Berbaik Sangka Kepada Allah dan Rasul-Nya

0

Berbaik sangka merupakan salah satu adab kepada Allah ta’ala dan kepada rasul-Nya. Hendaknya seorang muslim selalu berbaik sangka kepada Allah ta’ala dan rasul-Nya, di antaranya:

  1. Berbaik sangka kepada Allah dalam dzat-Nya. Bahwasannya Dia Maha Tinggi, Maha Esa dan tidak terbilang, serta suci dari segala aib dan kekurangan.
  2. Berbaik sangka kepada Allah dalam rububiyah-Nya. Bahwasannya Dia lah yang mengatur semua urusan makhluk dan hanya Dia lah yang mampu memperbaiki keadaan mereka. Dia bersendiri dalam penciptaan dan kerajaan, serta seluruh makna-makna rububiyah yang sempurna dan agung.
  3. Berbaik sangka kepada Allah dalam rububiyah-Nya. Bahwasannya Allah ta’ala adalah satu-satunya dzat yang berhak diibadahi, bukan selain-Nya, Dia lah raja bagi semua urusan dan sebab-sebabnya. Tidak ada sesuatu pun selain Dia yang berhak untuk itu.

Allah ta’ala berfirman:

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (yang haq) melainkan Allah. (QS. Muhammad: 19).

Firman-Nya juga:

Kuasa Allah yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil. (QS. Al-Hajj: 62).

  1. Berbaik sangka kepada Allah dalam asma’ dan sifat-Nya. Bahwasannya Dia lah dzat yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi, sama sekali tidak memiliki cacat maupun aib dari segi mana pun. Tidak mungkin hal itu ada pada Allah, bahkan seluruh sifat-sifat-Nya, baik dan sempurna, agung dan indah.

Demikianlah seluruh sifa-sifat Allah ta’ala. Adapun sifat-sifat yang terkandung di dalamnya cacat maupun aib, seungguhnya Allah ta’ala bersih dari itu semua. Sekali-kali itu bukanlah termasuk sifat-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu. (QS. Al-A’raf: 180).

  1. Berbaik sangka kepada Allah dalam qadar-Nya. Bahwasannya Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum ia diciptakan. Dia lah yang telah menulisnya, menghendakinya dan mengadakannya. Segala sesuatu di ala mini ada atas iradah (kehendak) Allah ta’ala dan takdir-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

Dia telah mencipatakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqan: 2).

Dia juga berfirman:

Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (lauhul mahfuzh). (QS. An-Naml: 75).

Firman Allah ta’ala pula:

Tiada sesuatu  bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. (QS. Al-Hadid: 22).

  1. Berbaik sangka kepada Allah dalam syari’at-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan bagi kita syari’at dan agama yang paling sempurna. Tidak terkandung sedikit pun cacat atau aib pada syari’at-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu, agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam itu menjadi agamamu. (QS. Al-Maidah: 3).

Demikian juga Allah ta’ala tidak menetapkan syari’at bagi hamba-Nya kecuali yang terkandung di dalamnya kemaslahatan, keselamatan dan kemenangan bagi mereka di dunia maupun di akhirat, sebagaimana Allah ta’ala tidak akan menetapkan syari’at bagi hamba-Nya yang mempersulit mereka. Dia tidak akan membebani para hamba-Nya di luar kemampuan mereka.

Allah ta’ala berfirman:

Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286).

Allah ta’ala juga berfirman:

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. (QS. Ath-Thalaq: 7).

Demikian pula Allah ta’ala Maha Santun kepada segenap hamba-Nya. Dia menghendaki kemudahan bagi mereka dan tidak menghendaki kesulitan, sebagaimana firman-Nya:

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185).

Firman-Nya juga:

Sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. Al-Hajj: 78).

  1. Berbaik sangka kepada rasulullah shollaulohu alaihi wassalam. Bahwasannya beliau benar-benar utusan Allah, benar dalam segala kabar yang beliau sampaikan, beliau telah menyampaikan syari’at Allah dan tidak menyembunyikan sesuatu pun dari wahyu yang disampaikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling bertakwa dan paling taat kepada-Nya, serta paling sempurna dalam mengetahui hukum-hukum Allah ta’ala, mengikuti segala perintah-Nya dan hamba yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.

Beliau adalah manusia yang paling  penyayang terhadap makhluk, paling bersemangat menyampaikan hidayah di alam ini dan paling gigih berdakwah kepada Allah ta’ala. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah atasnya.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Leave A Reply