Fenomena Perzinahan

0

 

Perzinahan sepertinya telah menjadi hal yang biasa terjadi di masyarakat saat ini. Sebabnya pun beragam mulai dari pacaran yang kebablasan, tuntutan mengikuti gaya hidup yang serba ‘wah’, eksploitasi  anak ke dalam dunia prostitusi oleh orang tua dan lain sebagainya.

 Apapun alasannya dampak dari perzinahan ini memiliki daya rusak yang sangat luas dan panjang.
Perzinahan menyebabkan rusaknya nasab, seorang anak bahkan dapat tidak diketahui siapa ayahnya hingga bukan tidak mungkin di kemudian hari anak tersebut dapat saja menikah dengan mahramnya.
Perzinahan juga dapat menyebabkan longgarnya kontrol sosial di masyarakat. Pelaku perzinahan umumnya tidak ingin ‘urusan’ perzinahan ini diintrevensi oleh pihak lain, sehingga apabila ada pihak yang merasa jengah dengan ini lalu mengingatkan, yang kemudian terjadi adalah pelaku perzinahan ini malah berbalik menuntut pihak yang mengingatkan sebagai pencemaran nama balk.
Perzinahan juga menjadi salah satu penyebab munculnya Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS (walaupun infeksi ini tidak melulu diakibatkan oleh perzinahan). Sebagai informasi, berdasarkan data Indonesia Partnership Fund for HIV and AIDS, diperkirakan jumlah ODHA (orang dengan HIV AIDS) di Indonesia saat ini mencapai 400.000 dan 100.000 akan meninggal karena AIDS. Peningkatan prevalensi khususnya  pada pengguna napza, Pekerja Seks, Homoseks (lesbi, gay dan waria) dan tahanan penjara.
Perzinahan juga menjadi salah satu penyebab dari merebaknya kasus aborsi tanpa indikasi medis. Seiring dengan perkembangan jaman, aborsi saat ini sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi dibicarakan bahkan telah dapat diakses dengan mudah baik melalui telpon maupun online. Menurut prediksi dari Kementerian Kesehatan angka kasus aborsi diperkirakan 2.500.000 kasus per tahun, itu artinya diperkiaran ada 6.944 – 7.000 perempuan melakukan praktek aborsi setiap harinya. Sekitar 30% nya dilakukan oleh remaja berusia 15 – 24 tahun. Data SDKI mencatat Angka Kematian Ibu akibat aborsi pada tahun 2012 sebesar 349 / 100.000 kelahiran hidup.
Paradigma masyarakat pun telah berubah dalam memandang aborsi. Dulu aborsi dipandang sebagai hal yag aib dan hanya dapat dilakukan dengan indikasi medis. Akan tetapi saat ini, aborsi dipandang sebagai sebuah pilihan jalan keluar dari masalah Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Aborsi tidak hanya terjadi pada remaja akan tetapi aborsi dapat juga terjadi pada orang yang telah menikah.
Aborsi tanpa indikasi medis yang terjadi pada remaja umumnya terjadi karena perzinahan di usia muda baik disebabkan karena ditipu pacar, memperturutkan hawa nafsu maupun karena adanya factor ekonomi (menjadi pekerja seks sebagai akibat dari tuntutan gaya hidup yang tinggi atau untuk menafkahi keluarga).
Sementara aborsi tanpa indikasi medis yang terjadi pada orang yang telah menikah antara lain disebabkan oleh adanya ketakutan tidak dapat memberikan nafkah dan masa depan yang layak pada anak, sudah memiliki anak banyak, kegagalan KB, perselingkuhan, prostitusi dan lain-lain.
Paradigma inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan berbagai metode aborsi masuk dan diadaptasi di Indonesia. Metode aborsi dengan operasi dianggap sebagai metode yang biasa dilakukan. Pada kenyataannya, metode ini dilakukan oleh tenaga medis dan tenaga non medis, dari yang dokter betulan sampai yang dokter bohongan.
Selain metode aborsi dengan operasi, kemudian muncul pula metode aborsi dengan obat atau biasa disebut dengan Medical Abortion (MA). Metode ini relative masih baru diperkenalkan dan dianggap sebagai metode yang dapat memudahkan seorang perempuan melakukan aborsi.
Di Indonesia, metode ini dilakukan dengan mengkonsumsi misoprostol yang sebenarnya terdaftar untuk mengobati penyakit tukak lambung, akan tetapi karena sangat efektif menggugurkan kandungan, maka obat ini kemudian digunakan dalam metode medical abortion. Pelaksanaan metode ini masih menjadi perdebatan di dunia kedokteran karena seorang konselor aborsi yang tidak memiliki ijazah dokter pun dapat merekomendasikan misoprostol kepada kliennya melalui telpon, tanpa adanya pemeriksaan kondisi klien aborsi yang seharusnya menjadi pertimbangan dalam pemberian obat.
Paradigma lain terkait dengan aborsi adalah aborsi aman dan tidak tidak aman. Aborsi aman adalah aborsi yang dilakukan oleh dokter, sedangkan aborsi yang tidak aman merupakan aborsi yang tidak dilakukan oleh dokter. Padahal dari sudut pandang agama tanpa indikasi medis, jelas aborsi tanpa indikasi medis merupakan jalan yang terlarang untuk di tempuh.
Ayah, Ibu …
Kewajiban kita untuk dapat melindungi diri kita dan anak-anak kita sedini mungkin dari perzinahan dan hal-hal yang dapat mengarahkan ke sana, dengan memberikan pendidikan agama sedini mungkin sebagai landasan hidup.
Jadikan kita sebagai tauladan baik yang dicontoh oleh anak, yang konsisten antara perkataan dan perbuatan sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah.
Jadikan kita teman bicara yang enak bagi anak-anak kita,
Dan kalaupun perzinahan telah terjadi, maka penyelesaian terbaik dan menyelamatkan kita di akhirat adalah berpegang pada Al Qur’an dan As Sunnah.
Wallahua’lam bishawab
Parung Bingung – Depok, 30 Juni 2016
 Lucy Herny- Islamic Parenting Consultant
facebook; lucy herny
sms/wa; 0858-8271-8087

 

Leave A Reply