Bertawakkal Hanya Kepada Allah Ta’ala Semata

0

Di samping bertawakkal kepada Allah semata, hendaknya pula menyerahkan seluruh perkara kepada Allah dan selalu bergantung kepada-Nya. Ini merupakan buah dari ma’rifah kepada Allah ta’ala, iman kepada-Nya, kepada kekuasaan-Nya yang agung dan maha luas, kekuatan-Nya, hikmah-Nya dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Tawakkal adalah buah dari pengetahuannya bahwa Allah ta’ala senantiasa membela orang-orang yang beriman, serta keyakinan bahwasannya jika Allah ta’ala menghendaki sesuatu, pasti akan terlaksana. Tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya. Bahwasannya Dia berkuasa menjaga hamba-Nya dari segala perkara yang ia benci serta makar para musuh Allah dari kalangan syaitan, manusia maupun jin.
Berangkat dari situlah seorang hamba mukmin hanya bertawakkal kepada Allah ta’ala, tidak bertawakkal kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala:
Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Al-Maidah: 23).
Tawakkal hanya kepada Allah ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang mukmin, di antaranya:
1. Perlindungan Allah terhadap hamba-Nya yang mukmin dengan menjaganya dari keburukan manusia dan jin, serta dari seluruh keburukan, sebagaimana firman Allah ta’ala:
Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (QS. Ath-Thalaq: 3).
Maka dari itu, barangsiapa yang membaguskan tawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan menjaganya dari setiap keburukan. Umar Ibnul Khaththab pernah berkata: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjaganya. Barangsiapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Dia akan mencukupinya. Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah, niscaya Dia akan membalasnya. Barangsiapa bersyukur kepada-Nya, niscaya Dia akan menambahnya.”
2. Kekuatan hati seorang mukmin, yaitu ia berani menyampaikan kalimat yang haq, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, berdakwah kepada Allah, melaksanakan semua perintah Allah ta’ala dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Dia tidak takut kepada siapa pun dalam membela hak-hak Allah. Sebab, ia mengetahui bahwasannya tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan manfaat ataupun mudharat kecuali atas ijin Allah ta’ala. Ia pun mengimani bahwasannya ajal dan rizki hanya berada di tangan Allah, sebagaimana sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:
Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril alaihissalam) membisikkan ke dalam hati sanubariku bahwasannya tidak akan mati suatu jiwa hingga terpenuhi rizki dan ajalnya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, perbaguslah caramu dalam mencari rizki dan janganlah rizki yang terlambat datangnya itu memaksamu untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.”
3. Bersahaja dalam mencari rizki. Sebab, seorang mukmin mengetahui bahwasannya usaha dalam mencari kenikmatan dunia tidak akan menambah rizki yang telah Allah takdirkan, Allah tulis dan Allah kehendaki. Demikianlah perintah nabi, yakni bersahaja dalam kebutuhan hidup di dunia. Sebagaimana hadits yang telah lalu.
4. Seorang mukmin berusaha dengan cara-cara yang disyariatkan. Hal itu berlaku dalam seluruh urusan hidupnya. Dia berusaha dengan cara-cara yang disyariatkan guna memenuhi hajat-hajatnya dan mengejar cita-citanya, dengan menyerahkan semua urusan kepada Allah. Dia menikah untuk mendapat keturunan yang shalih, namun dia menyerahkan urusan kepada Allah. Dia bertani dan mengairi sawahnya agar dapat memetik panen dan keuntungan. Meskipun demikian dia tahu bahwasannya segala sesuatu ada di tangan Allah ta’ala. Dia berobat karena mengharapkan kesembuhan. Dia tahu bahwasannya sesembuhan itu ada di tangan Allah.
Tawakkal tidaklah menafikan usaha dengan cara-cara yang disyariatkan. Sebab, meninggalkan usaha secara total adalah tawakkal semu bukan tawakkal yang sesungguhnya.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Leave A Reply