BOLEHKAH MINUM KHAMR SEBAGAI PENYEMANGAT?

Mereka terus merenung akan kemudharatan khamr yang mereka sadari dan mereka lihat. Khamr bisa melalaikan dzikir dan shalat. Padahal shalat adalah amalan yang mereka cintai dan mereka tunggu-tunggu. Mereka meminta agar Allah menjelaskan perihal khamr yang setegas-tegasnya. Bayanan syafiyan. Penjelasan yang mengobati keragua-raguan dan kebimbangan. Maka Allah menjawab,

0

BOLEHKAH MINUM KHAMR SEBAGAI PENYEMANGAT?

 

Saya, anda dan kita semua tentu pernah merasakan kepenatan hidup. Tidak seorang pun yang hidup di muka bumi ini bisa terlepas bebas dari masalah kehidupan. Semua orang pasti punya masalah yang membuat dia sedih, susah tidur, selalu khawatir, menanggung rasa malu dengan orang lain dan sebagainya. Ketidaknyamanan itu semua bertolak belakang dengan tabiat dasar manusia: makhluk yang tak ingin menanggung masalah. Tidak sabar dan penuh keluh kesah. Jiwa manusia selalu ingin bahagia, senang dan lepas dari segala lara dan duka. Namun keinginan itu hanya di alam mimpi. Iya hanya di alam mimpi. Hukum ini berlaku sejak masa silam, sekarang dan masa yang akan datang.

Jalan keluar dari masalah-masalah kehidupan tersedia berbagai macam cara.  Ada cara yang dibolehkan dan ada cara yang dilarang. Dan memang seperti itulah sifat dunia ini sebagai tempat ujian. Cara dilarang salah satunya dengan meneguk khamr. Dengan fly angan-angan seorang yang sedang mabuk akan terbang dan bersenang-senang di alam khayalan. Masalah yang sedang membebani akan menghilang sekejap. Menghilang untuk sesaat saja. Allah menyebut hal ini sebagai naf’un (ada kemanfaatannya). Bahkan menggunakan bentuk jama’nya (manafi’).

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

“Mereka bertanya tentang khamr dan perjudian. Katakan, “Keduanya mengandung kekejian yang besar dan ada pula manfaat.” (al-Baqarah: 219).

Manfaatnya membuat orang semangat dan bergairah yang sebelumnya lemas dan loyo dirundung masalah. Namun bersamaan dengan hadirnya kemanfaatan kerusakan dan kemudharatan yang lebih besar tidak bisa ditolak.

وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

Akan tetapi kekejiannya lebih besar dari pada kemanfatannya.” (al-Baqarah: 219).

Ini adalah ayat yang pertama kali turun yang membicarakan khamr. Para sahabat memahami ayat ini, tidak mengandung makna larangan minum khamr secara tegas (qath’i). Namun hanya berbicara mengenai  perbandingan manfaat dan mudharat saja. Setelah ayat ini turun, mereka masih menjalankan kebiasaannya sejak dulu yaitu mabuk kapan mereka mau. Sampai diantara mereka ada yang mendirikan sholat  dalam keadaan mabuk, sehingga bacaannya terbalik-balik saat melantunkan surat al-Kafirun. Kemudian Allah menegurnya, agar tidak mendirikan sholat di saat masih mabuk.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian mendirikan shalat sedangkan kalian masih dalam keadaan mabuk, sampai kalian memahami apa yang kalian katakan.” (an-Nisa’: 43).

Setelah ayat ini turun mereka mulai mengatur jadwal mabuk. Bagaimana ketika adzan berkumandang mereka bisa langsung ke masjid dalam keadaan sadar, karena Allah melarang shalat dalam keadaan mabuk. Mereka mulai berpikir bagaimana mabuk di luar jam-jam shalat. Bila mereka minum khamr setelah zhuhur mereka khamatir kalau ‘ashar tiba mereka belum sadar. Demikian juga setelah ‘ashar, saat terbenam matahari mereka khawatir belum sadar. Apalagi waktu antara ‘isyak dan maghrib yang lebih pendek. Sekarang terisa dua waktu yang cukup panjang yaitu, mabuk setelah ‘isyak dan mabuk setelah subuh. Namun bila mabuk setelah subuh nanti akan mengganggu ma’isyah (mencari penghidupan). Maka mabuk hanya tersedia satu waktu, yaitu setelah ‘isyak. Mereka hanya mabuk di malam hari saja.

Mereka terus merenung akan kemudharatan khamr yang mereka sadari dan mereka lihat. Khamr bisa melalaikan dzikir dan shalat. Padahal shalat adalah amalan yang mereka cintai dan mereka tunggu-tunggu. Mereka meminta agar Allah menjelaskan perihal khamr yang setegas-tegasnya. Bayanan syafiyan. Penjelasan yang mengobati keragua-raguan dan kebimbangan. Maka Allah menjawab,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah kekejian. Itu merupakan perbuatan syetan maka jauhilah, agar kamu beruntung. Sesungguhnya syaithan dengan khamr dan perjudian hendak mengobarkan permusuhan dan kebencian di antara kalian. Dan menghalang-halangi kalian dzikir dan shalat. Apakah kalian ingin berhenti?.” (al-Baqarah: 90).

Umar mengatakan, (إنتهينا يا رب إنتهينا), kami berhenti wahai Rab kami, kami berhenti. Para sahabat sangat gembira dengan turunnya larangan khamr dan mereka beramai-ramai menumpahkan khamr yang tersimpan di rumah-rumah mereka. Bahkan di hari itu Madinah banjir dengan khamr, dan baunya tercium sampai ke sudut-sudut kota.

Maka hukum khamr yang sudah final dan tegas (qath’i) adalah haram. Tidak boleh diminum kapan saja. Kecuali bila digunakan untuk menolak mudharat yang lebih besar. Yaitu mudharat hilangnya jiwa. Bila seseorang tidak mendapati air sama sekali, sedangkan bila ia tidak minum, maka dia akan mati, maka keringanan bagi dia meneguk khamr sekedarnya saja untuk menyelamatkan jiwanya. Meminum khamr akan menghilangkan akal, dan tidak meminumnya akan menghilangkan jiwa. Dalam keadaan seperti ini penjagaan jiwa lebih didahulukan dari pada penjagaan akal.

Adapun kegundahan pikiran karena masalah yang sedang dihadapi seseorang memang termasuk kemudharatan. Hilangnya akal dengan meminum khmar juga merupakan kemudharatan. Namun kemudharatan hilangnya akal lebih parah dari pada kemudharatan gundahnya pikiran. Maka tidak boleh melawan kemudharatan dengan kemudharatan yang lebih besar lagi.

Khamr bukanlah solusi, justru ia adalah masalah yang lebih akut. (HerRusy)

 

 

 

Leave A Reply