Tiga Fenomena Yang Mempriahtinkan Di IAIN

0

Terakhir, perkara yang khusus adalah: saya memuji Allah swt yang telah memudahkan adanya muhadharah ini.

Namun saya sangat terheran-heran dan tidak habis pikir Perguruan Tinggi yang dengan bangga menyematkan label Islam, dibelakangnya ini yaitu al-Jami’ah al-Islamiyyah bukan al-Jami’ah al-Mukhalifah lil Islam, bukan Perguruan Tinggi yang ingin menolak Islam, saya menemukan di dalamnya tiga fenomena yang memprihatinkan:

  1. Banyak akhwat, Mahasiswi yang tidak mengenakan pakaian syar’i atau hijab Islami. Hijab yang dimaksud bukan hanya menutup kepala, tetapi menutup seluruh tubuh dan seluruh badan, tidak menampakkan bentuk tubuh dan perhiasan.
  2. Banyak pemuda, Mahasiswa yang duduk-duduk dengan Fatayat. Tidak mungkin pemuda itu ayahnya, saudaranya, atau suaminya. Kalaupun ada paling satu di antara seratus, sedang sisanya apa yang dilakukan di Perguruan Tinggi Islam ini?!
  3. Kita sekarang berada di rumah Allah, berdzikir kepada Allah menuntut ilmu Allah, dan saya sendiri datang dari jauh, dari balik Samudra Hindia, sementara saudara-saudara kita dengan santai ada yang duduk-duduk di pinggir jalan, ada yang di atas tangga, ada yang di halaman, ada yang di pojok sana dan pojok sini, mengapa tidak berkumpul di sini, di rumah Allah ini, mendengarkan dan mengikuti majelis ilmu, sesuai dengan do’anya: “Ya Rabb, tambahkan ilmu kepadaku”.

Harapan saya pada Institut (Agama Islam Negeri) Sunan Ampel ini, semoga pada kunjungan saya yang akan datang fenomena yang “menakjubkan” ini dapat dihilangkan atau dapat diminimalisir semaksimal mungkin.

Dr. Muhammad Musa Alu Al-Nashr

Pengantar Penerjemah

Pagi itu, tepat jam 09.00 WIB, Hari Rabu, 8 Desember 2004 saya bertugas menerjemah Tabligh Akbar yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Musa Al-Nashr di Masjid UIN (Universitas Islam Negeri) Malang.

Setelah acara dibuka oleh panitia, sambutan tuan rumah disampaikan oleh Ust. H. Ahmad Lalu Khusairi, MA, Staff Pasca Sarjana UIN. Dengan bahasa Arab yang fasih Ustadz Ahmad menjelaskan kondisi bangsa Indonesia yang rata-rata tidak mensyukuri nikmat akal. Oleh karena itu tidak heran bila acara-acara pengajian dan majlis ilmu yang lain tidak diminati, tetapi acara-acara yang bersifat sia-sia, hiburan, permainan (bahkan yang bid’ah dan maksiat) dibanjiri oleh pengunjung, meskipun harus dengan membayar mahal. Oleh karena itu Ustadz Ahmad menghimbau agar hadirin menyimak apa yang akan disampaikan oleh yang mulia Syaikh Muhammad Musa.

Setelah itu, saya selaku penerjemah memberikan mukaddimah singkat sebelum Tabligh Akbar dimulai. Saya terangkan bahwa tamu kita kali ini adalah Fadhilah al-Syaikh DR. Abu Anas Muhammad ibn Musa Alu Al-Nashr. Beliau adalah Doktor di bidang tafsir. Beliau juga praktisi al-Thibb al-Nabawi (ilmu pengobatan Nabi). Beliau juga seorang atlit angkat besi dan tembak. Beliau salah satu murid senior dari Syaikh Nashiruddin al-Albani. Dan beliau telah menulis lebih dari 40 kitab. Antara lain adalah: Manhaj al-Salamah Fi ma Warada Fi al-Hijamah, Ma’alim al-Manhaj al-Nabawi Fi al-Dakwah ila Allah, al-Aql wa Manzilatuhu Fil Islam, Bida’ al-Qurra’, dll.

Setelah itu Syaikh Abu Anas memulai ceramahnya di hadapan 200-an civitas akademika UIN dan Perguruan Tinggi lain yang menyempatkan diri untuk mengikuti majlis tersebut.

Setelah Syaikh Muhammad Musa berceramah tentang factor keberuntungan, maka ada dialog.

Dikutip dari: Ada Pemurtadan Di IAIN; H. Hatono Ahmad Jaiz; Pustaka Al-Kautsar; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.