Dewasa, Siapa Takut?

0

Biasanya para generasi muda yang udah baligh menganggap dirinya sudah dewasa, berarti boleh jalan sama teman sampai larut malam, atau pergi camping sama temen tanpa ada ortu yang ngawasi, pergi ke pesta ultah pakai make up dan pacaran. Pokoknya sudah serba bebas dan boleh. Tentunya sudah bisa mengatur diri sendiri tanpa perlu dipantau oleh Ortu.


Tapi apakah kedewasaan seseorang bisa dilihat dari segi penampilan fisik saja, sebagaimana layaknya orang tua, seperti pake pakaian yang feminin dengan dandanan lengkap seperti ibu kita ataukah ada penjelasan lain yang lebih tepat untuk menggambarkan kedewasaan seseorang?

APA ITU DEWASA???
Kalau kita perhatikan kebiasaan dan penilaian masyarakat kita terhadap masalah ‘dewasa’ ini ternyata kita akan sampai pada dua patokan penilaian seseorang itu dikatakan telah dewasa. Bisa disimpulkan bahwa orang-orang itu menganggap kalau dewasa itu bisa dilihat dari dua sisi yaitu dari sikapnya atau fisiknya dan penilaian yang kedua adalah dari segi sikapnya.

DEWASA DALAM KACAMATA ISLAM
Sebagai seorang muslim tentu kita tidak hanya mengaku Allah itu pencipta kita tapi juga sebagai pengatur kita yang tahu betul apa dan bagaimana seluk beluk kita, apa yang baik buat kita, apa yang membahayakan kita dan apa aturan yang paling cocok buat kita.apa yang baik buat kita, apa yang membahayakan kita dan aturan yang paling cocok buat kita.
Aturan Allah yang diturunkan kepada kita (syariat Islam) adalah aturan yang kita yakin betul, terbaik bagi kita yang mana kalau kita hidup sesuai dengan tujuan kita diciptakan didunia ini.
Dewasa dalam Islam adalah suatu masa ketika kita harus bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kita lakukan sendiri. Jadi aktivitas kita pacaran, ngaji, belajar atau yang lain sudah harus kita pertanggungjawabkan sendiri, tidak bisa kita nisbahkan ke orang lain.
Nah masalahnya sekarang, mulai kapan kita sudah harus bertanggungjawab terhadap segala macam aktivitas kita? Apa sejak kecil, atau sejak sekolah, atau sejak kita tidak tinggal sama ortu lagi?
Di dalam Islam seseorang sudah dikatakan harus bertanggungjawab terhadap segala apa yang dilakukannya dalam arti bahwa dia sudah harus dihukum kalau dia telah berbuat salah dan akan mendapatkan imbalan pahala kalau dia telah berbuat baik adalah ketika seseorang tadi itu telah sampai pada kondisi aqil baligh. Aqil artinya dia sudah memiliki kemampuan untuk mengakal (berfikir) dengan sempurna. Dia sudah bisa melakukan proses berfikir dalam segala aktivitas atau perbuatannya. Bisa berfikir untuk menentukan apakah sesuatu itu salah atau bener, sesuatu itu baik atau buruk.
Waktu kita masih kecil dulu (ketika masih belum aqil baligh) ketika diberi kue sama mainan, kita cuma bisa merasakan kalau ada dua benda dan bisa membedakan ini menyakitkan atau tidak, mengenyangkan atau tidak, menyenangkan atau tidak kalau nantinya dijelaskan bahwa kue itu untuk dimakan supaya kenyang dan mainan itu untuk bermain sehingga bisa nyenangin hati kemudian keterangan itu diulang-ulang sama mama kita sampe kita hafal dan bisa meniru/menyebutkan namanya berulang-ulang sesuai apa yang kita dengar, maka ketika kita ditanya mana yang mainan dan mana yang kue, kitapun bisa menunjukkannya hanya karena meniru-niru bahwa ini adalah kue dan ini adalah boneka, bukannya karena kita sudah bisa berfikir.
Sedangkan baliq artinya ketika seseorang itu udah sampai pada salah satu dari kondisi dibawah ini (menurut Imam Syafi’i ):
1. Bagi anak laki-laki:
– Pernah mimpi basah; mimpi disertai keluarnya air mani (bukannya mimpi sambil ngiler hebat atau ngompol lho!)
– Sudah berumur 15 tahun
2. Bagi anak perempuan:
– Sudah keluar haid
– Sudah berumur 9 tahun, kondisi balig ini sendiri seringkali memang muncul bersamaan dengan munculnya tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder, seperti membesarnya suara pada anak laki-laki, berubahnya bentuk anatomis tubuh anak wanita menjadi feminin dan cowok menjadi maskulin itulah mungkin mengapa masyarakat kita cenderung mengasumsikan kedewasaan seseorang dari penampilan fisiknya.
Maka ketika seseorang itu udah sampai pada kondisi aqil baliq inilah, seseorang tadi sudah menjadi muallaf (orang yang terbebani hukum). kalo dia bener dan berbuat baik akan mendapatkan imbalan pula, inilah yang dinamakan mukallaf (orang yang terbebani hukum). sabda Rasulullah SAW.  “Diangkat pena atas umutku (artinya tidak terbebani hukum, red) 3 orang; orang gila sampai dia sembuh, anak kecil sampai dia baliq, orang tidur sampai dia bangun.” (HR.Abu Dawud melalui Ali bin Abi Thalib ra)
“Yang terlepas dari hukum ada 3 macam (1) kanak-kanak hingga ia dewasa, (2) orang tidur hingga ia berjalan,(3) orang gila hingga ia sembuh.” (HR. Abu Dawud & Ibnu majah)
Dalam Islam konsekuensi seseorang yang udah aqil balig ini adalah wajib terikat ama hukum-hukum syara’ (hukum-hukum Islam yang diturunkan Allah SWT dan yang dibawa oleh Rasullah Saw) artinya gimana sih? apa terikat dengan tali yang tulisannya ‘hukum syara’, atau bagaimana?
Terikat sama hukum syara’ itu artinya kalo kita tahu sesuatu perbuatan itu berhukum wajib maka tidak ada pilihan lain harus kita laksanakan, kalau tidak maka dosalah kita, ujung -ujungnya tentu aja neraka jahanam; trus kalo sesuatu perbuatan tadi berhukum haram maka wajib kita tinggalkan, tanpa banyak alasan dan komentar, jika tetap melakukan maka siksa atau nerakalah hadiahnya; kemudian kalo sesuatu itu hukumnya sunnah (mandub), maka jauh lebih baik kita laksanakan, karena akan lebih membawa kita kepada keridloan Allah dan surga-Nya tentu saja; Lalu kalo suatu perbuatan tadi berhukum makruh, maka jauh lebih baik kita tinggalkan; dan yang terakhir kalo suatu perbuatan itu adalah mubah, maka itu artinya kita boleh milih, mau kita lakukan atau kita tinggalkan, terserah kita karena sama-sama dibolehkan.
Sehingga dari penjelasan di atas kita bisa lihat, bahwa kedewasaan yang diinginkan dalam Islam adalah dewasa dalam arti dia tampil sebagai sosok yang berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami. Pola pikir yang Islami bisa kita dapatkan kalau dalam setiap melakukan proses berfikir kita senantiasa menyandarkan proses tadi kepada bagaimana Islam memandang hal itu. Kita dikatakan memiliki pola pikir Islami kalo kita selalu menjadikan bagaimana Islam memandang hal itu sebagai titik tolak pandangan kita. Sedangkan pola sikap Islami bisa kita miliki kalo setiap kita hendak melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau naluri kita, selalu kita sandarkan/dikaitkan ama aqidah kita yaitu Islam. Misalnya pada saat kita mau berpakaian; maka kita disebut sebagai seseorang yang memiliki pola sikap yang Islami kalo kemudian kita memilih pakaian sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, sebagai seorang muslimah tentu kita wajib untuk memakai kerudung dan jilbab jika keluar rumah.
Nah, ketika seseorang itu sudah punya dua unsur kepribadian inilah (pola pikir dan pola sikap Islami). Dikatakan seseorang tadi sebagai seseorang yang memiliki kepribadian Islami. Ingat dua unsur tadi harus terpenuhi! dan kalo kita liat, ternyata aqidah Islam-lah yang menjadi landasan/dasar pembentukan dua unsur kepribadian Islam tadi. Sehingga seseorang yang telah mengaku beraqidah Islam yang tentunya melalui suatu proses pemahaman.bukan sekedar kebetulan atau ikut-ikutan selanjutnya ia harus memfungsikan aqidahnya dalam pembentukan pola pikir dan pola sikapnya sehingga dia pun kemudian memiliki kepribadian Islam.
Seseorang yang bener-bener memiliki kepribadian Islam akan tampil sebagai sesosok yang punya sifat-sifat khas dan unik, lebih lanjut ia bakal muncul dengan sifat yang menonjol, jadi titik perhatian karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya.Allah SWT menggambarkan sosok-sosok pribadi muslim itu dalam berbagai ayat Al-Qur’an, a.l:  “Muhammad itu rasul Allah, orang-orang yang bersama dengan dia (sahabat) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berbelas kasih sesama mereka, engkau melihat mereka ruku’ dan sujud mengharapkan karunia Allah dan keridlaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”(TQS Al Fath:29)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memilihara sembayangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal didalamnya”(TQS Al Mu’minuun:1-11)
Tentu saja memiliki kepribadian Islam itu bukanlah suatu kebetulan atau bakat yang sudah kita bawa sejak lahir, namun kembali lagi bahwa uintuk meraih semua itu haruslah ada usaha dan kesabaran dari diri kita sendiri untuk mewujudkannya. Ingatlah firman Allah SWT.:  “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi atau kaum hingga mereka berusaha merubahnya sendiri.” (TQS Al Ar’rad:11).
Usaha tersebut adalah dengan cara banyak-banyaklah menambah perbendaharaan khazanah keilmuan Islam (tsaqofah Islam)untuk membentuk pola pikir plus menguatkannya. Bisa melalui pengajian-pengajian, diskusi, seminar, atau ceramah-ceramah yang membahas masalah Islam. Jadi datang dan galilah ilmu sebanyak-banyaknya! Di mana ada pembahasan tsaqofah Islam disitu ada kita. Sedangkan untuk membentuk pola sikap Islam plus menguatkanya ya kita harus banyak-banyak melatih diri melakukan ketaatan menjalankan ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Melaksanakan yang wajib dan memperbanyak yang sunnah. Jadi kita-kita melakukannya dengan sabar dan tekun insya Allah kita-kita bisa punya kepribadian Islam dan makin meningkat terus kualitasnya.

Leave A Reply