Berhukum Kepada Syari’at Allah Ta’ala

0

Maksud berhukum dengan syariat Allah ta’ala yakni meminta (keputusan) hukum yang diturunkan oleh-Nya kepada Muhammad shollaulohu alaihi wassalam, serta hukum dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semangat ini bersumber dari keimanan kepada Allah ta’ala, kepada rububiyyah-Nya atas segala sesuatu, kesendirian-Nya di dalam kerajaan dan pengaturan, iman kepada sifat-sifat-Nya yang memiliki hikmah sangat tinggi dalam syariat, perintah dan larangan-Nya, keyakinan kepada ilmu-Nya yang maha luas atas segala sesuatu dan bahwasannya Allah lebih mengetahui tentang keadaan makhluk-Nya daripada diri mereka sendiri.

Allah ta’ala berfirman:

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (QS. Al-Mulk: 14).

Keyakinan bahwasannya Allah ta’ala Maha Penyayang kepada segenap makhluk, bahkan lebih saying daripada mereka sendiri, sebagaimana firman-Nya:

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. Al-Ahzab: 43).

Keyakinan bahwasannya Allah adalah Raja Yang Maha Adil, yang tidak pernah berbuat zhalim kepada makhluk-Nya meski sebesar biji atom. Dia pun menghendaki kemudahan bagi mereka, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185).

Demikian juga ketika seorang mukmin menyaksikan sifat-sifat Allah yang penuh kesempurnaan dan keindahan, sedangkan sifat makhluk berkebalikan dengan itu dan dia mengetahui bahwasannya Allah menetapkan hokum atas para hamba-Nya berdasarkan tuntutan ilmu, hikmah, kekuasaan dan lain sebagainya. Di samping itu seorang muslim juga meyakini bahwasannya nabi shollaulohu alaihi wassalam tidaklah menetapkan hokum berdasarkan hawa nafsu. Akan tetapi, beliau menetapkan hokum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu. (QS. An-Nisa: 105).

Dengan demikian, tatkala seorang mukmin telah meyakini perkara-perkara di atas, niscaya ia akan berhukum dalam semua urusannya kepada Allah ta’ala dan rasul-Nya dengan merujuk kepada hokum Al-Quran dan As-Sunnah. Kondisi demikian juga memaksa dirinya untuk ridha terhadap hokum tersebut meskipun bertentangan dengan pemikiran dan hawa nafsunya. Ia pun tunduk kepada-Nya dengan ketundukan yang sempurna serta menerima dengan sepenuhnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. An-Nisa: 65).

Sudah selayaknya seorang mukmin mengetahui bahwasannya menetapkan hokum di antara manusia adalah hak Allah semata, tidak boleh disertakan di dalamnya seorang pun dari makhluk. Allah ta’ala berfirman:

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. (QS. Yusuf: 40).

Jika manusia telah berhukum kepada kitab Allah ta’ala dan sunah nabi-Nya shollaulohu alaihi wassalam, niscaya hal itu akan memberikan pengaruh yang terpuji di dunia maupun akhirat. Di antara pengaruh tersebut adalah:

  1. Kedamaian di antara mereka. Sebab, jika manusia berhukum kepada kitabullah dan ridha dengannya serta menerimanya, maka hal itu merupakan faktor terpenting untuk melenyapkan permusuhan dan perselisihan di antara mereka. Kebanyakan dari sebab-sebab perselisihan, pertengkaran, pemutusan hubungan dan permusuhan di antara manusia pada hakikatnya adalah karena berpaling dari hokum Allah dan beralih kepada hokum-hukum selainnya yang diciptakan oleh manusia, yang tidak akan dapat memperbaiki keadaan mereka.
  2. Berkah pada rizki dan tersebarnya keamanan. Semua itu merupakan buah dari berhukum kepada Allah ta’ala dan rasul-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. (QS. Al-Maidah: 66).

Terhapusnya berkah pada rizki dan makanan, rusaknya keadaan manusia dan tersebarnya kerusakan di antara mereka, semua itu merupakan akibat berpaling dari hokum Allah ta’ala dan hokum rasul-Nya shollaulohu alaihi wassalam, serta akibat dari kemaksiatan dan kerusakan.

  1. Mencegah terjadinya kezhaliman di antara sesama manusia. Sesungguhnya jika manusia berhukum kepada Allah ta’ala dan rasul-Nya serta berpaling dari berhukum kepada hokum ciptaan manusia yang berasal dari pemikiran dan hawa nafsu yang pasti cacat dan kurang, niscaya akan tercegahlah segala bentuk kezhaliman sebagian orang atas sebagian lainnya. Tidak ada lagi keharusan berhukum kepada hokum-hukum manusia dan merujuk kepadanya. Selain itu, lenyaplah kultus individu yang semu atas mereka.
  2. Meninggalkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang bertentangan dengan hokum Allah ta’ala yang dibuat oleh manusia dan tidak mungkin disandingkan dengan hokum Allah ta’ala. Pengecualian dalam hal ini ialah peraturan-peraturan yang tidak bertentangan dengan hukum Allah ta’ala, bahkan sesuai dengannya dan berasal darinya, dalam perkara-perkara yang tidak terdapat hukum Allah secara jelas. Adapun undang-undang yang dibuat oleh manusia dan bertentangan dengan hukum Allah pasti terhapus, jika hukum Allah diterapkan dan manusia berhukum kepadanya. Para hakim tidak akan berkesempatan berhukum kepada hukum buatan manusia. Demikan juga orang-orang yang bersengketa tidak akan bisa berhukum kepadanya. Sebaliknya, mereka akan mengembalikan seluruh perkara kepada hukum Allah.

Allah ta’ala berfirman:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (QS. Al-Maidah: 49).

Dan masih banyak pengaruh-pengaruh terpuji lainnya.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Leave A Reply