DAKWAH HARUSLAH DI ATAS BASHIRAH

0
DAKWAH HARUSLAH DI ATAS BASHIRAH
Oleh : Heri Rusydi
Orang yang mengikuti Rasul saw adalah orang yang menyeru  ke jalan Allah dengan bashirah dan ilmu. Jadi siapa yang mengklaim dirinya sibuk dalam dakwah di jalan Allah tetapi meninggalkan tafaqquh fid din, atau ia tidak memulainya dengan mencari ilmu terlebih dahulu, maka ia telah memberanikan diri menyelisihi jalan yang telah diajarkan oleh Rasul saw. Apalagi kalau orientasinya adalah profit duniawi, maka dia telah mencari sesuap nasi bukan pada tempatnya. Dia akan berjalan menurut selera masyarakat tanpa mengindahkan syariat Allah Ta’ala.

Kepahaman terhadap Islam harus dikuasai secara matang sehingga tidak melahirkan pemahaman yang aneh nan ganjil (syadh) yang menyebar di tengah-tengah kaum muslimin. Hali ini kita sangsikan semakin merajalela di masa kini.
Allah berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين
“Katakan wahai Muhammad, ini adalah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan bashirah. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukannya.” Yusuf 108.
Al Imam Abul Fida’ Ibnu Katsir (w 774 H) mengatakan, “Ini adalah jalan dan sunnahnya. Dia menyeru kepada Allah dengan bashirah, yakin serta dengan burhan ‘aqli dan syar’i”.[1]  
Al Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad asy Syaukani (w 125 H) mengatakan, “    أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ   yaitu di atas hujjah yang jelas serta di atas petunjuk dan ilmu yang akan memilah antara hak dan batil”.[2]
Beliau melanjutkan, “Ayat ini menujukkan bahwa setiap orang yag mengikuti Rasul saw wajib baginya untuk mengikuti jalannya dalam menyeru ke jalan Allah Ta’ala. Yaitu menyeru kepada keimanan dan mentauhidkan-Nya dan beramal dengan apa yang telah disyariatkan kepada para hambanya”.[3]
Jadi orang yang menyeru ke jalan Allah adalah orang yang diatas petunjuk dan mampu menyingkap tabir  syubhat yang berkembang. Terlebih syubhat  dalam perkara tauhid, kalimat lailhailla Allah kandungan maknanya dan segala konsekuensinya. Karena inilah muqadimah dan khatimahnya, pangkal dan ujungnya, tempat bertolak dan tujuan akhirnya.
Bagaimana mungkin orang akan menunjukki orang lain pada jalan hidayah, padahal dirinya sendiri di atas kesesatan. Dakwah hanya akan kabur dan tak jelas lagi apa tujuannya. Apalagi di zaman sulitnya mencari pengidupan[4] seperti ini, akan muncul generasi, ‘yabi’u dinahu bi’arodhi minaddunya’. Menukar dinnya dengan sedikit perhiasan dunia. 
Atas nama dakwah dan maslahatnya.
Atas nama dakwah, masuk dalam sistem kekafiran dan bernaung di bawahnya…
Atas pertimbangan ‘toleransi agama’ mempersilahkan aliran sesat hidup berdampingan.             Saling bertetangga dan tetangga adalh seperti saudara.
Atas pertimbangan kemapanan ekonomi untuk menyokong dakwah, melangkah seiring sejalan dengan ‘dakwah’ kekufuran karena agar tetap mendapatkan kucuran dana.
Karena tidak ‘percaya diri’ dengan sunnah Rasul saw dan takut kehilangan massa, maka tidak segan mengemas dakwah dengan kebid’ahan. Malah merasa minder bila harus tampil secara syar’i.
Karena pertimbangan menarik massa, tidak malu memanfaatkan kecantikan kaum hawa dalam menyajikan dakwah.  Tepuk tangan, tarik suara lepas suara, goyang kaki kanan dan serong kaki kiri. Terus tersenyum nan tertawa kemudian banyak massa yang kecantol.
Apakah ini menyeru ke jalan Allah dengan bashirah, ilmu yakin dan hujjah yang jelas..? Bahkan ini adalah mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil.
Ada hal yang sangat ironis yang kita dapati. Ada rubrik konsultasi agama oleh sang ustadz di suatu surat kabar harian. Di mana di dalam surat kabar itu ada iklan perdukunan, iklan bioskop dengan film kotornya, dan tak pernah sepi dari wanita berpakaian tapi telanjang. Siapa yang salah ? Surat kabarnya atau ustadnya ?
Yang salah adalah siapa saja yang melalaikan ayat di atas.  
Contoh yang lain sangat banyak sekali.
Jika demikian keadaanya, berarti dakwah yang merupakan tarbiyah bagi masyarakat yang mereka konsumsi telah menjadi pengabur di tengah masyarakat. Kapan itu ? Mana kala menyeru ke jalan 
Allah tidak di atas hujjah yang meruntuhkan kebatilan.
وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين
”Dan Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukannya”.
[1] Tafsirul Quranil ‘Adhim II/ 496
[2] Fathul Qadir III/ 72
[3] Ibid
[4] Sulitnya mencari penghidupan secara dhohir adalah hukuman karena telah matinya kehidupan batin, direnggut dengan kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala.

Leave A Reply