Bukan sekedar ‘Pilihan’

0
            Pasar Ikan yang kusut, terhias dengan kemilau sang surya, menandakan matahari kian meninggi. Semua seperti apa adanya, aktifitas harian yang biasa – biasa saja, suara gaduh penjual dan pembeli menjadi nada pelengkap pagi.
            Namun, tiada  yang mengira. Di pagi itu, semua tersentakkan dengan nada yang meninggi, merasuk menyela kesetiap sudut telinga, membuat semua orang terpaku dan dengan sigap menoleh ke arah datangnya suara. seseorang berteriak keras.”MALING ….. MALING ….. MALING”
            Tanpa komando, tanpa bertanya, mereka saling berlomba untuk mengejar sang pelaku yang nampak berlari cepat. Dalam hitungan detik, tertangkap sudah, seorang bapak gondrong dengan tampilan gundul kemethak, body gumajul, wetheng sumaduk, wajah jemotos, sedang mengadu nasib dengan pelarian, tapi semua usahanya kandas didepan massa. Semua ingin ambil bagian, ada yang menyumbang bogem mentah, ada yang ikut urun gajulan, Seakan – akan ia menjadi samsak hidup dengan cover manusia.
            aduhai melasnya ……
            tetapi anehnya, setelah ia dibiarkan bicara dan ditanya, ‘kenapa melakukan semua ini?’, ‘bukankah ada pekerjaan lain dengan cara yang baik?’ ,dengan tanpa rasa bersalah ia menjawab, “tidak ada pilihan lain pak untuk mencari nafkah, saya terpaksa mencurii“.
Dengan Mencuri???
Apakah harus dengan cara yang haram?
bukankah yang baik masih banyak?
Yaah, mungkin akan banyak pertanyaan yang muncul dalam benak kita.
           Itu merupakan sudut pandang yang keliru, mengadu nasib dengan pilihan yang salah. Pilihan yang menjerumuskan kedalam kenistaan dunia, bahkan adzab diakherat. Begitulah sedikit gambaran akan suatu pilihan, sebagaimana contoh diatas, ketika dia memilih untuk mencuri maka dia menjadi pencuri, jika dia memilih yang lebih baik yaitu mencari nafkah dengan cara yang halal, maka itulah yang diharapkan. karena hidup ini adalah pilihan, life is choice. dan apapun yang kita lakukan maka tidak akan terlepas dari pilihan pilihan yang kita buat. jikalau orang memilih untuk duduk, secara otomatis dia melakukan suatu pilihan, bahkan jikalau dia diam, diam itu juga merupakan suatu pilihan.
            orang yang beruntung ialah mereka yang memilih dengan benar, menentukan pilihan dengan baik. menjadikan apa yang dikerjakan bernilai disisi Allah subhanahu wa ta’ala ,dan mereka yang merugi ialah mereka yang salah dalam memilih, serampangan dalam bertindak tanpa ada tujuan dan misi yang jelas untuk kehidupan setelah kematian. Allah sudah membekali manusia untuk mampu berfikir, mentadabburi ayat2 Nya dan merenungkannya dengan baik, agar tidak salah dalam menentukan sesuatu, serta tidak gegabah dalam bertindak.
Allah berfirman :
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak ,mengetahui apapun, dan Dia jadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar kalian bersyukur” (Q.S. An Nahl : 78)
              Semata mata Allah bekali panca indera kepada manusia agar mereka memikirkan kekuasaanNya dan mampu mensyukuri segala kenikmatan yang telah Dia berikan kepadanya. ketaatan yang dikerjakan merupakan perwujudan syukur yang terbesar, ketika seseorang memilih untuk mentaati Allah dan rasulNya maka itu pilihan yang terbaik. Namun juga ada yang sebaliknya yaitu mereka yang memilih untuk  bermaksiat, memilih untuk mendustakan ayat2Nya, maka itulah sejatinya orang yang  merugi.
Nabi bersabda :
كل الناس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها
“sesungguhnya semua manusia itu sedang bekerja, ada yang membebaskan dirinya dari api neraka, ada pula yang menjerumuskan dirinya kedalam neraka”. (Riwayat Muslim)
              Allah tidak pernah memaksa hambaNya untuk mentaatiNya, akan tetapi manusia diberikan pilihan untuk taat atau bermaksiat. untuk itu jangan sampai salah langkah dalam memilih. bukan hanya sekedar pilihan karena apa yang engkau pilih untuk dilakukan akan dimintai pertanggung jawaban.
             Sesungguhnya mereka yang tahu akan tujuan utama didunia ini, pasti akan senantiasa menjadikan dunia ini sebagai modal utama untuk bisnis akherat. Bersiap menggadaikan jiwa, raga dan harta untuk manisnya surga.
Rasullah bersabda :
الكيس من دان نفسه و عمل ما بعد الموت و العاجز من اتبع هواه و تمنى على الله
“orang yang cerdas yaitu dia yang mempersiapkan (menyibukkan) dirinya, dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang yang lemah itu ialah dia  yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan angan kepada Allah.” (riwayat tirmidzi)
             Syaikh Sholih Al Munajjid beliau mengatakan,
“perkara terbesar dari kebahagiaan seseorang adalah menjadi Orang yang dicintai Allah dan mendapat RidhoNya”.
            Mereka yang mengiginkan kebahagiaan yang sejati, tentunya akan terus berusaha agar titian hidupnya mampu meraih ridho Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan itu, apa pun yang dilakukan akan dipertimbangkan dengan barometer syar’i. Ia akan mengesampingkan apa pun yang menghalanginya untuk meraih kebahagiaan hakiki, walaupun itu berhiaskan dengan keindahan dan kemegahan dunia. Setiap keindahan dunia yang menghalanginya dari keselamatan akherat, akan segera dia tinggalkan. Dengan penuh keyakinan, bahwa dunia akan pergi meninggalkan dirinya dan akherat bergegas mendatanginya.
         “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan kita, dan akherat bergegas mendatangi kita, maka jadilah kalian anak-anak pedamba akherat dan janganlah kalian menjadi anak-anak pendamba dunia”. (Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu)
Wallahu A’lam

by : Abu rabi’ah Ar Ra’yi


Leave A Reply