Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil

0

Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan umat manusia. Di antaranya soal menghilangkan najis. Islam mensyari’atkan agar umatnya melakukan istinja’ (cebok dengan air) dan istijmar (membersihkan kotoran dengan batu), lalu menerangkan cara melakukannya sehingga tercapai kebersihan yang dimaksud.

Sebagian orang menganggap enteng masalah menghilangkan najis. Akibatnya badan dan pakaiannya masih kotor. Dengan begitu, shalatnya menjadi tidak sah. Rasulullah shollaullohu alaihi wassalam mengabarkan bahwa perbuatan tersebut merupakan salah satu sebab azab kubur.

Ibnu Abba radhiallahu anhu berkata, “Suatu ketika rasulullah shollaullohu alaihi wassalam melewati kebun di antara kebun-kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Lalu nabi shollaullohu alaihi wassalam bersabda:

“Keduanya diadzab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggapan keduanya), lalu bersabda: “Benar.” (dalam riwayat lain: “Sesungguhnya ia masalah besar.”) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satunya lagi suka mengadu domba.”[1]

Beliau nabi shollaullohu alaihi wassalam mengabarkan:

“Kebanyakan adzab kubur disebabkan oleh buang air kecil.”[2]

Termasuk dalam katagori ini, tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis atau sengaja kencing dalam posisi tertentu, atau di suatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya, atau sengaja meninggalkan istinja’ dan istijmar tidak teliti dalam melakukannya.

Saat ini, banyak umat islam yang menyerupai orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar masuk kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakaiannya dan mengenakannya dalam keadaan bernajis.

Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan. Pertama, ia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia. Kedua, ia tidak cebok dan membersihkan diri dari kencingnya.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 1/317.

[2] Hadits riwayat Ahmat; 2/236, Shahihul Jami’; 1213.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.