Gelar Sultan Islam Bagi Raja Demak Yang Ketiga; Munculnya Seorang Tokoh Yang Kemudian Menjadi Sunan Gunung Jati Di Cirebon

0

 

 
Berita-berita Portugis yang sezaman mengenai kejadian ini sama sekali tidak ada. Hal ini dapat dimengerti. Pemberitaan para penulis Portugis yang kemudian mengenai Sunan Gunungjati (yang mereka beri nama Falatehan atau Tagaril) akan diuraikan dalam sketsa sejarah Cirebon, dalam Bab VII. Dalam bab itu akan diceriterakan juga tentang asal dan kehidupan orang yang “aneh” ini.

 “Penobatan” raja Demak menjadi sultan itu diberitakan dalam Hikayat Hasanuddin di Banten (hal. 169-170). Pangeran Bonang (pada tahun 1524) kiranya telah menggerakkan hati raja Demak untuk mengadakan kunjungan kepada Wali di Gunung Jati, yang di dalam teks ini diberi nama Syekh Nurullah. Pada kesempatan ini Nurullah menganugerahkan gelar dan nama Sultan Ahmad Abdu’l-Arifin kepada raja. Gelar emperador (maharaja) yang oleh penulis Portugis, Mendez Pinto, diberikan kepada raja Demak pada tahun 1546 itu merupakan pengungkapan betapa tinggi nilainya gelar Islam itu.
Sebenarnya kunjungan raja Demak ke Cirebon dan ikut campurnya Pangeran Bonang dalam perkara ini boleh dianggap kurang dapat dipercaya berdasarkan urutan waktu (kronologi). Dapat dipahami bahwa Syekh Nurullah (yang kemudian menjadi Sunan Gunungjati) datang di Demak dan mendapat pengaruh di kalangan keluarga raja yang baru beberapa puluh tahun memeluk agama Islam. Menurut cerita Jawa, Syekh Nurullah telah pergi ke Tanah Suci Mekkah; hal itu merupakan keistimewaan, mengingat begitu buruknya perhubungan pada waktu itu. Kalau berita ini benar, di kota suci itu ia tentu mendengar bahwa Sultan Turki, Sultan Salim I Akbar, pada tahun 1517 telah merebut Mesir, dan mengangkat dirinya menjadi Khalifah. Meningkatnya pemusatan kekuasaan dalam dunia Islam irii kiranya telah menyebabkan Syekh Nurullah – setelah kembali di Nusantara, dan karena terpengaruh oleh internasionalisme Islam – menganjurkan kepada raja Demak untuk bertingkah laku sebagai raja Islam benar-benar. Gelar dan nama bahasa Arab itu kiranya dapat dianggap sebagai sahnya niat untuk menjadikan Demak ibu kota kerajaan Islam.
Bisa diduga bahwa masjid suci di Demak mendapat kedudukan yang penting dalam rencana tersebut. Bukankah imam keempat itu, yang akan ikut bertempur dalam perang melawan Majapahit yang masih “kafir”, telah dipanggil oleh Syekh Nurullah dari Sumatera itu (atau oleh pengaruhnya) untuk memangku jabatan “penghulu” (gelar Melayu!) masyarakat Masjid Demak?

 

Leave A Reply