertama masjid tua di Ngampel Denta. Itu suatu contoh cerita yang menjelaskan adanya hubungan antara Islam golongan menengah, perdagangan serta lalu lintas, dan orang-orang Cina.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply