Bijaksana Di Dalam Berdakwah

0

Seorang muslim yang benar-benar keislamannya, yang penuh amanah untuk menyeru umat manusia kepada kebenaran, haruslah cerdas dan menguasai metode dakwah serta bijaksana dalam melaksanakannya. Allah telah memberi pedoman dakwah  dengan firman-Nya;

Serulah kepada jalan rabb-mu dengan penuh hikmah dan teladan yang baik. (QS. An-Nahl: 125).

Demikian Allah menerangkan jalan yang semestinya ditempuh oleh jiwa penyeru ke jalan Allah, dalam memperbaiki penyakit yang ada di dalam hati manusia, sehingga mereka lebih mencintai islam, siap menerima petunjuk dan hidayah Allah secara menyeluruh.

Rasulullah saw banyak memberikan contoh tentang kebijaksanaan di dalam dakwahnya. Beliau tidak pernah menyinggung hati dan  perasaan mereka yang diserunya. Sebaliknya, beliau lebih banyak menanamkan ilmu dan pemahaman kepada mereka, hingga mereka mengenal kebenaran dan tunduk. Dalam suatu riwayat dijelaskan:

Abdullah bin Mas’ud ra selalu mengajar manusia dengan mauidzah (pelajaran dan nasehat) setiap hari kamis. Maka berkata seseorang kepadanya, “Wahai ayah Abdurrahman, aku suka kamu mengingatkan kami  setiap hari.” Maka berkata Abdullah, “Sesungguhnya aku berbuat demikian karena aku tidak mau mendikte kamu sekalian, sesungguhnya aku hendak memberi kamu sekalian contoh (keteladanan) sebagaimana rasulullah saw memberikan kepada kami contoh untuk menghilangkan kejenuhan pada kami.” (HR. Muttafaq Alaih0.

Prinsip pertama dalam metoda dakwah yang baik adalah tidak memanjangkan (waktu) pidato, khususnya jika berkhotbah dan berceramah di depan khalayak umum yang di dalamnya terdapat orang-orang lanjut usia, atau orang sakit. Memendekkan khotbah menunjukkan kefaqihan khotib dan menunjukkan bahwa dia memahami keperluan orang banyak yang hadir mendengarkan khotbahnya.

Ammar bin Yasir berkata bahwa dia mendengar rasulullah bersabda, “Sesungguhnya memanjangkan salat dan memendekkan khotbah merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kefaqihan khotib. Oleh karena itu panjangkanlah salat dan pendekkanlah khotbah.” (HR. Muslim).

Prinsip kedua adalah bersikap lemah lembut terhadap masyarakat (objek dakwah); memahami dan bersabar atas kekurangan-kekurangan mereka dalam memahami persoalan, melakukan amalan-amalan sunah, berkonsep dan bekal ilmu; serta banyaknya persoalan yang mereka hadapi. Selain itu diperlukan sikap berlapang dada menghadapi para penanya, lembut dalam melayani dan mengajar mereka. Semua ini telah menjadi metoda dakwah para nabi sampai nabi terakhir.

Sejarah telah mencatat suatu peristiwa yang patut dijadikan pelajaraan, yaitu  riwayat yang dikeluarkan oleh Muawiyah As-Silmi ra sebagai berikut:

Ketika kami dalam salat berjamaah bersama rasulullah saw, seorang makmum (peserta salat jama’ah) bersin, maka aku ucapkan: Yarhamukallahu (doa untuk orang bersin yang artinya semoga Allah merahmatimu). Maka makmum yang lain melemparkan pandangan kepadaku, sehingga aku berkata kepada mereka: …apa urusan kalian memandangku? Maka mereka menepukkan tangan pada paha mereka masing-masing. Kulihat mereka semua mendiamkanku, tetapi aku diam saja. Maka selesai salat, rasulullah saw menghampiriku.

Maka demi  Allah belum pernah aku  melihat seorang guru sebelum dia dan sesudahnya, tidak juga ayah dan ibuku yang lebih bagus cara mengajaarnya darai beliau. Demi Allah dia tidak membentakku, tidak memukul dan tidak bermuka masam.

Beliau hanya berkata, “Sesungguhnya jika dalam keadaan salat, maka tidak diperbolehkan mengeluarkan suara apapun meski hanya sedikit, kecuali tasbih dan takbir serta bacaan ayat-ayat Al-Quran.” Aku bertanya, “Ya rasulullah, sesungguhnya aku baru saja lepas dari hidup secara jahiliah, lalu aku masuk islam, tetapi di antara kami masih ada yang suka mendatangkan tukang tenun.” Beliau berkata, “Jangan kamu datang kepada mereka.” Aku berkata, “Di antara kami masih ada orang yang suka meramal/tathoyyur.” Beliau berkata, “Itu sesuatu yang mereka punyai di  dalam dada mereka, maka jangan cegah mereka (sebab tidak akan membawa manfaat dan tidak pula madarat.).” (HR. Muslim).

Telah jelas bagaimana lemah lembutnya nabi saw terhadap siapapun ketika beliau menyeru kebenaran. Beliau  tidak pernah membentak orang yang berbuat kasar, semua itu untuk menjaga kehormatan dan kemuliaannya. Beliau tidak membeberkan keburukan, tetapi akan mengingatkan keburukan itu dengan bijaksana dengan tetap menjaga kerahasiaannya terhadap pihak lain.

Berkata Aisyah ra, “Nabi saw jika menyampaikan sesuatu  kepada seseorang tidak berkata, ‘Tiada artinya fulan itu berkata demikian’, akan tetapi beliau akan mengatakan, ‘Tiada artinya sekelompok orang mengatakan demikian…’” (Hayatus Sohabah/III: 129).

Prinsip ketiga adalah menerangkan isi pembicaraannya dengan jelas, tuntas dan dapat dimengerti.

Anas bin Malik ra berkata, “Jika rasulullah saw menyampaikan perkataan, beliau akan mengulanginya sehingga yang mendengarnya paham dan jika dia mendatangi suatu kaum, maka beliau akan memberi salam kepada mereka sampai  tiga kali.” (HR. Bukhori).

Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw selalu berkata dengan kalimat yang jelas dan gamblang, sehingga dapat dipahami oleh orang yang mendengarkannya.” (HR. Abu Daud).

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply