Adikku Sayang, Adikku Malang…

0

Sniper barat lagi-lagi melepaskan pelurunya. Nggak cuman Ambon yang punya banyak sniper RMS, tapi yang ini snipernya lebih jitu. Kali ini yang terkapar oleh tembakan mereka bukanlah kaum hawa yang lagi enjoy ngegosip dan terbentur gaya hidup hedonis. Bukan pula remaja yang konon dibisikin setan entah darimana (mungkin dari acara uka-uka atau dunia lain) tentang tiga ide nyleneh termasuk tawuran, narkoba dan free sex…yang hingga sekarang dijadikan dewa oleh remaja. Sniper tadi sekarang lagi mbidik generasi yang masih ‘pure’ alias belum kecampuran apapun. Generasi baru yang fresh from the oven. Masih hot…Mereka ngerti berat kalo generasi yang masih bersegel erat tadi dibidik dengan tepat, dan dididik dengan model dan style mereka mulai sekarang, maka akan tumbuh budak-budak barat yang punya loyalitas tinggi alias manut wae dengan semua omongan, opini, dan perintah mereka, khususon buat ngoceh, “Islam…?? Udah lupa tuh!”


Orang-orang barat bukannya bodoh untuk hal tipu menipu juga manipulasi. Mereka mafhum sampe ngelontok bagaimana karakter dan mental sang target. Gerak-gerik mereka juga kebiasaan hingga pola hidup dari sang ortu. Agen-agen barat he..eh soal cara dan metode yang jitu, dan mereka nggak akan nyerah sampe sang target terpapar nggak punya daya. Siapa sih target mereka kali ini…?? SSst…jangan bilang-bilang . Ini rahasia bro…Target mereka kali ini adik kita yang punya umur belia banget, kira-kira yang punya pangkat TK (Taman Kanak-Kanak) dengan bahasa Maduranya TNK (Taman Nak-Kanak) hingga seumur SD (Sekolah Dasar). Strategi mereka….Ihhh ngeri lho..Jeng.
Masa’ sih? Mungkin itu pertanyaan yang bakal ngendon di benak kita. Gimana lho cara mereka ngasih pengaruh ide dan ideologi barat yang serba bebas dan nggak ngerti batasan itu sama adik-adik kita yang masih lugu? Padahal, kita sendiri aja kadang-kadang suntuknya bukan main buat nasihati adik kita yang imut lagi nggemesin. Sebel. Bikin pusing. Tapi tentu saja nggak tega kalo marah…Bingung jadinya. Tapi luar biasanya, bukan sulap, bukan mentalist dan bukan pula sihir. Nggak butuh waktu yang lama…buktinya sekarang sang pelopor ide barat udah berhasil nanam bibit pengaruh mereka dalam-dalam sama adik kita tersayang, hingga kita sukar untuk bisa nyabut kembali. Dengan santai mereka tersungging senyum di hadapan kita, bukti kalo mereka menang dan kiita nggak akan bisa berbuat apa-apa.. Hiih sebel. Yang penting baca terus aja sampe kelar….
Saking hebatnya gelombang serangan barat, sampe-sampe kita nggak sadar dan nggak ngeh, itu serangan atau bukan. Kita anggap itu hal yang udah biasa. Nggak ada pengaruhnya buat kita yang remaja, dan tentunya udah punya pikiran untuk nentukan bener dan salah, meski terkadang luput dan ngambil enaknya doang (nyengar-nyegir nih kesindir). Padahal untuk level mereka yang punya basis remaja ke bawah, semua informasi yang masuk punya efek yang super gede.

Seiring berjalannya waktu dan bergulirnya zaman, jiwa anak-anakpun terhipnotis oleh model eksploitasi dan modernisme ala barat. Nggak heran, kalo dulu pas era ’70-an yang jadi idola anak-anak sekelas Adi bing Slamet atau Cicha Koeswoyo. Muncul pengganti mereka yang sejajar di era ’80-an yaitu Puput Melati dan Eza Yayang. Mentari anak-anak pun berganti dengan Joshua sang jago ngobok dan Trio Kwek-kwek di masa ’90-an. Dan akhir-akhir ini mereka punya Kids Idol sejago Tasya yang tomboi, Dea Imut yang serba nurut dan Tina Toon yang jago ngebor. Ck..ck..ck.

Dunia Anak: Dunia Buram dalam Keceriaan

Seorang peneliti pada MRI (Marketing Research Indonesia) Harry Puspito maparkan hasil survey MRI (2001) soal kehidupan anak yang berjudul Kid’s World – The Future Market yang dari judulnya aja kita udah manggut kalo ujug-ujugnya bakal jadikan anak-anak sebagai komoditi bisnis dan uang. Survei yang dicoba buat anak berusia 7-14 tahun dan ibu dari anak berusia 0-14 tahun di enam kota, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makasar pada Mei hingga Juni 2001, ngasih bukti yang luar biasa mengejutkan. Aaaagh!!!…Huss belon!! Terkejutnya nanti dulu.
Bocah under 5 tahun alias baby balita udah mulai melirik televisi dengan taksiran sekitar 25 persen. Begitu usia menginjak lebih dari satu tahun, hampir semua udah kebiasa nonton aksi jagoannya di televisi seperti Megaloman, Gundala atau Pahlawan Bertopeng (92 persen). Pas usia TK (4-6 tahun) hingga usia SMP (12-14 tahun), semua sudah menjadi langganan setia televisi plus abonemen. Eitt…nagih iuran nih ye….By the way, TV sebagai media audio video yang mampu nonjol dengan gambar dan suara tentu bikin mata anak-anak nggak kepikir buat kedip apalagi noleh yang lain. Media lain seperti radio, majalah apalagi koran nggak sepopuler televisi meski lama-kelamaan anak akan mbaca juga. Kepaksa kali ye…

Nggak heran, air cucuran atap nggak akan jauh dari tempatnya jatuh. Awal larinya aja udah salah, hasilnya ya…kesasar nggak karuan. Nggak cuma seringnya nonton TV sebagai pemirsa setia, tapi bacaan mereka juga jauh dari hal yang seharusnya mereka jadikan jaring penangkal kebebasan ala barat. Bukannya Qur’an, Hadits atau buku-buku pelajaran, tapi yang banyak ditongkrongi adalah tabloid dan/atau majalah yang pola bacaannya minus agama, tapi terus nanjak dari 34 persen di antara anak-anak SD (6-9 tahun) menjadi 64 persen pada usia SMP (12-14 tahun) antara lain, Bobo (37 persen) dan Fantasi (16 persen) ditambah Bola (16 persen), Nova (12 persen), dan Aneka (9 persen). Wadow salah bacaan nih…

Lebih heng lagi..anak-anak juga suka dengerin radio (27 persen di antara anak usia 6-9 tahun, naik hingga 59 persen pada usia 12-14 tahun). Mereka tertarik kepada musik, semacam suara Kia AFI dengan Harus Sampai Disini, tetapi nggak kepikiran buat nyari berita atau program-program radio yang lain. Stasiun radio yang didengar anak-anak umumnya punya market usia dewasa, seperti Sonora (13 persen) di Jakarta, Ardan di Bandung (41 persen), Gajah Mada di Semarang (35 persen), Suzana di Surabaya (37 persen), Kiss FM di Medan (51 persen), dan Gamasi di Makassar (63 persen). Baru ada satu stasiun yang punya audiens khusus anak-anak, yaitu Kids FM di Surabaya, tetapi stasiun ini masih nggak populer di antara anak-anak (11 persen), lagi pula hampir keseluruhan minus dengan pemahaman Islam yang bener. Kec..kec ..kecian dech!!

Akibat Salah Asuhan

Sayang-seribu sayang, meski hampir semua ibu melihat dampak positif nonton teve bagi anak mereka, contohnya punya wawasan dan pengetahuan yang luas, bikin anak jadi lebih cerdas, bisa ngerti hal-hal yang baik dan yang jahat, juga si anak bisa ngembangkan keterampilan semacam menyanyi dan menari, serta jadi lebih lancar berbicara. Tapi tetep aja yang jadi basis pikiran para ortu adalah tontonan dengan model pendidikan ala barat. Coba aja ya..belum pernah denger deh, acara anak yang ngajak si bocah supaya rajin sholat dan takut sama siksa neraka. Tapi yang ada adalah ngajak si adek supaya rajin mantengin tivi nggak perduli sama yang laen dan cuma takut kalo program acaranya selesai atau jagoannya di tivi itu kalah. Kan jauh banget bro!

Nggak cukup sampai di sini, selain membuat si bocah lupa daratan dan lupa agama, nonton tivi terutama yang berisi hiburan semata bisa bikin anak jadi malas belajar dan bantu kerjaan rumah, niru perilaku orang dewasa apalagi perbuatannya semacam pacaran dan gaul bebas. Apalagi konon banyak ortu yang melihat tivi dengan model jaman milenium sekarang punya sisi positif yang besar (36 persen) dan hanya sedikit (2 persen) yang hanya melihat sisi negatifnya. Lho nggak kebalik tuh!!ngerusak kok bangga.

Bukannya kita nggak seneng dan nggak mau kalo adek kita ngadep dan cari hiburan di tivi. Nggak juga kalo kita benci dengan semua acara di tivi. Tapi kalo bisa ya..kita sebagai kakak ataupun ortu bisa bijak buat nyeleksi acara yang lagi nongol di hadapan kita. Nggak asal masukin aja ke otak si adek, soalnya acara itu punya daya setrum yang besar buat adik kita yang neuronnya lagi haus informasi.

Perkelahian, kekejaman, kekerasan dalam film-film action, hal-hal yang seram en menjijikkan di film-film misteri yang bikin adik kita merinding sama hal-hal nggak lumrah dan nggak perlu ditakuti seperti genderuwo atau pocong, ditambah gaya-gaya cengeng di sinetron, film India dan telenovela akan punya bermacam akibat buat sikap dan psikologis anak. Ini juga jadikan si anak punya cita-cita yang nggak membanggakan seperti jadi penyanyi atau bintang sinetron yang bakal kebawa hingga mereka usia remaja. Akhirnya ngimpi jadi bintang AFI, Indonesian Idol atau Indonesian Top Model. Wah ini namanya eksploitasi gede-gedean.

Pelajaran Berharga

Bagaimana bentuk adek kita yang udah berhasil dirubah oleh agen-agen rahasia barat? Kamu pasti kenal dengan nama Dea Ananda, Puput Melati, Eno Lerian, dan Marshanda. Mereka semua punya background yang manis sebagai artis cilik. Dulu mereka diidam-idamkan oleh para ortu berkat gaya dan suara yang memukau, sampe adek-adek kita cukup heboh jadikan mereka sebagi idola. Namun yang terjadi sama mereka ketika remaja sekarang adalah wajah dan raut muka mereka yang sebenarnya. Mereka jadi enggan ngomong soal agama, dan terjebak dengan gaya hidup serta pola modernisme ala barat. Padahal adek-adek kita berkiblat pada mereka. Akhirnya Si induk akan bawa sang anak kemanapun dia pergi. Jadilah adek kita generasi bebek model baru. Yang ngikut entah kemana dia dibawa.

Belum lagi banyak ortu yang nganggap kalo menjadi artis dan idola adalah hal yang mereka dambakan buat si buah hati. Padahal itu adalah eksploitasi sejati. Lho kok bisa?? ya jelas toh mbak..Gini, selama ini kita cuma ngerti kalo yang namanya eksploitasi anak itu digambarin dengan child trafficking yaitu transaksi jual beli anak yang punya unsur maksa, nipu, ngancam, dan penyalahgunaan buat tujuan eksploitasi sampe dapet untung uang atau keuntungan lainnya, misalnya jual beli untuk pelacuran dan pornografi, pengemis, pembantu rumah tangga, perdagangan obat terlarang.

Sebab yang paling pokok dari hal tersebut adalah faktor kemiskinan. Saat ini, tercatat kira-kira 37 juta dari 205 juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Sejumlah 83 persen keluarga perkotaan dan 99 persen keluarga pedesaan membelanjakan kurang dari Rp 5.000 per hari. Waduh!!dasar negeri kapitalis!!

Padahal bukan hanya itu contoh yang disebut dengan eksploitasi anak. Kita cuma mengiyakan kalo yang namanya eksploitasi itu cuma karena faktor kemiskinan doank. Mayoritas yang jadi korban adalah anak-anak miskin yang nggak sekolah, nggak ngerti pendidikan dan sempit penghasilan. Mereka dipaksa kerja, banting tulang bahkan melakukan hal-hal yang nggak senonoh buat nambah uang. Tapi kita nggak sadar kalo bintang-bintang cilik yang sering nongol di televisi dan jadi idaman adek-adek kita juga adalah hasil eksploitasi. Kalo lucu…mereka dieksploitasi kehumorannya, kalo cakep, mereka dipake kemolekannya, kalo kaya mereka gunakan sejumlah hartanya supaya jadi terkenal. Padahal sang anak nggak ngerti apapun. Yang dia pahami cuma masuk tipi terus jadi orang terkenal, dicari-cari tanda tangannya, dan semua keinginannya dipenuhi. Nggak ngeh sama sekali dengan jumlah uang yang ia dapatkan, cara ngelolanya dan sebagainya. Bisa aja sih ortu cuma ongkang-ongkang terus dan nunggu si buah hati dapat panggilan dari produser. Yang nyari uang biar si bocah, tapi yang ngelola uangnya sang ortu. Yee…eksploitasi beneran kan.

Padahal pendidikan anak soal bener atau tidaknya sebuah persoalan sebelum mereka baligh alias dewasa adalah tanggung jawab ortu, dan bayaran artis itu jelas nggak boleh dalam Islam serta jelas keharamannya. Kalo nggak percaya buka deh buku Seni dalam Pandangan Islam karya Abdurrahman al Baghdadi terbitan GIP atau buku Jangan jadi Seleb-nya Mas Solihin. Jadi bener juga kata Harry Puspito dalam Kid’s World – The Future Market, di negeri yang serba kapitalis ini semua dinilai dengan tebalnya dompet dan nilai nominal di lembaran uang. Halal atau haram itu nomor 100 setelah nomor satu hingga 99-nya adalah duit.

Gimana Sikap Kita?

Kita semua udah siuman dan sadar kalo yang bikin sobat, ortu dan adek-adek kita jadi nggak karuan pemahaman, pikiran dan tingkah polahnya adalah akibat nggak berdaya ngadepi sistem sekuler (misahin agama dari kehidupan) dan kapitalis negeri ini. Nggak ada cara lain, yang kudu kita lakukan sebagai muslim…ingat bro…sebagai muslim!! Nggak lain dan nggak bukan kita kudu:
1. Ngasih pengertian sama mereka kalo yang selama ini mereka pandang bener adalah salah, terutama soal barat dan modernitasnya. Justru dengan ide mereka yang nggak jelas kita jadi terhina kayak gini. Eksploitasi anak dimana-mana, kebebasan merajalela, rakyat jadi sengsara dan kita pun nggak ngerti mana yang bener dan mana yang salah.

2. Ngasih solusi yang jelas, jadi nggak sekedar nyalahkan. Islam udah ngasih semua solusi buat kita. Dengan Islam kita bakal mulia. Itu udah kebukti selama 14 abad di muka bumi ini, mulai Rasulullah Muhammad Saw berdakwah di Mekkah hingga runtuhnya pemerintahan Islam yang mulia di tahun 1924 akibat politik kotor barat. Udah saatnya kita kembali!!.

“Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (TQS. An Nisa’ :141)

Jadi sobat, sekarng kita udah jadi bulan-bulanan ide-ide kisruh mereka. Nggak heran deh kita sekarang jadi kayak gini. Konser AFI yang lihat sampe ribuan, tapi kajian Islam yang datang aja itungan. Kalo udah seperti ini, dan kita nggak sadar..ya kebangeten deh! Muslimkah kita??? (dony).

Leave A Reply