Dalam Perjalanan Tobat

0

 

 
Dahulu kala, ada seorang pemuda bani Israel yang telah membunuh 99 orang. Ia mendatangi seorang pendeta dengan maksud bertobat. Sang pendeta menjawab bahwa dosanya sudah terlalu besar, maka tobatnya tidak akan diterima oleh Allah. Atas jawaban tak memuaskan itu ia marah dan dibunuhlah sang pendeta. Sehingga genaplah korbannya menjadi 100 orang.

Ia lalu mendatangi seorang pendeta yang lain dan menanyakan tentang kemungkinan diterima atau tidak jika ia bertobat. Pendeta tersebut menjawab, ‘sebesar apa pun dosa seseorang, selama ia mau bertobat, maka Alalh akan mengampuninya, selagi itu bukan dosa syirik (menyekutukan Allah).’ Sang pendeta menyarankan agar ia hijrah dari desanya, ke desa seberang. Sebab, desanya berpotensi untuk selalu mengarahkan dirinya berbuat dosa lagi, sedangkan desa seberang berpotensi mengarahkan pada yang sebaliknya.
Lelaki pembunuh itu pun menuruti petunjuk pendeta. Namun, di tengah perjalanan, ia terjatuh dan mati. Terjadilah perdebatan antara malaikat azab dan malaikat rahmat. Mereka berebut untuk membawa lelaki itu. Malaikat azab bersikeras membawanya ke neraka dengan alasan ia pendosa besar, pembunuh 100 nyawa manusia. Sebaliknya, malaikat rahmat bersikukuh untuk membawanya ke surga, dengan alasan bahwa lelaki itu telah bertobat.
Allah mengutus malaikat penengah. Disepakati, bahwa tempat di mana lelaki itu mati diukur jaraknya; lebih dekat pada desa yang dituju ataukah pada desa yang ditinggalkan. Jika lebih dekat ke desa yang dituju ia berhak dibawa malaikat rahmat ke surge. Namun bila lebih dekat ke desa yang ditinggalkan, malaikat azab berhak membawanya ke neraka. Setelah diukur, ternyata tempat di mana lelaki itu mati lebih dekat pada desa yang dituju. Akhirnya diputuskan, lelaki itu adalah hak malaikat rahmat untuk dibawanya ke surga.
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply