Tidak Memenuhi Hak-hak Pekerja

0

Dalam hubungan antara pemilik usaha dengan pekerja, nabi shollaulohu alaihi wassalam menganjurkan disegerakannya pemberian hak pekerja, beliau bersabda:

Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.[1]

Salah satu bentuk kezhaliman di tengah masyarakat muslim adalah tidak memberikan hak-hak pegawai, perkerja, karyawan atau buruh sesuai dengan yang semestinya.

Bentuk kezhaliman itu beragam di antaranya:

  1. Sama sekali tidak memberikan hak-hak pekerja, sedang si pekerja tidak memiliki bukti. Dalam hal ini, meskipun si pekerja kehilangan haknya di dunia, tetapi di sisi Allah ta’ala pada hari kiamat kelak, hak tersebut tidak hilang. Orang zhalim itu karena telah memakan harta orang yang dizhaliminya, diambil daripadanya kebaikan yang pernah ia lakukan untuk diberikan kepada orang yang dizhalimi. Jika kebaikannya telah habis, maka dosa yang ia zhalimi itu diberikan kepadanya, lalu ia dicampakkan ke neraka.
  2. Mengurangi hak pekerja dengan cara yang tidak dibenarkan. Allah ta’ala berfirman:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (QS. Al-Muthaffifin: 1).

Hal itu sebagaimana banyak dilakukan pemilik usaha terhadap para pekerja yang dating dari daerah. Di awal perjanjian, mereka sepakat terhadap jumlah upah tertentu. Tetapi jika si pekerja telah terikat dengan kontrak dan memulai pekerjaannya, pemilik usaha mengubah secara sepihak isi perjanjian, lalu mengurangi dan memotong upah pekerjanya dengan berbagai dalih. Si pekerja tentu tidak bisa berkutik dengan posisinya yang serba sulit; antara kehilangan pekerjaan dan upah yang di bawah batas minimum. Bahkan terkadang si pekerja tak mampu membuktikan hak yang mesti ia terima, akhirnya si pekerja hanya bisa mengadukan masalahnya kepada Allah ta’ala.

Jika pemilik usaha yang zhalim itu seorang muslim sedagn pekerjanya seorang kafir, maka kezhaliman yang dilakukannya termasuk bentuk menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, sehingga dia-lah yang menanggung dosa orang tersebut.

  1. Member pekerjaan atau menambah waktu kerja (lembur), tetapi hanya memberikan gaji pokok dan tidak memperhitungkan pekerjaan tambahan dan waktu lembur.
  2. Mengulur-ulur pembayaran gaji, sehingga tidak memberikan gaji kecuali setelah melalui usaha keras pekerja, baik berupa pengaduan, tagihan hingga usaha lewat pengadilan.

Mungkin maksud pengusaha menunda-nunda pemberian gaji agar si pekerja bosan, lalu meninggalkan hak-nya dan tidak lagi menuntut. Atau selama tenggang waktu tertentu, ia ingin menggunakan uang pekerja untuk suatu usaha. Tidak mustahil ada yang membungakan uang tersebut, sedang pada saat yang sama, para pekerja merana tidak mendapatkan apa yang dimakan sehari-hari, juga tak bisa mengirim nafkah kepada keluarga dan anak-anaknya yang sangat membutuhkan, padahal demi mereka-lah para pekerja itu membanting tulang jauh di negeri orang.

Sungguh celaka-lah orang yang zhalim itu, kelak pada hari kiamat mereka akan mendapat siksa yang sangat pedih dari Allah ta’ala. Dalam riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu anhu disebutkan, bersabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam: Allah ta’ala berfirman:

Tiga jenis (manusia) yang Aku menjadi musuhnya kelak pada hari kiamat, laki-laki yang member dengan nama-Ku, lalu berkhianat. Laki-laki yang menjual orang merdeka (bukan budak) lalu memakan harga uang hasil penjualannya. Laki-laki yang mempekerjakan orang lain, sehingga ia memenuhi pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan upahnya.[2]

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Ibnu Majah, 2/817; Shahihul Jami’ 1493 (lebih bijaksana jika dikomentari tentang derajat hadits, sebab ia termasuk hadits dhaif).

[2] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 4/447.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.