Dilarang Menghina Pemberian Orang Lain

0

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Wahai kaum muslimat – wanita Islam, janganlah seseorang tetangga itu menghinakan tetangganya,sekalipun yang diberikan oleh tetangganya itu hanya berupa kaki kambing.” (Muttafaq ‘alaih)

Imam al-Jauhari berkata: Al-Firsin, artinya kaki binatang umumnya dipergunakan untuk kaki unta, sebagaimana halnya lafaz At-Hafir dipergunakan untuk menerangkan kaki ternak yang lain-lain. Tetapi adakalanya Al-Firsin itu digunakan sebagai kata isti’arah (pinjaman) untuk menerangkan kaki kambing.

Keterangan:

 

Pertama: Orang yang diberi jangan sekali-kali menghinakan tetangganya yang memberikan sesuatu kepadanya, sekalipun berupa kaki kambing. Uraian inilah yang kami cantumkan di atas dan sesuai pula dengan penafsiran yang dapat kita periksa dalam kitab Dalilul Falihin syarah Riyadhus Shalihin, yang dikarang oleh Syekh ‘Alan ash-Shiddiqi asy-Syafi’i al-Makki yang wafat pada tahun 1057 Hijriyah-Rahimahullahu Ta’ala rahmatan wasi’ah – yakni dalam jilid kedua halaman 128, diterbitkan oleh “Darul Kitabil ‘Arabi”, Beirut Libanon.

Jadi yang diberi hendaknya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada pemberinya, meskipun apa yang diberikan itu baginya tidak berarti. Sebabnya orang yang diberi itu dilarang menghinakan pemberian orang lain, sekalipun sedikit nilainya, karena pada umumnya orang yang enggan berterima kasih pada pemberian sedikit, ia enggan pula berterima kasih pada pemberian yang banyak.

Dalam sebuah Hadis lain di sebutkan: “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang enggan bersyukur kepada sesama manusia.”

Kedua: Dapat pula diberi penafsiran bahwa orang yang mem-beri itu jangan sekali-kali menghinakan kecilnya pahala yang akan diperolehnya dengan jalan memberikan sedekah atau hadiah yang disampaikan kepada tetangganya, meskipun hanya berupa kaki kambing. Ini sebagai sindiran karena yang diberikan itu amat sedikitnya, kurang berharga atau tidak berarti.

Jadi memberi itu sekalipun sedikit adalah lebih baik daripada tidak memberi samasekali. Dalam persoalan pahalanya, Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang melakukan kebaikan – meskipun – itu seberat debu (biji sawi atausemut kecil), maka ia akan mengetahuinya (yakni mendapatkan pahalanya).”

Penjelasan ini sesuai dengan catatan yang ditulis oleh Al-Ustadz Ridhwan Muhammad Ridhwan dalam kitab Riyadhus Shalihin yang drterbitkan oleh “Darul Kitabil ‘Arabi”, Beirut Libanon.

Kedua pendapat di atas itu sama-sama dapat dipakainya, yakni baik bagi pemberi atau yang diberi. Yang memberi jangan menghina kecilnya pahala, sebab yang disedekahkan atau dihadiahkan hanya sedikit sekali, sedang yang diberipun jangan menghina orang yang memberi, sebab sedekah atau hadiah yang disampaikan kepadanya itu hanya sedikit dan kurang berharga, yaitu kaki kambing atau lain-lain yang sifatnya tidak bernilai tinggi atau tidak mahal harganya.

Dikutip dari: Riyadus Shalihin-Taman 0rang-orang Shalih; Imam Nawawi.

 

Leave A Reply