Abu Dzar Al-Ghifari

0

 

 
Ahli kitab, Kristen dan Yahudi, memberikan kabar baik tentang akan munculnya seorang nabi baru yang waktunya akan segera tiba. Orang-orang arab mengabarkan hal itu. Mereka yang mengolok-olok berhala menunggu sejak lama kedatangan nabi itu.

Suatu hari, seseorang datang dari Makkah dan berkata pada Jundub, “Ada seorang lelaki di Makkah berkata bahwa tiada Tuhan selain Allah dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi.”
Jundub bertanya, “Dari suku manakah ia?”
Orang itu menjawab, “Ia berasal dari suku Quraisy.”
Jundub lalu bertanya lagi, “Dari keluarga (bani) mana ia berasal?”
Orang itu kemudian menjawab, “Dia berasal dari bani Hasyim.”
Jundub bertanya, “Apa yang dilakukan suku Quraisy padanya?”
Orang Makkah itu menjawab, “Mereka menuduhnya telah berbohong. Mereka berkata bahwa ia adalah tukang sihir dan orang gila.”
Orang itu pun kemudian pergi. Jundub pun berpikir dan berpikir lagi. Jundub berpikir untuk mengirim saudaranya, Anis ke Makkah untuk mendapatkan kabar tentang nabi baru itu. Anis pun kemudian berangkat ke Makkah. Anis menempuh ratusan mil perjalanan.
Dengan segera Anis pulang kembali untuk memberitahu saudaranya, “Aku telah melihat seorang laki-laki. Ia memerintahkan agar berperilaku baik dan menghindari perbuatan keji. Ia mengajak mereka agar menyembah Allah. Aku telah melihat ia berdoa di Ka’bah. Aku telah melihat seorang pemuda, yaitu Ali, berdoa di sampingnya. Aku juga telah melihat seorang wanita, istrinya, Khadijah berdoa di belakang mereka.”
Jundub bertanya, “Lalu, apa lagi yang kalu lihat?”
Anis menjawab, “Itulah yang kulihat. Tapi aku tak berani mendekatinya karena aku takut pada pemimpin Quraisy.”
Jundub tak puas dengan apa yang telah ia dengar. Lalu ia pun pergi menuju Makkah untuk mencari tahu tentang nabi itu. Ketika anak muda dari suku Ghifar itu tiba di Makkah, matahari sudah mulai tenggelam. Ia pun duduk di sudut Ka’bah untuk beristirahat dan berpikir bagaimana caranya bertemu dengan nabi baru itu.”
Hari telah malam. Ka’bah pun menjadi sepi. Sementara itu, datanglah seorang anak muda mendekati halaman Ka’bah. Dia mulai mengitari Ka’bah.
Pemudia itu melihat orang yang asing. Dia mendatanginya dan bertanya dengan sopan, “Anda bukan orang sini, bukan?”
Jundub menjawab, “Ya.”
Pemuda tadi berkata, “Mari kita ke rumahku.”
Jundub mengikuti saja anak muda itu tanpa berkata apa-apa. Pada pagi harinya, Jundub pun berterima kasih pada pemuda itu atas keramahannya. Jundub melihat pemuda tadi pergi menuju sumur Zam-zam untuk bertemu nabi saw.
Sekali lagi, pemuda itu datang dan mengelilingi Ka’bah. Dia melihat Jundub. Pemuda itu bertanya kepada Jundub, “Bolehkan aku tahu di mana rumahmu?”
“Tidak!” Kata Jundub.
Anak muda itu berkata lagi pada jundub, “Ikutlah denganku ke rumah.”
Jundub berdiri dan pergi ke rumah pemuda itu. Kali ini Jundub hanya diam saja, sehingga pemuda itu bertanya, “Tampaknya engkau sedang memikirkan sesuatu, apa keperluanmu?”
Dengan hati-hati, Jundub berkata, “Akan aku beri tahu jika engkau berjanji akan merahasiakannya.”
Pemuda itu menjawab, “Insya Allah aku akan merahasiakannya.”
Jundub merasa lega ketika mendengar nama Allah. Lalu dengan pelan ia berkata, “Aku telah mendengar tentang kemunculan seorang nabi di kota Makkah dan aku ingin melihatnya.”
Sambil tersenyum, pemuda itu menjawab, “Allah akan menuntunmu. Akan kutunjukkan rumah beliau. Ikuti aku, tapi jaga jarakmu. Jika aku melihat orang yang mencurigakan aku akan berhenti, seolah-olah aku sedang membetulkan sandalku. Maka engkau jangan berhenti dan teruskanlah jalanmu.”
Pemuda itu pergi menuju rumah nabi Muhammad saw dan Jundub mengikutinya. Jundub sampai ke tempat nabi saw dan bertemu dengan beliau. Jundub kini berada di hadapan manusia yang telah mewujudkan seluruh akhlak baik.
Nabi Muhammad saw bertanya pada tamunya, “Dari mana engkau berasal?”
Jundub menjawab, “Dari suku Ghifar.”
Nabi Muhammad saw bertanya, “Apa keperluanmu?”
Jundub berkata, “Bagaimana caranya aku dapat menjadi penganut agamamu?”
Nabi Muhammad saw berkata, “Dengan mengucapkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku adalah rasul Allah.”
Jundub bertanya lagi, “Apa lagi?”
Nabi saw menjawab, “Hindarilah perbuatan keji. Ikutilah akhlak yang baik. Berhentilah menyembah berhala. Sembahlah Allah semata. Jangan menghamburkan uangmu. Jangan menganiaya orang lain.”
Jundub sangat percaya pada Allah dan rasulullah saw sehingga ia berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau (Muhammad) adalah utusan-Nya. Aku telah puas dengan menjadikan Allah sebagai Tuhanku dan engkau sebagai rasulku.”
Saat itulah pribadi muslim yang baru telah lahir. Seorang sahabat besar, Abu Dzar Al-Ghifari yang memiliki nama asli Jundub bin Junadah.
Abu Dzar berdiri dan berkata dengan antusias, “Demi Allah, aku akan menyebarkan agama Islam.”
Sebelum Abu Dzar meninggalkan rumah nabi saw, dia bertanya pada nabi saw, “Siapa pemuda yang menunjukkan rumahmu padaku?”
Dengan bangga nabi Muhammad saw menjawab, “Dia adalah sepupuku, Ali.”
Nabi Muhammad saw menasihatinya, “Abu Dzar, rahasiakanlah keislamanmu dan pulanglah ke kampong halamanmu.”
Abu Dzar menyadari bahwa rasulullah saw mengkhawatirkannya karena orang Quraisy mungkin akan membunuhnya.
Ia berkata, “Demi Allah, aku akan menyebarkan Islam di antara orang-orang Quraisy apa pun risikonya.”
Pada pagi harinya, Abu Dzar pergi menuju Ka’bah, rumah suci Allah. Berhala-berhala itu diam di tempatnya. Abu Dzar berteriak lantang, “Wahai Quraisy, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah.”
Kaum kafir Quraisy terkejut. Salah seorang dari mereka berkata dengan lantang, “Siapa yang telah mengganggu Tuhan kita?”
Dengan membabi buta, mereka memukui Abu Dzar, sehingga ia jatuh pingsan. Darah mengalir dari tubuhnya.
Al-Abbas sepupu nabi Muhammad saw datang melerai dan menolongnya. Kemudian Al-Abbas berkata, “Terkutuklah kalian! Apakah kalian ingin membunuh orang dari suku Ghifar? Tidakkah kalian tahu bahwa kafilah dagang kalian melewati daerahnya?”
Abu Dzar siuman dan pergi ke sumur Zam-zam. Dia meminum air itu dan membasuh luka di tubuhnya.
Sekali lagi, Abu Dzar ingin menghadapi Quraisy dengan keyakinannya. Dia berjalan menuju Ka’bah. Dengan lantang ia berkata, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, tak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.”
Orang-orang Quraisy pun menyerangnya bagai serigala. Mereka menghajarnya. Dia kemudian pingsan dan jatuh ke tanah. Al-Abbas pun menyelamatkannya lagi.
Abu Dzar pergi menemui nabi Muhammad saw dengan sedih, nabi Muhammad saw menatapnya. Kemudian, dengan lembut nabi Muhammad saw berbicara padanya, “Kembalilah pada kaummu dan ajak mereka masuk Islam.”
Abu Dzar berkata, “Aku akan kembali pada kaumku dan takkan melupakan apa yang telah orang Quraisy lakukan padaku!”
Abu Dzar kembali ke sukunya dan mulai mengajak mereka menuju cahaya Islam. Maka, saudaranya Anis, ibunya dan setengah anggota sukunya pun memeluk agama Islam.
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply