Bukti Kebenaran Kenabian Muhammad SAW

0

 

 
Kaisar Heraclius mengirim utusan untuk menemui sejumlah pedagang dari kafilah Quraisy yang menuju Syam dan mengundang mereka ke istananya. Ketika itu Kaisar Heraclius sedang berada di kota Elia (Baitul Maqdis, Yerussalem).

Ia berkata, “Siapakah di antara kalian yang paling dekat kekerabatannya dengan seseorang yang mengaku sebagai Nabi?”
Abu Sufyan menyahut, “Akulah yang paling dekat kekerabatannya dengan dia.”
Kaisar Heraclius memerintahkan Abu Sufyan dan para pedagang lainnya untuk mendekat lalu berkata kepada juru penerjemahnya, “Katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya tentang orang yang mengaku Nabi itu. Jika ia mendustaiku, maka kalian semua telah mendustaiku pula. Demi Allah! Tiada kehidupan lagi jika kalian berani berdusta tentang dia.”
Kaisar Heraclius bertanya, “Bagaimanakah asal-usul keluarganya menurut kalian?”
Abu Sufyan menjawab, “Dia berasal dari keluarga yang terbaik di antara kami.”
Ia bertanya, “Adakah salah seorang dari keluarganya yang sebelumnya juga mengaku sebagai Nabi?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.”
Ia bertanya, “Adakah nenek moyangnya yang pernah menjadi raja atau penguasa?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.”
Ia bertanya, “Apakah orang-orang yang mengikutinya dari kalangan terhormat atau golongan lemah?”
Abu Sufyan menjawab, “Dari golongan orang-orang lemah.”
Ia Bertanya, “Apakah pengikutnya selalu bertambah atau berkurang?”
Abu Sufyan menjawab, “Selalu Bertambah.”
Ia bertanya, “Adakah salah seorang saja dari pengikutnya yang karena benci lalu meninggalkannya setelah ia masuk Islam?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.”
Ia bertanya, “Apakah kalian menuduhnya berdusta jika ia mengaku sebagai Nabi?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”
Ia betanya, “Apakah ia pernah menipu?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak. Selama bergaul dengannya kami tidak pernah melihatnya menipu.”
Ia bertanya, “Apakah kalian pernah berperang dengannya?”
Abu Sufyan menjawab, “Ya, pernah.”
Ia bertanya, “Bagaimanakah hasil peperangan kalian dengannya?”
Abu Sufyan menjawab, “Peperangan kami dengannya imbang. Kadang kami yang menang dan kadang dia yang menang.”
Ia bertanya lagi, “Apa yang dia perintahkan kepada kalian?”
Abu Sufyan menjawab, “Dia berseru: Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Tinggalkanlah kepercayaan nenek moyang kalian. Ia juga memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, jujur, menjaga diri dari perbuatan dosa dan menambung tali persaudaraan (silaturahmi).”
Heraclius berkata, “Jika yang engkau katakana benar, maka aku akan mempersilahkannya duduk di singgasanaku ini. Sungguh aku tahu jika dia akan diutus seperti apa yang telah kuduga sebelumnya. Namun aku tahu, sangat berat untuk bisa menemukannya dan jika ia berada di sisiku pastilah aku akan membasuh kakinya.”
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply