Berakhirnya Kesultanan Pajang Pada Dasawarsa Ke-2 Akhir Abad Ke-16

0

Menurut cerita tutur Mataram yang bersifat sejarah, Sultan Pajang meninggal di taman kerajaannya, sebagai akibat penyakit, kecelakaan atau karena tindakan seorang juru taman, ‘tukang kebun’, tidak dikenal yang ingin berjasa kepada Senapati Mataram. Meninggalnya raja tua itu harus kita tempatkan pada tahun 1587.

la dimakamkan di Butuh, suatu tempat yang tidak jauh di sebelah barat taman Kerajaan Pajang, yang masih lama kemudian tetap dikenal sebagai Makam Aji. Butuh adalah daerah kekuasaan salah seorang dari empat penguasa yang – menurut cerita tutur – berkumpul di Pengging tepat pada malam kelahiran bayi yang kelak akan menjadi sunan Pajang itu, yaitu Jaka Tingkir.

Orang yang menjadi ahli waris Sultan Pajang ialah tiga putra menantu; yakni raja di Tuban, raja di Demak, dan raja di Aros Baya, di samping putranya sendiri, Pangeran Benawa, yang konon masih sangat muda waktu ayahnya meninggal.

Menurut cerita babad, Sunan Kudus telah menggunakan wibawa kerohaniannya agar yang diakui oleh Keraton Pajang sebagai raja baru itu bukan anak sultan, melainkan raja Demak. Raja Demak itu adalah Aria Pangiri, anak (atau mungkin lebih tepat keponakan) Susuhunan Prawata yang telah terbunuh, dan cucu Sultan Tranggana yang putrinya telah kawin dengan Sultan Pajang yang baru meninggal itu. Jadi, Aria Pangiri (atau Kediri) dari Demak ini, kecuali menantu, juga keponakan (dari pihak ibu) Sultan Adiwijaya. Pada tahun 1587 ia sudah agak tua. Mungkin yang menjadi maksud ulama dari Kudus itu ialah mengembalikan kekuasaan di kesultanan Jawa Tengah kepada seorang keturunan langsung Sultan Tranggana dari Demak, yang sudah meninggal kira-kira 40 tahun sebelumnya.

Menurut cerita tutur Mataram, raja kedua di Pajang itu benar tinggal di istana kerajaan, tetapi dikelilingi oleh pejabat-pejabat istana yang dibawa serta dari Demak. Anugerah dan tanah yang kemudian dibagi-bagikan kepada “orang-orang asing” dari Pesisir itu telah membangkitkan rasa tidak puas dan iri hati para bangsawan dan tuan tanah asal pedalaman Pajang sendiri.

Pangeran Benawa, putra almarhum sultan pertama, ahli waris pertama, dijadikan raja di Jipang atas anjuran Sunan Kudus. Di sana Aria Panangsang kira-kira 40 tahun sebelumnya dikalahkan oleh ayah Benawa (waktu itu masih belum menjadi Sultan Pajang).

Pangeran muda ini, karena merasa tidak puas dengan nasibnya di tengah-tengah lingkungan yang asing baginya, merencanakan persekutuan “jahat” dengan Senapati Mataram dan orang-orang di Pajang yang tidak puas, mengusir raja baru yang asing itu.

Usaha ini berhasil, sesudah terjadi pertempuran singkat, pada tahun 1588. Nyawa raja Demak masih dapat ditolong, berkat permintaan belas kasihan istrinya, seorang putri Pajang. la diikat dengan cinde (sabuk) sutera dan dikembalikan ke Demak.

Kekalahannya dalam pertempuran melawan Senapati Mataram dan Pangeran Benawa menurut cerita babad disebabkan oleh berbaliknya orang Pajang yang tidak puas ke pihak Mataram. Di samping itu prajurit-prajurit sewaan yang ikut serta dari Demak teinyata tidak dapat dipercaya. Laskar sewaan itu terdiri dari budak belian, orang-orang Bali, Bugis, Makassar, dan golongan “peranakan”, yaitu orang-orang Cina yang berdarah campuran.

Dari pemberitaan tentang adanya prajurit-prajurit sewaan dalam tentara raja Demak dapat disimpulkan bahwa pada perempat terakhir abad ke-16 di daerah-daerah Pesisir kehidupan ekonomi yang menggunakan uang sebagai bahan tukar sudah lazim, berbeda dengan hubungan-hubungan sosial di daerah pedalaman Pajang dan Mataram.

Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD; Grafiti Pres

Leave A Reply