Belum Haji Sudah Mabrur

0

 

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetanggakami. Dia salah seorang  penerima  program  Subsidi  Langsung  Tunai  (SLT)  yang  kini  sudah  berakhir.  Yu Timah adalah penerima  SLT  yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman  bambu,  tak  punya  sumur  sendiri.  Bahkan  status  tanah  yang  di tempati  gubuk  Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Dia sebatang kara.  Dulu  setelah  remaja  Yu  Timah  bekerja  sebagai  pembantu  rumah  tangga  di  Jakarta. Namun,  seiring  usianya  yang  terus  meningkat,  tenaga  Yu  Timah  tidak  laku  di  pasaran pembantu  rumah  tangga.  Dia  kembali  ke  kampung  kami.  Para  tetangga  bergotong  royong membuatkan  gubuk  buat  Yu  Timah  bersama  emaknya  yang  sudah  sangat  renta.  Gubuk  itu didirikan  di  atas  tanah  tetangga  yang  bersedia  menampung  anak  dan  emak  yang  sangat miskin itu.
Meski  hidupnya  sangat  miskin,  Yu  Timah  ingin  mandiri.  Maka  ia  berjualan  nasi bungkus.  Pembeli  tetapnya  adalah  para  santri  yang  sedang  mondok  di  pesantren  kampung kami.  Tentu  hasilnya  tak  seberapa.  Tapi  Yu  Timah  bertahan.  Dan  nyatanya  dia  bisa  hidup bertahun-tahun.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti  dia mau bicara soal  tabungan.  Inilah  hebatnya.  Semiskin  itu  Yu  Timah  masih  bisa menabung  di  bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang  ke  kantor.  Katanya,  malu  sebab  dia  orang  miskin  dan  buta  huruf.  Dia  menabung Rp5.000 atau Rp10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerimaSLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu  Timah  biasa  duduk  menjauh  bila  berhadapan  dengan  saya.  Malah  maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. ”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu  Timah  tidak  segera  menjawab.  Menunduk,  sambil  tersenyum  malu-malu.  ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya  karena  saya  masih  diam.  Karena  lama  tidak  memberikan  tanggapan,  mungkin  Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban.  Selama  ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah  Yu  Timah  benderang.  Senyumnya  ceria.  Matanya  berbinar.  Lalu  minta pamit dan  dengan  langkah-langkah  panjang  Yu  Timah  pulang.  Setelah  Yu  Timah  pergi,  saya termangu  sendiri.  Kapankah  Yu  Timah  mendengar,  mengerti,  menghayati,  lalu menginternalisasi  ajaran  kurban  yang  ditinggalkan  oleh  Kanjeng  Nabi  Ibrahim?  Mengapa orang  yang  sangat  awam  itu  bisa  punya  keikhlasan  demikian  tinggi  sehingga  rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kau  belikan  makanan,  televisi,  atau  pakaian  yang  bagus.  Uangmu  malah  kamu  belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini  akan  saya  langgar.  Saya  ingin  menikmati  daging  kambingmu  yang  sepertinya  sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.
Shared By Kisah Penuh Hikmah

 

Leave A Reply