Cara Umar Bin Khathab Melayani Umat

0

 

 
Malam semakin larut dan gulita. Kesunyian menyelimuti semesta. Pelepah kurma melenggak-lenggok ditiup angin gurun sepoi-sepoi. Berjuta bintang kelap-kelip di angkasa. Seluruh alam tenggelam dalam istirahatnya dan kota Madinah dibuai mimpi.

Tetapi di tengah malam yang gulita ini, tiba-tiba sesosok tubuh tinggi dan kekar berjalan di seberang jalan utama. Sosok lelaki itu melangkah dengan tenang menyusuri seluruh arah jalanan Madinah. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, “Hemmh, bukankah itu suara rintihan wanita?” Tanya sosok itu dalam hatinya.
Ia melacak asal-muasal suara itu. Ternyata suara rintihan itu berasal dari sebuah tenda. Di depan pintu tenda terlihat lelaki badui yang gelisah dan cemas. Sosok lelaki itu mendekati tenda dan menanyakan asal-usul si pemilik tenda dan menanyakan sebab rintihan wanita di dalam tenda.
Pemilik tenda menjawab, “Kami orang-orang badui Tuhamah. Kami mendengar bahwa khalifah Umar suka membantu orang-orang miskin. Oleh karena itulah kami datang menempuh perjalanan jauh guna memohon bantuan. Kami baru tiba mala mini dan sejak kedatangan kami, istriku merasa sakit hendak melahirkan. Aku seorang diri dan hanya bersama istriku. Jadi, kami benar-benar asing di sini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.”
“Jangan khawatir kawan, aku akan mengatur semua keperluanmu.” Kata lelaki itu lalu bergegas pergi.
Si badui duduk menunggu dengan perasaan tidak menentu. Dalam waktu singkat sosok asing itu kembali dengan membawa bahan-bahan makanan bersama seorang wanita yang membawa semua keperluan bersalin. Wanita ini langsung menuju ke dalam tenda dan melakukan tugasnya.
“Kemari kawan! Mari kita memasak sekarang.” Kata lelaki kepada si badui. Keduanya pun sibuk mempersiapkan bahan yang hendak dimasak.
Beberapa saat kemudian terdengar suara wanita kegirangan. Ia berteriak, “Amirul mukminin, sampaikan selamat pada sahabatmu. Dia dikaruniai anak laki-laki.”
“Amirul mukminin? Siapa amirul mukminin?” Si badui itu bangkit dari duduknya menatap amirul mukminin dengan ketakutan. Ia berdiri agak menjauh sambil gemetaran seluruh tubuhnya, demi ia tahu yang dimaksud dengan amirul mukminin adalah lelaki gagah yang sejak tadi bersamanya, bahkan kini tengah memasak bersamanya.
Sosok gagah dan wanita yang datang itu telah selesai membantu persalinan istri badui. Kini ia mulai menghidangkan makanan kepada orang badui itu.
“Siapakah wanita ini?” Tanya si badui.
“Dia istriku, Ummu Kulsum.” Jawab Umar
“Aku tidak tahu bagaimana aku harus berterimakasih kepada Anda berdua atas semua ini.” Teriak si badui itu seraya meneteskan air mata.
Sejenak kemudian, si badui bersujud dan mencium kaki khalifah, tetapi dengan lembut khalifah mencegahnya dan mengangkat bahunya.
“Jangan berterimakasih kepada kami, sahabat. Tetapi berterimakasihlah kepada Allah yang dengan rahmat-Nya yang Maha Luas telah memberi hamba-Nya yang hida-dina ini kehormatan untuk membantumu.” Sahut Umar.
“Kami permisi sekarang. Besok temui aku di masjid. Aku akan lihat apa saja yang bisa kulakukan untuk membantumu.” Kata Umar seraya mohon pamit.
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply