Berdirinya Kota Kudus, “Kota Suci”

0

 

 
Menurut Hikayat Hasanuddin di Banten, imam keempat di Masjid Demak yang gugur di medan laga itu diganti oleh anaknya yang ditetapkan dalam jabatannya oleh Syekh Nurullah, yang kelak terkenal sebagai Sunan Gunungjati di Cirebon. Ini tidak mustahil, apabila kita pahami bahwa Sunan Gunungjati justru pada waktu yang sama telah menjadi ipar raja di Demak, hingga dalam kedudukan yang demikian itu ia dapat menyatakan pengaruhnya.

Penghulu muda di Demak inilah, menurut cerita tutur di Jawa Tengah, yang akhirnya dapat merebut kota kerajaan tua, Majapahit. la mencapai hasil gemilang itu terutama karena kekuatan gaibnya. Cerita yang bukan-bukan yang dimuat dalam buku-buku cerita Jawa Tengah inj menimbulkan dugaan bahwa kemudian orang sudah tidak ingat lagi akan fakta-fakta pertempuran-pertempuran itu sendiri karena memperhatikan kemenangan saja.
Cerita tutur Jawa tersebut menampilkan banyak raja dari seluruh daerah, bahkan dari Palembang, dan semua “ulama”. Sunan Giri konon telah memainkan peranan istimewa dengan keris ajaibnya. Cerita-cerita itu boleh dianggap pancaran daya angan-angan generasi penerus. Cerita-cerita itu juga bertentangan urutan waktunya; para sunan, dari Giri misalnya, baru mendapat kekuasaan dan kedudukan tinggi pada paruh kedua abad ke-16. Namun, mungkin sekali, raja Demak, setelah melihat bahwa serangan-serangan “para santri” yang penuh semangat tempur di Jawa Timur itu menggoyahkan kekuasaan maharaja Majapahit, ingin mengambil manfaat dari situasi untuk memperkaya diri dan memperluas wilayahnya.
Dalam uraian di atas (Bab II-12) telah diberitakan, mungkin raja Islam itu sesudah jatuhnya ibu kota lama menanamkan kekuasaannya di bagian terbesar Jawa Timur dan Madura. Mungkin karena pengaruh Sunan Gunungjati, iparnya, pada waktu itu juga ia memakai gelar sultan (lihat Bab II-9).
Kemungkinan bahwa berkat sukses yang telah dicapainya dalam medan peperangan, kekuasaan penghulu Demak, yang pada waktu itu agaknya masih muda, menanjak sekali. Cerita-cerita Jawa tentang kebesaran dan tindakan-tindakan Sultan Kudus harus dianggap cerita tentang dia sendiri. Namanya disebut dalam Sadjarah Dalem, silsilah keturunan nenek moyang raja-raja Surakarta dari abad ke-19, berdasarkan sumber keterangan lama yang dapat dipercaya. la dianggap layak dicantumkan dalam buku itu, karena seorang putri keturunannya diperistri oleh Susuhunan Paku Buwana III di Surakarta (1749-1788). Sunan Kudus sendiri konon telah memperistri putri Kiai Gede Kali Podang (lebih lanjut tidak dikenal), putri bupati Terung yang sudah ditaklukkan dan telah masuk Islam (sebelumnya sudah disebutkan), dan putri Adipati Kanduruwan (mungkin masih kerabat Sultan Demak); karena itulah ia mempunyai hubungan darah dengan kalangan bangsawan pada zamannya.
Sementara itu ‘pemimpin rohani’ yang berderajat tinggi dan penuh semangat tempur ini, yang diberi nama Sunan Kudus dalam cerita tutur Jawa Tengah, sesudah menyelesaikan tugas-tugas ketentaraan dalam perang melawan Majapahit pada tahun- 152’7, masih bertahun-tahun hidup di Demak sebagai penghulu masjid suci itu, hingga akhirnya ia mendirikan Kota Kudus, “kota suci”, dan pindah sendiri ke kota itu. Menurut tambo, ia bertindak demikian karena timbulnya perselisihan dengan raja Demak, karena perbedaan pendapat mengenai permulaan bulan puasa.
Perselisihan dengan raja Demak, yang menyebabkan tokoh yang kelak bernama Sunan Kudus itu terpaksa angkat kaki dari Demak itu, karena alasan yang lebih dalam daripada sekadar salah paham tentang permulaan bulan puasa itu. Dapat diduga bahwa ada iri hati antara yang kelak bernama Sunan Kudus – yang di Demak menjadi penghulu Masjid Suci – dan Sunan Kalijaga yang dalam pemerintahan Pangeran Tranggana telah pindah ke Demak dari Cirebon. Sunan Kalijaga adalah seorang dari keturunan tinggi, yang bertalian darah dengan para penguasa di kota pelabuhan tua, Tuban. Rupanya, ia disenangi baik oleh yang kelak bernama Sunan Cirebon maupun oleh yang kelak disebut Sultan Tranggana di Demak. Sunan Kudus, seperti halnya dengan kerabatnya, Sunan Bonang, terutama adalah seorang ahli dan penyebar agama.
 Tambo Jawa Tengah memuat cerita yang menunjukkan adanya persaingan antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga itu. Pangeran Prawata, pengganti Sultan Tranggana di Demak, konon setelah mula-mula menjadi murid Sunan Kudus, kemudian mengakui Sunan Kalijaga sebagai gurunya. (Serat Kandha, hal. 466). Dalam buku babad yang kemudian (Meinsma, Babad, hal. 79-80) bahkan diceritakan bahwa Sunan Kudus telah menghasut, atau setidak-tidaknya telah memberi kuasa, muridnya yang paling dikasihi, Aria Panangsang di Jipang, untuk membunuh Pangeran Prawata yang pada waktu itu menjadi raja yang memerintah di Demak, karena dianggap suatu dosa besar menjadi murid pada dua guru sekaligus. Cerita-cerita ini ternyata berasal dari lingkungan “masyarakat orang-orang alim” atau masyarakat santri. Dapat dimengerti bahwa hal itu juga mencerminkan pandangan dan pendirian kelompok penganut Sunan Kudus.
Akhirnya terdapat kemungkinan juga Sunan Kudus meninggalkan Demak karena keinginan untuk hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk memperdalam ilmu ketuhanan dan melakukan karya-karya yang direstui Tuhan, di luar lingkungan keraton (Demak). Sukar ditetapkan pada tahun berapa ia mengambil keputusan yang penting itu. Mungkin sekali itu terjadi beberapa tahun sebelum tahun 1549, tahun yang sesuai dengan tahun 956 Hijriah yang tahun pendiriannya dicantumkan di atas mihrab masjid besar di Kudus. Dapatlah dimengerti bahwa pembangunan masjid ini memerlukan waktu beberapa tahun, dan selain itu masjid itu bukan rumah ibadat pertama yang dipakai oleh ulama itu. Sebuah cerita Jawa (yang mungkin tidak sepenuhnya dapat dipercaya) menyatakan, Sunan Kalijaga datang dari Cirebon di Demak pada tahun 1543. Apabila dianggap benar bahwa penghulu Demak – juga karena rasa tidak senang terhadap Sunan Kalijaga – telah tergerak untuk pindah ke Kudus, maka tahun 1543 dapat dianggap sebagai batas perhitungan paling awal. Tahun itu masih berada dalam periode pemerintahan Sultan Tranggana yang pada tahun 1546 sudah wafat.
Kudus (kata dalam bahasa Jawa untuk al-Quds, yaitu Baitulmukadis) ialah nama yang diberikan terhadap tempat itu, waktu tempat itu dinyatakan sebagai “tempat suci” oleh Sunan Kudus pertama, yang sebelumnya di Demak menjadi imam jemaah. Nama yang lebih tua bagi tempat itu ialah Tajug. Letaknya tidak begitu jauh di sebelah timur laut Demak, pada suatu jalan tua yang menuju ke timur. Tidak ada petunjuk bahwa pernah ada pelabuhan dagang di sana.
Menurut legenda setempat, Mbah Kiai Telingsing-lah yang mula
mula menggarap tempat yang kemudian menjadi Kota Kudus. Beberapa orang menyebut dia seorang Cina Islam, namanya semula The Ling Sing. Adanya cerita-cerita yang demikian menunjukkan bahwa tempat itu sudah agak berarti, sebelum dijadikan “kota suci” oleh Sunan Kudus.
Dari cerita setempat ini – mengenai menetapnya penghulu Demak yang menyingkir ke tengah-tengah kelompok kecil penduduk yang menghuni pedukuhan pada jalan lama menuju ke arah timur – dapat juga diambil kesimpulan bahwa yang kelak menjadi sunan di Kudus itu mula-mula memperoleh penghasilan dari tanah-tanah ladang di sekitarnya, yang diolah para pengikutnya. Boleh jadi ia sebagai panglima mempunyai kawula-kawula itu, yang semula milik para penguasa “kafir” di daerah Majapahit yang sudah ditaklukkannya. Juga dapat dimengerti bahwa sebagian barisan santri, yang telah bertempur di bawah pimpinannya dalarn perang jihad melawan “orang-orang kafir” di Jawa Timur, merasa tertarik oleh pusat kehidupan Islam baru di “kota sucj” itu. Anehnya, tidak ada pemberitaan dalarn cerita tutur Jawa tentang penghadiahan tanah oleh raja Demak kepada para ulama besar di Kudus. Sedangkan para ulama Kadilangu, yang termasitk keturunan Sunan Kalijaga (mungkin lawan Sunan Kudus), sepanjang masa hidup dari hasil tanah perladangan, yang telah dihadiahkan kepada mereka oleh Keraton Demak.
 “Kota Suci” Kudus Baitulmukadis sudah terkenal di Jawa dan bahkan di Nusantara sebagai pusat agama. Masjid besarnya diberi nama al-Manar atau al-Aqsa, seperti masjid suci di Baitulmukadis bagian Islam. Pengunjung-pengunjung Barat sudah sejak abad ke-17 (Antonio Hurdt, dalam ekspedisinya ke Kediri pada tahun 1678) mengagumi menara raksasanya, suatu bangunan yang kukuh tampan dan yang arsitekturnya jelas diilhami oleh candi-candi zaman pra-Islam. Penduduk “kota suci”, Sunan Kudus dan “orang-orang santri”-nya, ternyata tidak merasa perlu memusnahkan segala sesuatu yang mengingatkan pada “kekafiran” zaman pra-Islam, atau melupakannya sama sekali.
Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

 

Leave A Reply