Dimana Islam Datang Mula-mula?

0

Adakah Islam masuk lebih dahulu ketempat lain, baik di Sumatera maupun di Jawa atau di salah satu pulau dalam daerah wilayah Indonesia ?

Sampai sekarang belum dapat dipastikan dengan bukti bahanbahan sejarah yang sah, bahwa ada tempat yang lebih dahulu dikunjungi Islam sebelum Perlak dan Pasai.

Pada permulaan tahun 1292 Marco Polo berlayar dari pelabuhan Cina Selatan selama beberapa bulan, hingga ia sampai ke Sumatera. Disinggahinya beberapa pelabuhan dagang yang terdapat di pesisir Sumatera itu, sebagaimana ia menceritakan dalam buku pelayarannya yang terkenal. Daripada ceritanya itulah diketahui orang khabar berita pertama tentang adanya Islam di kepulauan Indonesia. Pelabuhan yang pertama dikunjunginya adalah Perlak, dalam kitabnya tertulis “Ferlec” tidak lain dari Peureula, di sebelah timur, suatu kampung yang sekarang masih terdapat di Aceh Timur. Marco Polo menceritakan, “Kerajaan ini dikunjungi oleh pedagang-pedagang Islam sekian banyaknya, sehingga mereka pada akhirnya dapat mengislamkan penduduk asli dan membuat mereka tunduk kepada undang-undang Islam. Saya maksud dengan mereka yang masuk Islam itu ialah penduduk kota saja, karena manusia di pedalaman masih hidup seperti binatang, masih memakan daging manusia, segala macam daging yang suci atau tidak suci.”

Dari Perlak Marco Polo meneruskan pelayarannya ke suatu tempat yang disebut “Basma” yang sampai sekarang belum dapat ditentukan di mana letaknya, tetapi terang terletak antara Perlak dan Samudra yang disebutnya Samana Basma itu pasti bukan Pase, meskipun ada orang menyangka demikian. Karena Pase itu termasuk Samudra, yang sampai sekarang masih merupakan nama sebuah kampung kecil, yang terletak di sebelah kiri sungai Pase, tidak berapa jauh dari Lho’ Seumawe, Dekat sekali dengan tempat ini terdapat kuburan-kuburan sisa kerajaan Islam Samudra itu. Dan di sebelah sungai itu, berhadapan dengan kampung samudra, terdapat makam dan kuburan, yang umurnya lebih muda, di antaranya sebuah tertanggal 1421. Mungkin sekali di daerah inilah terletak ibu kota yang bernama Pase itu. Pada tahun 1509 Laksamana Portugis Diogo Lopez de Sequeira pernah mengunjungi tempat ini dan menamakannya “Pacem”. Juga Sejarah Melayu yang dikarang orang kemudian menamakan kerajaan itu Pasai juga (Dr. Stapel. De Geschiedenis van Ned. Indie, 1 : 310).

Dengan demikian dapat kita ambil kesimpulan bahwa di Perlak dan Pase inilah Islam mula-mula masuk di Indonesia, sepanjang yang dapat diberitakan oleh kitab-kitab sejarah yang pernah ditulis sekitar masa kemajuan kedua kerajaan Perlak dan Pase itu.

Belum ada pengarang-pengarang dari zaman dahulu itu yang menceritakan sudah ada Islam terdapat di tempat-tempat lain selain Perlak dan Pase itu. Dagroian, yang sangat mungkin dimaksudkan Nago atau Pidie, Lamuri atau Aceh Besar, yang merupakan juga suatu kerajaan, begitu juga Barus (Fansur), yang juga disinggahi oleh beberapa penulis sejarah dari Barat itu, ketika itu belum merupakan negeri Islam, semuanya masih disebut biadab (allen heidensch). Lih : Dr. Stapel, De Geschiedenis van Ned : Indie.

Pernah orang mengemukakan, bahwa Islam sudah lebih dulu masuk ke Baros. Dengan keterangan di atas saya menyangka tidak mungkin. Kita ketahui bahwa ada dua jalan antara Cina dan Arab, pertama jalan darat dan kedua jalan laut. Jalan laut ini, baik menurut cerita maupun menurut peta-peta yang ditinggalkan oleh penulis-penulis sejarah yang lampau dari bangsa Arab atau bangsa Barat, selalu melalui Sumatera Utara dan Sumatera Timur dengan lain perkataan melalui selat Malaka, belum pernah diceritakan bahwa ada pelayaran orang Arab melalui sebelah Barat pulau Sumatera.

Pelayaran sebelah barat pulau Sumatera ini baru dimulai oleh orang Arab, sesudah Portugis menduduki Malaka dan bermusuhan dengan orang Arab itu, yang terpaksa mengambil jalan dari Cina ke Arab melalui persisir barat pulau Sumatera. Hanya ada satu dongeng, yang termuat dalam “Sejarah Melayu”, juga dalam “Hikayat Raja-raja Pase” tentang kedatangan nakoda Syech Ismail yang datang dari Mekkah sengaja menuju ke Sumatera untuk meng Islamkan Marah Silu, yang kemudian bernama Malikul Saleh sebagai raja pertama di Pase. Konon permulaan tiba di Sumatera lalu rombongan singgah di Barus dan meng-Islamkan penduduk di sana. Kemudian singgah di Lamuri dan meng-Islamkan penduduk tersebut. Seterusnya Perlak, dan kemudian barulah tiba di Pase dan bertemu dengan raja. Sesudah mengembangkan Islam seperlunya, Syeich Ismail pun pulang ke Mekkah kembali. (Mohammad Said, Aceh sepanjang abad I, Medan 1961, hal 38).

Dalam hati saya timbul pertanyaan, apakah sudah dapat kita menetapkan, bahwa Islam itu lebih dahulu masuk ke Barus dan Lamuri hanya dengan berpegang kepada dongeng Syeich Ismail dalam sejarah Melayu dengan tidak menggunakan bahan-bahan lain sebagai perbandingan. Saya rasa terlalu tergesa-gesa kita mengambil keputusan itu atau terlalu dipengaruhi oleh perasaan.

Selain daripada keadaan perjalanannya yang berbelit-belit yang tak mungkin masuk di akal, pergi ke Barus kemudian ke Lamuri atau Aceh Besar dan baru menyiarkan agama Islam ke Perlak dan ke Pase. Ada banyak ahli-ahli sejarah lain yang menerangkan bahwa Pase sudah Islam dikala sekitarnya terdapat negeri-negeri yang belum beragama (Marco Polo). Ibnu Batuttah pun berkata demikian. Dalam kitabnya “Rihlah” Ibn Batutah mengatakan, bahwa ia mendarat di “Jawa” (semua orang mengatakan Samudra), ia berjalan ke Sarha dan diterima oleh Amir Dawlasa, untuk menghadap sultan Malikuz Zahir, yang sedang sibuk “meng-Islamkan negeri-negeri kuffar” atau negeri-negeri yang belum Islam di sekitarnya. Begitu juga ia menceritakan bahwa ia pernah sampai kepada suatu negeri yang disebutnya “Muljawa”, yang juga merupakan negeri besar yang belum menganut Islam (II : 152 – 155). Encycl. v.Indie, 1 : 73 bertanya apakah kerajaan Hindu “Muljawa” itu “Minangkabau” dan “Qakola” itu “Ankola” yang terletak di Sibolga sekarang ? Sayapun belum yakin demikian H.A.R. Gibb, yang menterjemahkan “Rihlah Ibn Batutah” itu ke dalam bahasa Inggris, menulis dalam catatannya bahwa Muljawa itu mungkin dimaksudkan pulau Jawa sekarang ini (Java), tetapi ia rupanya condong kepada pikiran Yule, yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Muljawa itu sangat mungkin Jazirah Malaya sekarang ini, dan menetapkan kota Qaqula itu terletak juga di Jazirah Malaya, dekat Kelantan (H.A.R. Gibb, Ibn Batuttah. Travels in Asia and Africa, London, 1929, note chapter X no. 6).

Bahwa Samudra terletak di Aceh dapat juga dibuktikan dengan sebuah hikayat yang terkenal di Aceh mengenai suasana di Pase bernama “Hikayat Noen Parisi”, yang belum pernah dibicarakan oleh Dr. C. Snouck Hurgronye, menurut keterangannya dalam kitabnya “De Atjehers I dan II. Seorang raja di “Syamtalira” (baca Samudra), bernama raja Syarah (ingat kata Sarha oleh Ibn Batuttah), merupakan lelakon bersama-sama anaknya.

Naskah ini ada sebuah pada saya, dan saya akan bicarakan. Perlu saya catat di sini, bahwa “Silu” bukanlah perkataan yang sering terdengar di Aceh dan dipakai untuk nama seseorang. Hal ini menunjukkan, bahwa kedalam cerita itu sudah masuk sesuatu “sulaman”.

Dalam karangan-karangan tulisan tangan Abdurrauf dan Hamzah, belum pernah mereka menyebutkan dibelakang namanya Barus atau Al-Barusi, selalu “Fansuri”. (Lihat Tafsir Baidhawi, terjemah Abdurrauf). Hanya Dr. D.A. Rinkes dalam kitabnya mengenai tasawuf menyebutkan nama Tjiah Kuala itu (namanya sesudah wafat) “Abdurrauf van Singkel”. Saya lebih dekat kepada faham yang mengatakan bahwa Fansuri itu bukan Barus atau singkel, tetapi nama sebuah kota yang sudah hilang, terletak dekat Olehleh sekarang ini, bernama “Pancur” dalam sebuah daerah bekas propinsi kerajaan Hindu Lamuri, bernama Indra Purwa, dekat Kuwala Nejid. Sebagaimana kita ketahui masih ada tiga bekas propinsi Hindu atau ibu kotanya itu sampai sekarang di Aceh, masing-masing bernama Indrapuri dekat Seulimeum, Indrapurwa dekat Kuwala Nejid, dan Indrapatra dekat Lamnga di Kuwala Gigieng, yang pada suatu masa pernah diperintahkan oleh raja Hindu Rawana, dan yang batu bertulis serta nisan-nisan kuburannya sampai sekarang masih terdapat di Tanoh Abee dan Reueng-Reueng (K.F.H, van Langen, “De Inrichting v.h. Atjehsche Staatsbestuur”, hal. 5).

Saya khawatir, kalau-kalau nama “Barus” ini dicampur adukkan dengan nama “Baros”, nama seorang pengarang sejarah Chilia, D.A. Barros (1830 — 1907), yang banyak juga disebut-sebut dalam sejarah mengenai kedatangan orang Barat di Timur, di antara lain dalam kitab Dr. Stapel dan B.J.O. Schrieke, yang sudah kita sebutkan di atas.

Sebelum saya tutup bahagian ini, barangkah baik kalau saya nyatakan pendapat saya, bahwa Lamuri dengan segala macam ucapannya, pasti terletak di Aceh. Saya heran, bahwa sdr. Mohammad Said dalam karyanya yang megah tentang Aceh masih ragu-ragu menetapkan bahwa kerajaan Lamuri itu di Aceh letaknya. Ia hanya mengemukakan bermacam-macam pendapat orang, dengan tidak memberikan keputusan yang tegas sebagai kesimpulan. Penetapan saya berdasarkan, bahwa di antara pencatat sejarah itu lebih banyak yang mengatakan, bahwa Lamuri dan Pase terletak di Aceh, diantaranya Tashi, Ibn Khordadzbeh, Abu Zayd Hasan, Mas’udi, Bozorg, ahli-ahli ketimuran Belanda, seperti Dr. C. Snouck Hurgronje, Dr. Moquette, Dr. Hussein Jayadiningrat, Dr. G.J.O Schrieke, Dr. H.K. Cowan dll. dan Chau Ju-Kua; hanya beberapa orang saja yang tidak menyebut dengan tegas, di antaranya Edrisi, itupun hanya mengatakan bahwa Lan Wuli itu tunduk kepada Sriwijaya (lihat M. Said, Aceh Sepanjang abad, 33 — 37).

Hukum Seleksi dan mengutamakan suara penulis yang terbanyak tentang sesuatu masalah sejarah sudah biasa dilakukan orang mengenai sesuatu persoalan purbakala yang tidak dapat diselidiki dan diraba-raba lagi karena yang demikian itu jauh lebih dekat kepada kebenaran daripada menerka-nerka sendiri. Kemudian kita kembalikan semua keyakinan itu kepada Tuhan jua yang tidak terbatas ilmunya dan abadi.

Alasan, bahwa tak mungkin sudah ada agama Islam di tempattempat lain di sekitar pulau Sumatera, sebelum terdapat agama itu di Perlak dan di Pase (Samudra), ialah karena tempat-tempat lain itu belum dikunjungi oleh pelajar-pelajar Arab atau pelajar-pelajar Islam bangsa lain. Semua negeri-negeri itu masih merupakan negeri Budha. Alasan ini dapat dibaca dalam Encycl v. Ned. Indie, 1 : 72, demikian : Sekitar tahun 500 M. menurut berita yang bersumber dari Liang-dinasti di Sumatera Utara terdapat kerajaan “Poli” yang terdiri daripada 136 desa, terbentang dari Timur ke Barat sepanjang 50 , dari utara ke selatan sepanjang,20 hari perjalanan. Rajanya beragama Budha, yang pernah mengirimkan utusannya ke tanah Cina dalam tahun 518 M. Berita lain yang bersumber dari Cina mengatakan, bahwa dalam tahun 675 M. masih didapati Poli itu beragama Budha. Oleh karena antara tahun 650 dan 700 M. criboja atau Melayu yang terletak di sebelah selatan dan di tengah-tengah pulau Sumatera, juga suatu kerajaan Budha, maka dapat dipahami bahwa hubungan dagang yang terjadi antara 500 dan 750 di Sumatera Utara dan Timur itu dilakukan oleh penganut-penganut Budha Mahayana, yang sejah dari tahun 778 besar sekali kemajuannya di Jawa. Orang-orang Arab baru mendapati Sumatera Utara itu dalam tahun 846 dan 950 M. bernama berturut-turut Rami, Al Ramni, Alrami, Lamari atau Lameri dan Lamuri. Ahli ilmu bumi bangsa Arab Edrisi dalam tahun 1154 pernah bercerita tentang Al Rami, sedang penulis Persi Qazwini menyebutkan dalam tahun 1270 dengan Ramni.

Sebagaimana kita katakan adalah Marco Polo yang dalam tahun 1292 berlayar dari Peking ke Persia, mula-mula menggunakan namanama Ferlec untuk Peureula, Basma untuk Pase, Samara untuk Samudra, Dagroian untuk Nago atau Pidie, Lambri untuk Aceh Besar, dan Fansur untuk Barus. Dialah di antara pengarang Barat yang mula-mula menerangkan, bahwa di Perlak sudah terdapat saudagar-saudagar yang mengembangkan agama Islam, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Ibn Batuttah yang mengunjunginya dalam perjalanan 1345 ke Cina. Sedang pengarang Persi Rasyibuddin mengatakan, bahwa di Aru dan Tamiang masih terdapat manusia yang belum beragama, begitu juga Fra Odorigo dan Pordenone mendapati Lamori dalam tahun 1323 penuh dengan manusia telanjang bulat dan belum teratur perkawinannya, sebagaimana manusia yang terdapat di Pagai sebelah Barat pesisir, manusia yang belum beradab.

Jika di pesisir Sumatera belum mungkin terdapat Islam lebih dahulu dari Perlak dan Pase, maka sangat mungkin bahwa di Jawa pun tidak terdapat penyiaran Islam sebelum masa itu. Pengarangpengarang Barat membuat beberapa catatan, yang menunjukkan bahwa Islam masuk ke tanah Jawa kira-kira tahun 1416. Keterangan ini tersebut dalam karangan Dr. B.J.O. Schrieke, Het Boek van Bonang (Diss. Leiden, 1916, hal. 30). Dalam tahun itu belum banyak jumlah penganut Islam itu, sebagai kata Dr. H.J. de Graaf, dalam bukunya “De geschiedenis van Indonesia fs-Gravenhage), 1949, hal. 80) hanya terdapat di sana sini sebagai saudagar atau pegawai dari kerajaan Mojopahit di pelabuhan-pelabuhan pulau Jawa. Sesungguhnya sebelum itu Islam sudah terdapat di Jawa yang terkenal dengan batu nisan dari Leran, menunjukkan dengan catatan huruf arab lama, bahwa yang meninggal itu ialah Fatimah binti Maimun dalam tahun 475 H. atau tahun 1082 — 1083. Dalam pada itu dalam makam keluarga raja-raja Mojopahit juga didapat orang kuburan Putri Campa, yang walaupun ia seorang permaisuri dari Maharaja Mojopahit yang penghabisan yang beragama Hindu, tetapi puteri itu sendiri menurut cerita dan dongeng-dongeng yang terdapat dalam kalangan anak negeri, adalah orang Islam.

Pegawai-pegawai negeri yang beragama Islam, yang diangkat oleh kerajaan Mojopahit sebagai syahbandar pada pelabuhan-pelabuhan di tanah Jawa, adalah dengan maksud supaya mereka dapat melayani saudagar-saudagar asing yang datang dari luar negeri dengan cara yang baik dan lebih lancar.

Pada tahun 1416 seorang Cina Islam Ma Huan dengan juru bahasanya Ceng Ho sudah menerangkan tentang orang-orang yang datang dari barat dan bertempat tinggal di Indonesia, dan tentang orang Tionghoa yang masuk Islam. Batu nisan yang terdapat pada kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dekat Surabaya, terukir sebagai tanggal meninggalnya tahun 822 H. atau tahun 1419 M. Ia seorang saudagar berasal dari Gujarat, India, yang rupanya di samping berniaga ia –menyiarkan agama Islam. Dengan demikian agama Islam itu mulailah tersiar dalam kalangan rakyat, yang mula-mula terdapat hanya di kota-kota pelabuhan atau pantai, tetapi tidak lama kemudian penyiaran itu sambung-menyambung sampai ke daerah-daerah pedalaman di Jawa.

Demikian kata ahli-ahli sejarah itu. Pada diri kita timbul pertanyaan, apakah tahun wafat Fatimah binti Maimun dalam tahun 475 H. atau tahun 1082 — 1083 H. itu, jika nisan itu benar, boleh dianggap tahun masuknya agama Islam ke Jawa atau Indonesia, yang jauh lebih dahulu dari tahun-tahun yang sampai sekarang didapati di Perlak dan Pase ? Sedang kita mengetahui bahwa Islam itu masuk ke Indonesia melalui selat Malaka dan Sumatera Utara dan Timur. Keragu-raguan ini juga terdapat pada pengarang-pengarang Barat itu. Dengarlah apa yang dikatakan R.A. Kern, “Batunisan itu terdapat di Leren, tidak jauh dari Gresik, terletak pada pesisir. Tulisannya tidak menunjukkan sesuatu keganjilan yang datang dari luar. Moquette, yang mencoba membaca tulisan itu, meragui, apakah batu itu memang sejak dahulu sudah terletak di sana. Ada dua hal yang membuat Moquette bingung, pertama, memang penulis-penulis sejarah sebelumnya tidak membicarakan tentang batu itu, kedua mengapa batu yang lunak itu tersimpan sekian lamanya dengan tidak rusak, dan oleh karena itu ia bertanya kepada dirinya, apakah tidak mungkin nisan itu terbuat pada hari-hari kemudian ini. Ukurannya sama dengan ukuran-ukuran nisan yang biasa terdapat di Jawa. Meskipun orang menetapkan bahwa batu itu memang sudah terletak disitu sejak dahulu dan tidak didatangkan orang dari tempat lain, nisan itu hanya menunjukkan bahwa ada seorang Muslim mati di sana, mungkin seorang Arab dan mungkin pula seorang Persi, meninggal dalam suatu perjalanan dagang sekitar tahun 1100 M. Huruf angka batu itupun sudah agak rusak. Oleh karena itu orang membaca dua cara : 1082 atau 1102 M. tersalin dari huruf angka Arab yang agak rusak itu.”

Kejadian ini menunjukkan kepada kita perlu adanya ketegasan bagi mereka atau sesuatu badan yang hendak menyelidiki, kapan masuknya agama Islam ke Indonesia. Tempatnya harus ditegaskan, apakah yang dimaksudkan tempat masuk Islam itu terletak dalam batas wilayah Indonesia sekarang ini, atau kepulauan Insulinde yang disebut-sebut oleh pengarang sejarah lama itu, termasuk Malaya dan Borneo Utara. Caranya harus ditetapkan apakah yang dimaksud dengan masuk Islam ke Indonesia, apa terdapat Islam di Indonesia (de komst van den Islam), apa gerakan meng-Islamkan (de islamiseering), atau berdirinya kerajaan Islam (de stichting van de Islamitische rijken). Saya sangka pembatasan pengertian ini perlu ada sebelum orang memulai menyelidiki atau membicarakan kapan masuknya Islam di Indonesia.

Dikutip dari: Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia; Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh; Ramadhani-Solo.

Leave A Reply