•BUKAN HANYA SEKEDAR ISTRI•

0
Beberapa hari di Jakarta menjalankan tugas keumatan, saya punya janji kopdar dengan kerabat baru yang dipertemukan Allah lewat media sosial ini. Kebetulan saya lebih dulu datang ke lokasi yang kami sepakati, sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan.
Sambil menanti kedatangan kerabat baru ini, saya masuk ke sebuah toko buku yang namanya tidak asing lagi di telinga. Pandangan saya langsung tertuju ke rak-rak buku dengan kategori “Islam”. Awalnya saya hanya penasaran, buku religi apa saja yang dijual di toko buku besar ini.
Sedang asyik membaca buku-buku yang ada di rak, tiba-tiba muncul di rak depan saya seorang bapak dengan pakaian parlente, mengenakan kaos hitam berbalut jas santai abu-abu dengan sepatu mengkilap. Usianya kisaran 40 tahun, terlihat sukses karirnya dari penampilan menterengnya.
Sekilas, sepertinya bapak ini tertarik dengan buku-buku Islam yang ada. Termasuk ketika dia terhenti pada karya fenomenal guru saya -hafidzahullah- Ustadz Abu Fatiah Al-Adnani “Negeri-Negeri Penghafal Al-Quran”. Cukup lama bapak ini membolak-balik tertarik dengan buku ini. Sampai akhirnya ia menutup buku itu dan melangkah ke tumpukan mushaf Al Quran dengan beraneka ragam penerbit dan sampul variatifnya.
Terlihat asyik dan lama memilih mana mushaf yang memikat hatinya, sontak seorang wanita dengan kaos couple ketat sama dengan kaos yang dikenakan bapak itu berteriak nyaris keras mendekati si bapak, “Pah, cari apa? Al Quran? Emang dibaca ??!”
Mendadak waktu berhenti. Semua mata di sekitar kami tertuju ke bapak tadi yang tertangkap basah sedang memegang salah satu mushaf. Bapak ini pun terlihat nyaris tak bergerak merespon pertanyaan wanita yang ternyata adalah istrinya.
Lalu dengan spontan ia menjawab pelan sambil menahan malu karna semua mata memandangnya, “Engga kog mah, cuman lihat aja. Bagus sampulnya.”
Ya salaam. Hidayah yang nyaris saja menghampirinya tiba-tiba sirna hanya karna sepotong pertanyaan “dahsyat” sang istri.
Memang benar petunjuk hanyalah milik-Nya, bukan milik istri kita yang bisa kita minta kapan saja, bukan milik orang tua kita yang bisa diwariskan di hari senja. Tapi terkadang orang-orang terdekat kitalah yang menjadi penyebab cepatnya hidayah sampai ke hati kita. Atau justru sebaliknya, menjadi penghalang datangnya hidayah. Naudzubillah min dzalik.
Kejadian sekilas itu mendadak membuat saya mengingat istri di rumah. Rasa syukur tak terhingga, Allah anugrahkan untuk saya istri yang selalu menjaga hak-hak Allah. Selalu mengingatkan waktu dhuha, shalat witir, sedekah di pagi hari di mana saja saya bertugas. Menjaga kehormatannya di kala berjauhan, menjadi penyejuk mata ketika bersama.
Untukmu para istri, jadilah penghangat keimanan suamimu.
إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت
“Jika seorang istri menjaga shalat lima waktunya, berpuasa 30 hari di Ramadhannya, menjaga kehormatannya, senantiasa mentaati suaminya, dikatakan kepadanya: Masuklah surga dari pintu mana saja yang kau pinta”, demikian terang Baginda Rasulullah tercinta dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban yang dishahihkan Al-Albani.
Untukmu para suami, jadikan perhatianmu selalu istimewa untuknya, mendidik dan mendekatkannya pada ketaatan kepada Rabbnya.
Untukmu para pemuda, yang terpenting bukanlah cepat. Yang terpenting adalah tepat. Tepat menentukan siapa permaisuri bahtera ketaatanmu. Begitu seorang kawan berujar.
Wallahu a’lam.
Umaier Khaz,
24 Oktober 2016, di atas Kereta Api Senja Utama Solo (Perjalanan Jakarta–Solo)

Leave A Reply