Fundamentalisme: Otentisitas Islam

0

 

 
oleh: Luky B. Rouf
Pada awal Februari 1992, di Munich Jerman berlangsung konferensi untuk mengantisipasi gerakan fundamentalisme (The Munich Conference on Security Policy), yang disponsori negara-negara Atlantik Utara dan NATO, konferensi ini dihadiri oleh kalangan militer, politisi, pakar barat dan petinggi lainnya. Yang menarik dari konferensi ini muncul persepsi tentang “fundamentalisme” islam sebagai “ancaman berikutnya” terhadap NATO, sesudah berakhirnya ancaman komunisme yang ditandai dengan ambruknyo soko guru komunis dunia, Uni Soviet. Sementara itu, Judith Miller menulis dalam sebuah artikelnya bahwa gelombang “fundamentalisme” Islam sekarang, muncul di bawah tanah, berskala massal, hingga tak bisa diabaikan begitu saja oleh pemerintah manapun (New York Times Magazine, Mei 1992). Willy Wimmer seorang pejabat kementrian tinggi pertahanan Jerman, ketika berbicara pada konferensi itu mengatakan atas kemenangan FIS Aljazair, Barat mengalami nervous. Padahal kalau dilihat kemenangan FIS berjalan sesuai dengan prosedur ruh dan pemikiran Barat yang demokratis, tapi akhirnya kemenangan FIS harus kandas di tangan militer yang disponsori Perancis dan dukungan moral Amerika .

Kegagalan FIS yang sudah demokratis, tidak lain karena Barat memandang aktivitas FIS adalah kelompok fundamentalis yang membahayakan eksistensi kepentingan Barat di Timur Tengah pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Hal ini sebagaimana dikemukakan media Barat, yakni majalah The Economist yang memperkirakan partai ini akan mampu membentuk apa yang disebut sebagai “The World’s first democratically elected Moslem fundamentalist government” (The Economist, 3 November 1990). Inilah Barat ketika ada umat Islam yang kommit, kemudian menguasai suatu institusi negara, namun tidak sendiko dawuh (tunduk patuh) pada Barat, maka label murahan yang sudah banyak diproduksi Barat seperti fundamentalis, radikal, anti pluralisme dll, dilekatkan pada kaum muslim.
Itulah Barat yang sudah secara tabiat ideologinya selalu akan berbenturan dengan Islam, maka berita-berita dan informasi yang sesuai dengan kepentingan ideologinya dikeluarkan untuk menahan Islam . Memang benar apa yang dikatakan Edward W. Said (tokoh intelektual Palestina yang beragama Kristen) bahwa pemberitaan yang disajikan Barat dan Amerika pada umat Islam disajikan sesuai dengan kepentingannya “Covering Islam: How The Media and Experts Determine, How We See the Rest of the World”. Noam Chomsky (seorang Yahudi pembelot) lebih tegas mengatakan bahwa penggunan istilah-istilah seperti terorisme disesuaikan dengan kepentingan Barat. Sehingga jika menyebut istilah terorisme-juga fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme- maka yang terbayang adalah kelompok seperti Iran, Sudan, Hamas
Akar Historis Fundamentalisme
Istilah fundamentalisme mulanya digunakan untuk penganut agama Kristen di Amerika Serikat untuk menamai aliran pemikiran keagamaan yang cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigit dan literalis. Fundamentalisme pada umumnya dianggap sebagai respon dan reaksi terhadap modernisme dan postmedernisme . Reaksi ini bermula dari anggapan bahwa modernisme cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara elastistisitas dan fleksibiltas disesuaikan dengan kemajuan zaman, akhirnya malah membawa pada posisi agama yang terisolir dan teraliansi. Kaum fundamentalisme menuduh kaum modernis sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap terjadinya proses sekularisasi secara frontal, dimana peranan agama semakin termarginalkan dan digantikan oleh peranan sains dan teknologi modern.
Untuk lebih jelas tentang fundamentalisme bisa kita lihat dalam Encyclopaedia of The Social Sciences (1968) yang menjelaskan bahwa fundamentalisme adalah sebuah gerakan agresif dan konservatif di lingkungan gereja Kristen Protestan di Amerika Serikat yang berkembang dalam dasa warsa usai Perang Dunia I. Gerakan ini tercetus terutama di lingkungan gereja-gereja baptist, desciple dan presbyterian dan beroleh dukungan dari kalangan lain pada kelompok-kelompok kependetaan .
Persepsi Cendekiawan Pada Fundamentalisme
Menurut Marty prinsip fundamentalisme ada empat, (1) bersifat oppositionalism (paham perlawanan), yaitu selalu melawan terhadap hal-hal -baik ide sekularisme, modernitas-yang bertentangan dan mengancam eksistensi agama. (2) penolakan terhadap paham hermeunetika, yakni menolak sikap kritis terhadap teks dan interpretasinya. (3) penolakan terhadap paham pluralisme dan relativisme, yakni pluralisme merupakan hasil pemahaman agama yang keliru. (4) penolakan terhadap paham sosiologis dan historis, yakni perkembangan historis dan sosiologis telah membawa manusia semakin jauh dari doktrin literal kitab suci .
Di kalangan cendekiawan muslim dari kubu modernis juga terdapat kecenderungan untuk menggunakan istilah “fundamentalisme” sebagai stereotype yang cenderung diiringi rasa sinisme. Fazlur Rahman misalnya, menyebut kaum fundamentalisme sebagai orang-orang yang dangkal dan superfisial, anti intelektual dan pemikirannya tidak bersumber kepada Al-Qur’an dan budaya intelektual tradisional Islam . Sedang Nurcholis Majid, menjelaskan bahwa fundamentalisme barat muncul dan menjadi agama pengganti (ersatz religions) yang lebih rendah jika dibandingkan dengan agama-agama mapan yang telah berkembang. Fundamentalisme kristen (seperti Jerry Falsell, Jimmy Baker, Sung Myung Moon) disamping mengajarkan paham keagamaan yang telah baku, juga mengajarkan hal-hal yang bersifat palliative namun tidak menghilangkannya. Dengan kata lain, mereka menyajikan hal-hal palsu bersifat deceptive. Fundamentalisme barat telah menjadi sumber kekacauan dan penyakit mental. Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh fundamentalisme, menurutnya, begitu besar dan buruk, sehingga menjadi sumber kecemasan baru di Amerika setelah obat bius dan alkoholisme.
Menurut Hrair Dekmejian, seorang sarjana asal Armenia fundamentalisme adalah salah satu bentuk “ideologi protes atau ideologi kaum oposisi”. Ia muncul sebagai senjata ideologis untuk melawan kelas penguasa yang dianggap “zhalim” dan menyimpang dari ajaran yang sesunguhnya. Fenomena ini, menurutnya, telah bermula dengan munculnya Khawarij yang menentang kebijakan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Tetapi pengikut-pengikut Ali sendiri, kemudian mengorganisir diri mereka menjadi kelompok Syiah sebagai kelompok oposisi yang menentang khalifah Muawiyah dan keturunannya .
Sedang Dawam Rahardjo, menjelaskan ciri-ciri lain yang melekat pada kaum fundamentalisme adalah sikap dan pandangan mereka yang radikal, militan, berpikiran sempit (narrow-minded), bersemangat secara berlebihan (ultra-zealous) atau cenderung ingin mencapai tujuan dengan memakai cara-cara kekerasan .
Dari pendapat para pakar dan cendekiawan diatas, bisa kita tarik benang merah bahwa satu sisi fundamentalisme adalah sosok gerakan yang timbul di Barat dan dilakukan oleh umat Kristen, pada sisi lain, fundamentalisme juga “terpaksa”dilabelkan pada kelompok muslim tertentu. Pelabelan fundamentalisme pada kelompok muslim ini cenderung kearah negative thinking dan mengarah pada pejorative (merendahkan). Kesan negatif ini bisa dirunut karena beberapa alasan, semisal, mereka (kelompok Islam) dicap sebagai kelompok keras, oposisi, tanpa kenal kompromi. Dan alasan yang paling menonjol adalah orang fundamentalisme dikatakan tidak rasional, tidak logis, tertutup dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits. Hal seperti bisa kita lihat dari keterangan Prof Dawam Rahardjo, bahwa fundamentalisme itu merefleksikan sikap tidak percaya kepada kemampuan penalaran dan lebih menekankan aspek emosional atau perasaan. Sikap ini juga meragukan kemampuan manusia untuk memecahkan masalah pungkasan (ultimate problems) dan mempercayakan diri pada lembaga ilahiyah (divine agency). Pandangan seperti ini tidak hanya merupakan ciri khas tradisi Kristiani, melainkan juga dimiliki oleh mereka yang paling sedikit menerima manfaat dari budaya rasional atau mereka yang kehidupan sehari-harinya masih sangat tergantung pada proses alami dan belum banyak berada dalam kontrol manusia itu .
Sikap Muslim Terhadap Jargon Fundamentalisme
Memang ada benarnya (walau tidak semua) pendapat para pakar ketika menjelaskan orang fundamentalisme yang kurang menggunakan akalnya, apalagi tidak menggunakan akalnya ketika membahas aqidah. Dalam Islam ketika beriman harus memfungsikan akal, sebab beriman menihilkan akal yang jernih dan mendalam (mustanir dan amiq), akan terjerumus pada kultus atau taqdis yang keliru, ambillah contoh misalnya Umar Al Faruq, yang pernah menyembah roti akibat akal tidak difungsikan secara jernih, atau bahkan ditinggalkan sama sekali. Begitu juga seorang muslim ketika melakukan perbuatan tanpa proses berfikir adalah kebodohan luar biasa, apalagi kita tahu dalam segala perbuatan harus dikaitkan pada hukum Allah, yang berparameter halal atau haram .
Sehingga menjadi suatu kewajaran, ketika para cendekiawan mengambil kesimpulan yang terlalu tergesa-tergesa bahwa fundamentalisme yang nampak sekarang ini adalah tidak rasional, tertutup, ekslusif. Akhirnya para fundamentalisme yang demikian ini dianggap bermasa depan suram, dan patut dipandang dengan skeptisme .
Namun, bagaimana sejatinya jika label yang lebih bersifat tuduhan itu ditempelkan untuk aktivis muslim yang kommit? Sebab dalam mengembangkan fikroh-fikroh pemikiran Islam, baik berkaitan dengan dakwah, muamalah, ibadah dll. Ditengah masyarakat secara kaffah, Islam haruslah bersikap terbuka dan sanggup berdialog untuk mencari kebenaran. Bukan berarti kita selalu dalam relatifisme, tapi maksudnya adalah argumen yang sekarang ini kita anggap benar dengan dalih-dalih yang berani untuk diuji, maka argumen itulah yang kita terapkan. Tapi tidak menutup kemungkinan siap menerima perubahan untuk perbaikan argumen (qobil li al ishlah wa al taghyir). Jika hal ini bisa direalisasikan dalam kehidupan seorang muslim, berarti kita sudah menerapkan hadits Nabi Saw, yang menyatakan bahwa seorang mukmin, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini .
Selanjutnya, setelah kita bisa terbuka dengan selalu mencari konsep-konsep serta argumen yang kuat dan kita masih dilabeli dengan jargon fundamentalisme, radikalisme, ekstrimisme, fanatik, ekslusif, sektarian, utopians, nostalgic dll, maka itu no problem buat kita. Artinya orang yang masih melabeli kita dengan label semacam itu, dalam otaknya memang masih bercokol benih dan toksin ide non Islam atau sekular, sebab dengan demikian mereka telah menyatakan diri berseberangan dengan kaum “fundamentalisme”. Di saat lain, pelabelan, cap atau jargon itu tidak perlu membuat ghiroh kita untuk memperjuangkan ide yang sudah kita anggap benar dan kuat. Dan Nabi Saw pun telah mensinyalir dalam haditsnya bahwa orang-orang yang kommit itu akan dianggap aneh atau asing, sabdanya : “Islam datang pertama dalam kondisi asing dan kemudian hari akan kembali asing, seperti permulaan datangnya Islam, maka berbahagialah orang-orang yang dianggap asing tersebut” (Hadits Muslim, Turmudzi, Ibnu Majjah, Darimi dan Ahmad).
Ghorib atau keanehan itu bukan hanya dalam arti agama Islam itu sendiri dianggap aneh, tapi juga dengan ajaran Islam yang mau dikembangkan secara kaffah dan menyeluruh dianggap aneh. Bahkan dalam kondisi dianggap aneh inilah jika kita akan sangat bahagia ketika memegang Islam .
Lebih lanjut justru, kitalah yang harusnya menjelaskan kepada umat Islam bahwa orang yang tidak sesuai dengan hukum Allah adalah orang sempalan, orang yang masih begelimang pada maksiyat adalah orang yang fanatik terhadap nyanyian setan, orang yang masih suka menyiasati aturan Islam adalah tokoh subversif terhadap Islam.
Khatimah
Akhirnya, setelah terurai keterang diatas, kita akan bisa bersikap terhadap isu-isu yang berkembang di tengah kehidupan kita. Dan kitapun akan menjelaskan kepada masyarakat tentang hal ini, bagaimana menempatkan isu fundamentalisme, anti pluralisme, radikalisme yang benar, sekaligus membalik jargon radikal dan sempalan itu.
Di sini pada intinya kita harus tetap berpegang teguh pada semua ajaran Islam secara kaffah dan imbang, artinya kita tidak meredusir dan mengambil Islam sepotong demi sepotong kita sesuaikan dengan keinginan atau hawa nafsu kita, atau kita mengambil ajaran non Islam kemudian kita cocokkan atau kita legalisasi dengan ajaran-ajaran Islam. Maka tidak ada masalah dengan teriakan dan sindiran hingga alienasi dari orang-orang yang hanya asal teriak tanpa berani menjelaskan kesalahan kita. Dan perlu dicatat, kita jangan sampai terpancing untuk suka dilabeli dengan fundamentalisme, radikal, ekstrimisme dll, hanya karena gara-gara kita bersikap waton suloyo (asal berbeda), tapi sikap waton suloyo ini harus dilandasi dalil Islam yang benar dan kuat.
Sekarang juga nampak bahwa Barat ternyata masih takut kepada kita walau tidak semuanya, akhirnya mereka yang takut ini melontarkan bahasa-bahasa politik yang kadang tidak berargumen, dan bila berargumenpun lebih didasari subyektifitas, atau didasari dari perilaku sebagian kaum muslimin yang merefleksikan Islam secara keliru.
Juga harus kita sebarkan bahwa Islam adalah konspsi alternatif yang paling cocok untuk masa postmodern bagi semua umat manusia baik bagi muslim maupun non muslim dengan tanpa menjamin hak-hak beragamanya tanpa diredusir sedikitpun.
Masalahnya sekarang adalah, satu sisi, belum ada aturan Islam yang diterapkan secara kaffah di dunia ini, justru aturan kufur sekarang yang dipegang dan diterapkan hampir di wilayah kaum muslimin di dunia Islam, dengan konsep nasionalisme yang memecah belah kaum muslimin dalam negara-negara kecil yang tidak berdaya menghadapi negara super power AS dan konco-konconya.
Sikap seorang muslim sejati adalah berusaha merubah masyarakat, merubah kondisi, merubah keadaan apapun yang tidak sesuai dengan pemahaman yang sudah dia yakini kebenarannya berdasarkan dalil dan argumen yang benar dan kuat. Sedang sikap seorang muslim yang menyesuaikan keadaan, kompromi dengan pemikiran atau ide non Islam, adalah tidak lebih hanya perpanjangan keinginan Barat yang ingin menguasai Islam dan negeri-negeri kaum muslimin.
Walhasil standar cita-cita seorang mukmin adalah hukum Allah yang akan ia terapkan dalam kehidupan keseharian mereka, dalam kehidupan bermasyarakat mereka dan yang tidak boleh ditinggalkan harus diterapkan dalam bentuk sistem dalam sebuah negara yang kita sebut dengan Daulah Khilafah Islamiyyah, yang segera akan muncul. Insya Allah. Wallahu ‘alam bishowab

 

Leave A Reply