Berakhlak Luhur

0

Muslim yang benar selalu menampilkan budi yang baik, perangai yang lembut, perkataan yang halus dan ramah. Nabi saw, manusia yang harus dijadikan panutan dan idola kaum muslimin, telah banyak mencontohkan perbuatan-perbuatan mulia untuk menuntun umatnya. Anas ra, sahabat sekaligus pembantu setia nabi, mengatakan bahwa beliau merupakan manusia yang paling baik akhlaknya [HR. Muttafaq Alaih]. Mengenai kebaikan akhlak nabi itu, Anas ra menceritakan:

“Aku telah membatu rasulullah saw seama sepuluh tahun. Selama itu pula, tak pernah sekalipun meluncur dari lisan beliau kepadaku kata “ah” dan beliau tidak pernah mengatakan untuk suatu yang aku kerjakan “mengapa engkau lakukan ha itu” tidak pula untuk sesuatu yang tidak aku kerjakan “Mengapa kamu tidak melakukannya?” [HR. Muttafaq Alaih]

Rasulullah selalu menjauhi perbuatan maupun ucapan yang kotor. Abdullah bin Amru bin Ash ra meriwayatkan bahwa nabi saw telah bersabda:

“Sesungguhnya yang termasuk insan pilihan di antara kamu sekalian adalah yang terbaik akhaknya.” [HR. Muttafaq Alaih].

“Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam. Sesungguhnya sebaik-baik manusia keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya.” [HR. Thabrani, Ahmad dan Abu Ya’la]

Sabdanya pula:

“Sesungguhnya yang aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling aku benci dan jauh dariku di hari kiamat adalah yang banyak bicara dan berlagak sombong serta bertele-tele dalam berbicara.” Bertanya para sahabat: “Ya rasulullah, kami tahu apa yang dinamakan Ats-tsartsaarun wal mutasyaddiqun [banyak bicara dan bertele-tee], lalu apa arti Al-Mutafaihiqun?” rasulullah menjawab: “Al-Mutakabbirun [sombong].” [HR. Tirmidzi].

Semua sahabat rasulullah yang diridhoi Allah selalu tekun mendengar dan mengikuti bimbingan akhlak yang mulia dari beiau. Mereka menyaksikan sendiri ketinggian akhlak beliau. Mereka dengan penuh kesadaran dan semangat, berbuat sesuai dengan ajaran beliau, meneladani beliau, sehingga waktu itu tegaklah suatu masyarakat Islam yang indah, adil yang tidak bisa dilupakan di dalam sejarah umat manusia.

Anas ra berkata:

“Nabi saw penuh dengan sifat belas kasih. Tak ada seorang pun mendatangi beliau kecuali beliau telah menjanjikannya dan memenuhi janjinya jika telah berjanji dengan seseorang meskipun beliau sedang mendirikan shalat. Pernah datang seorang arab badui kepada beliau, lalu menarik baju beliau seraya berkata:

“Sesungguhnya aku  tetap akan melaksanakan hajatku [sekarang juga], aku takut lupa.”

Maka nabi saw berdiri bersamanya sehingga ia menyelesaikan hajatnya kemudian beliau menghadap kiblat dan meneruskan shalat.” [HR. Bukhari].

Tidak Nampak pada diri rasulullah saw ras keberatan sedikitpun untuk mendengarkan orang arab itu dan menyelesaikan hajatnya, padahal beliau tengah mendirikan shalat. Tidaklah sempit dadanya mendapat perlakuan kasar lelaki tersebut yang menarik bajunya dan menunggu menyelesaikan hajatnya sebelum shalat. Beliau bersabar, lembut dalam membangun masyarakat yang tegak atas moral yang suci. Beliau mendidik kaum muslimin melalui perbuatan nyata, bagaimana seharusnya seorang muslim membantu sesama saudaranya. Dia telah menegakkan suatu prinsip dan sendi-sendi akhak yang diperlukan bagi masyarakat muslim yang kokoh.

Jika kita lihat, kebajikan moral pada masyarakat bukan muslim selalu berpulang kepada kebaikan sistem pendidikan dan hasil kerja ilmiah. Sedangkan masyarakat muslim, sebelum dikembalikan kepada unsur-unsur tersebut, terlebih dahulu masalah-masalah itu dikembalikan kepada agama [sistem ajaran ilahi] yang menjadikan akhak sebagai tabiat asli kaum muslimin. Akhlak memperoleh kedudukan yang tinggi dalam Islam, berat bobot timbangannya di sisi Allah. Keluhuran akhlak yang berat timbangannya bagi seorang muslim dalam pengadilan ilahi.

Menjelaskan hal ini, rasulullah telah bersabda:

“Tiada sesuatu yang lebih berat timbangannya bagi seorang muslim di hari kiamat daripada keluhuran akhlak. Allah membenci orang yang keji dalam ucapan ataupun perbuatannya.” [HR. Tirmidzi]

Lebih jauh, Islam menjadikan keluhuran akhlak sebagai syarat kesempurnaan iman, sebagaimana ditegaskan nabi saw:

“Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur akhlaknya.” [HR. Tirmidzi]

Keluhuran akhlak juga akan menyebabkan seorang hamba sangat dicintai Allah. Pernah sekelompok manusia bertanya kepada rasulullah saw tentang siapa yang paling dicintai Allah dari hamba-hamba-Nya. Menjawab pertanyaan mereka, bersabda beliau saw:

“Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” [HR. Tabrani]

Kemudian beliau bersabda:

“Tidak ada yang lebih berat timbangannya daripada keluhuran akhlak. Seseorang yang baik akhlaknya dapat mencapai, bahkan melebihi, derajat orang yang berpuasa [di siang hari] dan shalat [di malam hari]…[HR. Tirmidzi]

Rasulullah saw benar-benar menekankan arti penting keluhuran akhlak kepada para sahabatnya. Beliau, tanpa henti-hentinya menanamkan semangat untuk memperkokoh ikatan persahabatan dan saling mencintai sesame sahabat.

Semua itu dilakukan beliau melalui berbagai cara, baik lisan maupun perbuatan nyata, sehingga beliau berhasil meresapkan ajaran beliau ke lubuk hati para sahabat sekaligus pengikutnya, mensucikan jiwa mereka dan memperindah akhlak mereka itu. Di antaranya, rasulullah saw berwasiat kepada Abu Dzar Al-Ghifari:

“Wahai Abu Dzar, maukah aku tunjukkan dua perkara yang sangat ringan dipikul dan lebih berat dalam timbangan daripada perkara-perkara lainnya?” Abu Dzar Menjawab: “Mau ya  rasulullah.” Rasulullah saw bersabda: “Engkau harus berakhlak luhur dan banyak berdiam mulut [tidak banyak bicara]. Maka demi Allah yang jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, tidak ada yang lebih indah dari manusia-manusia ciptaan-Nya daripada mereka yang mengerjakan kedua perkara tersebut.” [HR. Tabrani dan Abu Ya’la].

Beliau saw juga bersabda:

“Sebaik-baiknya akhlak adalah yang dapat menaikkan harkatnya dan sejelek-jelek akhlak adalah yang dapat membawa sial pada dirinya. Adapun kebajikan akan menambah umur dan sedekah dapat mencegah mati [dalam keadaan] jelek.” [HR. Ahmad].

Rasulullah saw selalu berdoa:

“Allahumma ahsanta khalqie, fa ahsin khuluqie.” Ya Allah, Engkau telah menciptakanku dengan seindah-indahnya, maka perindahlah akhlakku]. [HR. Ahmad].

Doa tersebut telah didengar oleh Allah, Yang Maha Mendengar dan dinyatakan oleh Allah ta’ala di dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4:

“Sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak agung.” [QS. Al-Qalam: 4].

Doa ini tidak hanya memiliki makna harfiah, tetapi juga makna yang sangat dalam, bukan saja dikehendaki Allah dan rasul, tetapi juga oleh setiap muslim. Keluhuran akhlak [husnul khuluq] merupakan suatu kata yang dapat mengangkat harkat manusia, membersihkannya dan meninggikannya. Ia meliputi Al-Haya’ [rasa malu], Al-Hilm [sabar hati], Ar-Rifq [lemah lembut], Al-Afwu [pemaaf], As-Simahah [toleran], Al-Bisyr [periang], Ash-Shidq [jujur], Al-Amanah [berjiwa amanah], An-Nasihat [suka memberi nasihat dan terbuka terhadap kritik], Al-Istiqomah [teguh pendirian] dan shafaussarirah [sikap bersih], serta sifat-sifat lainnya yang termasuk ke dalam kemuliaan budi.

Sifat-sifat mulia seperti tersebut di atas sangat diperlukan dalam menopang kehidupan masyarakat yang tinggi. Islam, dalam membentuk pribadi muslim yang berjiwa sosial dan sanggup mengemban amanah ilahi, sangat memperhatikan masalah ini. Tidak cukup pada hal-hal umum, bahkan secara detil, bagian demi bagian, Islam menyentuh masalah pembinaan akhlak ini dalam mencapai tujuannya. Demikian konsep dan kelengkapan manhaj Islam, terutama yang menyangkut manhaj tarbiyah [metoda pendidikan] kemasyarakatan.

Dikutip dari; Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply