Demak Di Bawah Kekuasaan Raja-raja Mataram

0

 

 
Setelah Panembahan Senapati sekitar tahun 1588 memegang tampuk pemerintahan di Jawa Tengah sebelah selatan, raja-raja Pati, Demak, dan Grobogan dianggapnya sebagai sampun kareh ‘sudah dikuasai’. Sekitar tahun 1589 mereka diperintah untuk bersama dengan dia dan prajurit-prajurit Mataram ikut ke Jawa Timur, menaklukkan raja-raja Jawa Timur (Meinsma, Babad, hal.182). Maksud raja Mataram ini gagal, tampaknya terutama karena campur tangan Sunan Giri. Panembahan Senapati terpaksa kembali ke Mataram dengan tangan hampa.

Mungkin sekali penguasa-penguasa Demak, Pati, dan Grobogan, yang pada tahun 1589 (menurut Babad itu) telah bersikap sebagai taklukan yang patuh itu, sama orang-orangnya dengan mereka yang telah mengakui Sultan Pajang, yang sudah tua dan meninggal pada tahun 1587, sebagai penguasa tertinggi. Jadi, agaknya Pangeran Kediri di Demak, setelah mengalami penghinaan di Pajang sebelumnya, ternyata masih berhasil memerintah tanah asalnya selama beberapa waktu. Bagaimana dan kapan tepatnya pemerintahan (yang mungkin berupa pemerintahan semu saja) berakhir, tidak ada kepastian (Graaf, Senapati, hal. 98).
Pada tahun 1591 konon Panembahan Senapati dari Mataram telah mulai berusaha memperluas, kekuasaannya atas Kediri, dengan mencampuri sengketa antara para calon yang ingin menduduki tahta kosong di kerajaan tua itu. Salah seorang dari calon-calon itu, yang disebut Senapati Kediri, telah minta bantuan kepada Mataram, dan Panembahan Senapati telah mengirimkan pasukan yang besar sekali untuk membantunya, yang terdiri dari para bawahan beserta pengikut-pengikutnya (Meinsma, Babad, hal. 199). Pimpinannya diserahkan kepada Pangeran Wiramenggala, salah seorang putra raja Mataram yang tertua; ibunya dari keturunan Kajoran, dan ia sendiri saudara kandung Pangeran Adipati Jayaraga, yang kelak akan menjadi bupati Panaraga (Padmasoesastra, Sadjarah, hal.121). Bupati-bupati Pajang, Demak, dan Jagaraga (di daerah Madiun) diharuskan menggabungkan diri – bersama pengikut mereka – pada ekspedisi ini. Hasil yang dicapai oleh penyerangan ini hanyalah bahwa Senapati Kediri sekeluarga bersama pengikutnya ikut kembali ke Mataram (dan segera di sana ia mencapai kedudukan penting di Keraton); namun Kediri sendiri tidak direbut. Bupati Demak., yang dalam cerita ini bersama bupati-bupati lain disebut sebagai bawahan seorang pangeran Mataram yang untuk pertama kali harus berusaha mencapai keharuman nama dalam pertempuran, untuk disamakan dengan orang yang disebut Pangeran Kediri, keturunan dari “dinasti kaisar” Demak. Besar kemungkinan peranan keluarga raja Demak yang sudah tua itu sekitar tahun 1590 sudah berakhir sama sekali di Jawa Tengah, dan daerah Demak sejak itu diperintah oleh seorang bupati yang ditunjuk oleh raja Mataram.
Boleh jadi baru pada tahun 1595 orang-orang Demak memihak raja-raja Jawa Timur, yang mulai melancarkan serangan terhadap Kerajaan Mataram yang belum sempat berkonsolidasi diri. Serangan tersebut dapat dipatahkan, tetapi panglima perang Mataram, Senapati Kediri yang sudah membelot ke Mataram itu, gugur dalam pertempuran dekat Uter. Sehabis perang, Panembahan mengangkat Ki Mas Sari (dari Wirasari, lihat Bab II-12, salah satu daerah yang pertama-tama direbut oleh Sultan Tranggana, pada tahun 1528?), sebagai adipati di Demak, (Meinsma, Babad, hal. 202), rupanya karena pemimpin pemerintahan yang sebelumnya tidak memuaskan, atau ternyata tidak dapat dipercaya (Graaf, Senapati, hal. 122).
Anak Panembahan Senapati yang menjadi penggantinya, dan kelak disebut juga Seda-ing Krapyak, pada tahun 1601 telah mengangkat kakak sulungnya yang tidak sekandung, Pangeran Puger, sebagai adipati Demak (Meinsma, Babad, hal. 202). Pangeran Puger tidak dapat berpuas hati dengan kedudukan di bawah kekuasaan adik tirinya. Karena pengaruh Yang Dipertuan di Gending dan di Panjer (mungkin berasal dari Jawa Timur), di Demak ia mengangkat senjata untuk tiba-tiba menyerang Mataram. Mungkin sekali Pangeran Mas sekitar tahun 1604 ingin memanfaatkan gerakan anti-Mataram di Demak ini dari Banten, untuk mendapatkan kedudukan kembali di tanah asalnya, Jawa Tengah. Tetapi di dekat Tambak Uwos, Pangeran Puger dikalahkan dan ditawan oleh prajurit-prajurit Mataram yang dipimpin oleh Raja sendiri. Sebagai hukuman ia bersama sanak saudaranya, tetapi tanpa pengikut, diharuskan tinggal di Kudus (mernahake ing Kudus). Kekuasaan di Demak oleh raja diserahkan kepada seorang prajurit yang berjasa (lurah ganjur, kepala prajurit bertombak), Ki Gada Mestaka, yang dengan nama Tumenggung Endranata menjadi bupati di Demak.
Tumenggung Endranata I di Demak ini pada tahun-tahun kemudian agaknya juga tidak bebas dari pengaruh politik Pesisir yang berlawanan dengan kepentingan Mataram di pedalaman. Pada tahun 1627 ia terlibat dalam pertempuran antara penguasa di Pati, Pragola II, dan Sultan Agung. la dibunuh dengan keris sebagai pengkhianat, atas perintah Sultan Agung (Graaf, Sultan Agung, hal.138-141).
Sesudah dia, masih ada lagi seorang tumenggung, Endranata II, yang menjadi bupati di Demak. Tumenggung ini seorang pengikut setia Susuhunan Mangkurat II di Kartasura, yang memerintah Jawa Tengah pada perempat terakhir abad ke-17. Pada tahun 1678 disebutkan adanya Tumenggung Suranata di Demak (lihat Bab II-16).
Sebagai pelabuhan laut agaknya Kota Demak sudah tidak berarti pada akhir abad ke-16. Sebagai produsen beras dan hasil pertanian lain, daerah Demak masih lama mempunyai kedudukan penting dalam ekonomi kerajaan raja-raja Mataram. Sampai abad ke-19 di banyak daerah tanah Jawa rasa hormat pada Masjid Demak dan makam-makam Kadilangu masih bertahan di antara kaum beriman; Kota Demak dipandang sebagai tanah suci. Hal itulah yang terutama menyebabkan nama Demak dalam sejarah Jawa tetap tidak terlupakan di samping nama Majapahit.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply